Senandung Terasing Lia di Tepian Sungai Balangtieng

Di kebun itu, waktu menguap seperti embun yang enggan menyentuh tanah. Lia, gadis yang dikecup sunyi, tinggal di antara tanaman-tanaman yang tumbuh bukan karena tangan manusia, tapi karena lahir dari...

Senandung Terasing Lia di Tepian Sungai Balangtieng
Bacakan Artikel

Suatu hari, Lia melihat pemuda itu berdiri di tepi sungai, tubuhnya dikelilingi oleh sampah yang berserakan. Dia membungkuk, mengangkat botol plastik dari air keruh dan membuangnya ke dalam kantong besar di sampingnya. Pemuda itu, dengan sabar, membersihkan sungai itu seorang diri, seakan-akan ia sedang berusaha menyembuhkan sesuatu yang rusak, sesuatu yang lebih dari sekadar sungai.

Lia berdiri jauh, menyaksikan, tak mengatakan sepatah kata pun. Ada sesuatu yang aneh tentang pemandangan itu—seorang pria yang tak dikenal, memunguti sampah di sungai yang tak lagi dianggap penting oleh siapa pun di desa. Kebun diam, seperti merasakan sesuatu yang tak biasa. Lia tahu bahwa pemuda itu tak hanya membersihkan sungai; dia sedang membersihkan dirinya sendiri, mungkin juga membersihkan sesuatu yang tersembunyi dalam kebun ini.

Malam harinya, pemuda itu kembali ke kebun dengan tangan penuh lumpur dan luka kecil di jari-jarinya. Dia tak mengeluh, hanya duduk di tepi kebun, napasnya berat, tapi senyumnya ringan. Lia melihatnya dalam diam, merasa ada sesuatu yang berbeda. Mungkin kebun ini, pikir Lia, sedang berbicara dengan cara yang lain sekarang—bukan lewat angin atau bisikan pohon, tapi melalui tangan-tangan asing yang berusaha merawat dunia yang telah lama ia tinggalkan.

Malam-malam berikutnya, Lia menemukan dirinya semakin sering melihat pemuda itu. Bukan hanya saat dia bekerja di kebun atau membersihkan sungai, tapi dalam pikirannya. Ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya—kehadiran pemuda ini seperti benih yang tak diundang, tumbuh di tanah yang selama ini hanya menjadi miliknya.

Pemuda itu, meskipun tampak seperti gangguan awalnya, mulai menjadi bagian dari ritme kebun. Dia tak banyak bicara, dan sering hanya duduk, membersihkan sungai atau membantu Lia dengan tanaman-tanaman di kebun. Lia merasa, dengan cara yang tak pernah ia duga, keheningan yang dulu begitu akrab kini terasa berbeda. Keheningan ini terasa penuh, bukan kosong.


Dan kemudian, suatu sore, pemuda itu tak datang. Lia menunggu, di tengah kebun, dengan perasaan yang tak bisa ia sebutkan. Pemuda itu telah menjadi bagian dari kebunnya, meskipun ia tak pernah memintanya. Tapi kali ini, kebun terasa kosong lagi, seperti sebelum dia datang.

Hingga pagi berikutnya, ketika Lia menyadari bahwa pemuda itu sudah pergi untuk selamanya. Di dekat kuburan kakeknya, Lia menemukan sebuah kotak kecil yang ditinggalkan di bawah pohon tua. Dengan tangan gemetar, Lia membukanya. Di dalam kotak itu ada foto-foto lama, foto pemuda itu, berdiri di samping kakek Lia di tepi Sungai Balangtieng bertahun-tahun yang lalu. Dalam foto itu, pemuda itu tampak muda, sangat mirip dengan dirinya sekarang—terlalu mirip.

Dan tiba-tiba, semuanya masuk akal. Pemuda itu bukan hanya mahasiswa KKN yang tersesat. Dia adalah bagian dari masa lalu kebun ini, seseorang yang pernah hadir di sini, bertahun-tahun lalu, dan kini kembali dalam bentuk yang tak bisa dijelaskan. Lia tahu, dalam hatinya, bahwa pemuda itu adalah kenangan yang kembali untuk memperbaiki sesuatu yang hilang—sungai yang tercemar, kebun yang hampir terlupakan, dan cinta yang pernah ada, namun tak pernah disadari.

Pemuda itu telah membersihkan bukan hanya sungai, tetapi kebun di dalam dirinya. Lia menutup kotak itu dengan hati yang penuh, dan meskipun sunyi kembali menghampiri, kali ini, sunyi itu terasa seperti sahabat lama yang tak lagi menyakitkan. Dan Lia tetap enggan beranjak ke kota.*

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2