Senandung Terasing Lia di Tepian Sungai Balangtieng

Di kebun itu, waktu menguap seperti embun yang enggan menyentuh tanah. Lia, gadis yang dikecup sunyi, tinggal di antara tanaman-tanaman yang tumbuh bukan karena tangan manusia, tapi karena lahir dari...

Senandung Terasing Lia di Tepian Sungai Balangtieng
Bacakan Artikel

Di kebun itu, waktu menguap seperti embun yang enggan menyentuh tanah. Lia, gadis yang dikecup sunyi, tinggal di antara tanaman-tanaman yang tumbuh bukan karena tangan manusia, tapi karena lahir dari banyak keajaiban yang tak bisa dilawan. Daun-daun berbisik padanya dalam bahasa yang tak pernah diajarkan, dan angin sesekali membawa pesan yang tidak pernah selesai. Lia adalah penjaga kebun, pengembara yang tak pernah pergi, karena di tanah ini kakeknya beristirahat, dan di tanah ini pula, napas Lia melekat pada akar-akar yang menjalar lebih dalam dari sekadar bumi.

Namun, suatu ketika, di sebuah sore yang tak diundang, suara itu datang. Bukan suara dedaunan atau semilir angin yang biasa ia dengar, tetapi langkah-langkah berat yang mematahkan ranting seakan menghancurkan kesunyian dengan brutal. Lia mengangkat kepala, matanya menangkap bayangan asing—sesosok tubuh yang tampak terlalu nyata untuk kebun ini. Ia tak mengenal kehadiran yang keras di kebun yang biasanya lembut.

Di bawah pohon tua, pemuda itu berdiri. Wajahnya mengilap oleh keringat, ransel besar menggantung di punggungnya seperti beban dari dunia lain, dunia yang Lia tak inginkan. Pemuda itu mengerutkan dahi, bingung, seolah telah melangkah ke tempat yang tidak ada dalam peta.

"Ini... kebun Lia?" katanya, suaranya bergetar seperti daun yang disentuh oleh angin pertama.

Lia tak menjawab. Matanya menyipit, seolah sedang menilai apakah bayangan itu nyata atau hanya ilusi lain yang diciptakan oleh kebun. Mungkin kebun ini, dengan segala bisikannya, mulai bercanda padanya—menciptakan sosok yang begitu keras di antara kelembutan akar-akar dan bunga-bunga yang mekar tanpa suara.

Namun pemuda itu tetap berdiri di sana, dengan kikuknya yang mengganggu keheningan. Tubuhnya tampak seperti sesuatu yang tak seharusnya ada di kebun ini, sesuatu yang tiba-tiba muncul dari tempat yang jauh dan penuh keramaian, yang tak pernah Lia sentuh lagi sejak dunia luar meninggalkannya.

“Mahasiswa KKN,” pemuda itu berkata, seolah nama itu memiliki makna magis yang bisa memecah kebisuan. “Aku harus... tinggal di sini beberapa bulan. Bantu masyarakat.”

Lia tertawa dalam hatinya. Masyarakat? Di sini, hanya ada kebun dan kuburan. Masyarakat adalah kata asing, seperti ombak yang tak pernah mencapai tepi. Ia tahu dunia luar, yang hiruk-pikuknya ia tinggalkan, masih ada. Tapi di kebun ini, hiruk-pikuk hanya terdengar sebagai gema yang jauh. Dan kini, seorang pemuda, dengan kemeja kusut dan keringat yang menetes, telah tersesat ke dalam sunyinya.

Namun, pemuda itu, entah bagaimana, tetap di sana. Seperti batu yang tak sengaja terjatuh dari bukit, ia tak segera pergi, seakan ada sesuatu di kebun yang menahannya. Lia mengangguk setengah hati, karena tak ada lagi yang bisa dilakukan. Pemuda itu membuka pintu dunianya, duduk di pinggir pondok, matanya menatap langit yang sama sekali tak sama dengan langit yang pernah ia kenal.


Hari-hari berjalan. Lia diam, pemuda itu berbicara. Seperti percakapan antara batu dan air, pemuda itu mencoba mengikis permukaan, sementara Lia, tak bergerak, hanya menunggu air itu habis. Namun air tak pernah habis. Setiap hari, pemuda itu datang dengan cerita-cerita dari tempat-tempat yang Lia tak lagi peduli. Tentang kota, tentang orang-orang yang sibuk mengejar hal-hal yang tak Lia pahami. Namun di balik cerita itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh.

Pemuda itu sering mengunjungi Sungai Balangtieng, sungai yang mengalir tak jauh dari kebun, tempat di mana kakek Lia dulu sering pergi memancing. Sungai itu sekarang dipenuhi sampah yang terhanyut dari desa. Plastik-plastik, kaleng-kaleng, sisa-sisa kehidupan modern yang menghancurkan ketenangan alam. Sungai yang dulu mengalir dengan lembut kini berbau, seperti luka terbuka di tengah alam yang menolak untuk sembuh.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2