Ruang Publik Perkotaan yang Lebih Cair dengan Lomba Senam Longwis

Klikhijau.com – Kota memang bising dan riuh dengan segenap problematikanya, namun kepenatan warga kota cenderung menumpuk dalam kepala tiap individu. Karenanya, diperlukan satu ruang dimana tercipta k...

Ruang Publik Perkotaan yang Lebih Cair dengan Lomba Senam Longwis
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Kota memang bising dan riuh dengan segenap problematikanya, namun kepenatan warga kota cenderung menumpuk dalam kepala tiap individu. Karenanya, diperlukan satu ruang dimana tercipta keterhubungan rasa satu sama lain. Melalui interaksi atau pengalaman-pengalaman kesenian, pesta rakyat, perlombaan olahraga dan lainnya.

Sayangnya, ruang temu itu nihil dijumpai. Jika pun ada, sifatnya cenderung sporadis dan politis. Tidak diusung dari akar rumput atas panggilan semangat kewargaan (citizenship).

Ruang publik minim sensasi

Ruang publik kita yang basisnya nature (alam terbuka) memang belumlah memberi sensasi keterhubungan antar personal.

Ada dua masalah serius tampaknya mengapa ruang publik itu tidak fungsional, pertama karena memang tidak menawarkan desain fisik yang memadai. Selain memang karena di beberapa kota, ruang publik amat terbatas, tidak terurus dan nihil estetika ruang. Kedua, tiadanya sensasi di ruang publik tersebut katakanlah di taman kota yang bisa membawa warga pada satu pengalaman kolektif.

Sebagai contoh, taman kota membuat pagelaran rutin baik itu bertema seni budaya atau olahraga yang memungkinkan ada interaksi dan luapan rasa bersama. Jadi, orang-orang bisa hadir tak sekadar killing time dan larut dalam renung sendirian, tetapi dapat terlibat dalam suatu atraksi sosial misalnya.

Besar kemungkinan dua hal ini yang membuat ruang publik perkotaan hanya sekadar sampiran tata ruang kota. Padahal, di tengah keriuhan dunia perkotaan dengan selaksa masalah yang mendera warganya, warga kota butuh ruang temu.

Hal inilah yang terbayang dalam benak saya ketika melihat kemeriahan para peserta lomba senam ‘Longwis’ di lapangan kecil Perumnas Antang Kecamatan Manggala Kota Makassar, Minggu (23/07).

Tidak sekadar lomba yang saling mempertemukan lintas warga, kegiatan ini rupanya menjelma jadi panggung rakyat. Para warga berduyung-duyung menyaksikan pagelaran skala kecil ini dengan riang. Ruang interaksi tersedia di sela-sela kegiatan. Warga menikmati perlombaan senam sekaligus tenggelam dalam satu niatan terdalam penyelenggaranya: membangun keakraban warga lewat olahraga.

Penyelenggaraan kegiatan murni menggerakkan sumber daya komunitas, warga dan pelibatan multi-stakeholders. Hal itu terlihat pada keterlibatan warga di sekitar Perumnas Antang. Mereka menyambut baik terlaksananya kegiatan dengan hadir langsung menyaksikan prosesi lomba. Suasana meriah tampak jelas dari raut wajah para penonton yang hadir.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2