Resistensi Perempuan sebagai Elan Vital Pergerakan Ekofeminisme di Indonesia

Klikhijau.com -  Resistensi perempuan Indonesia dalam melawan ketidakadilan sosial bertumbuh sebagai pertanda menguatnya kesadaran kultural yang murni mengartikulasi perjuangan arus bawah. Di saat...

Resistensi Perempuan sebagai Elan Vital Pergerakan Ekofeminisme di Indonesia
Bacakan Artikel

Klikhijau.com -  Resistensi perempuan Indonesia dalam melawan ketidakadilan sosial bertumbuh sebagai pertanda menguatnya kesadaran kultural yang murni mengartikulasi perjuangan arus bawah.

Di saat banyak perempuan seperti Mama Yosepha, Mama Aleta Baun, almarhumah Yu Patmi, Yu Sukinah, Ibu-Ibu petani Kendeng, dan perempuan-perempuan lain yang berusaha untuk mempertahankan ruang hidupnya hingga bertaruh nyawa, kita melihat dunia semakin di ambang batas dan krisis sosial-ekologis yang semakin nyata.

Ketika para perempuan-perempuan yang terus-menerus memperjuangkan hak demi alam yang lestari tersebut secara radikal terus memaksa kita berpikir ulang mengenai developmentalisme, kita melihat semakin naiknya arogansi jargon-jargon modernitas.

Bagaimanakah bentuk resistensi yang dilakukan oleh perempuan tangguh semacam ini?

[irp]

Resistensi perempuan, mematahkan Stereotip

“Siapa aktor intelektualnya?” “siapa dalang di balik ini semua?” atau bahkan “siapa yang telah memprovokasinya?” Pasti akan ada yang sibuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan ini jika perempuan melakukan perlawanan, alih-alih perlawanannya sangat masif.

Memang sudah jamak diketahui bersama, kalau rakyat macam petani, ibu rumah tangga, warga masyarakat terpencil selalu dianggap tak mempunyai power. Serta dianggap tak tahu apa-apa dalam memahami problema.

Mereka distigma tidak berpendidikan, dungu, hanya karena tak mencecap pendidikan tinggi, sehingga mustahil berinisiasi melakukan resistensi.

Bias kelas dan bias kota juga melatarbelakanginya. Agenda-agenda perlawanan dicap sebagai gerakan khas kaum terdidik saja.

Petani dan ibu-ibu desa dianggap tak mampu melakukan gerakan karena tak punya dasar. Tak pernah membaca buku, tak melek informasi mengenai ekonomi dan politik.

[irp]

Selain itu, pandangan romantik untuk desa sebagai tempat nihil konflik, selalu damai dan gemah ripah lohjinawe. Para petani yang tinggal di desa, di pedalaman, di tempat-tempat yang jauh dari pusat ekonomi dan politik dan hiruk pikuk modernitas, dibayangkan sebagai makhluk-makhluk yang stabil, sangat toleran, dan  memahami segalanya dalam kerangka takdir.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: