Kabar Buruk, Populasi Burung Alami Penurunan di Seluruh Dunia

oleh -50 kali dilihat
Pengalaman Mengamati Burung Kacamata Laut yang Memikat Hati
Burung Kacamata Biru - Foto/Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Burung menjadi salah satu satwa yang banyak diburu. Satwa ini juga banyak diperjual belikan secara bebas alias ilegal.

Perburuan dan perdagangan burung marak dengan berbagai alasan. Ada yang berburu untuk dimakan, ada pula sekadar mengobarkan hobinya—hobi yang tak bertanggung jawab.

Hal lain yang memicu perburuan burung karena memiliki harga yang menggiurkan (untuk jenis burung tertentu). Pun menjadi hewan peliharaan yang menggemaskan.

Karena itu, ancaman kepunahan burung semakin mengkhawatirkan. Ditambah lagi dengan datangnya perubahan iklim. Membuatnya semakin tersudut.

KLIK INI:  Perihal Hewan Peliharaan dan Sehimpun Kata-Kata Bijak Mengenainya

Bird Ecology and Conservation Ontario (BECO)  sebagaimana dilansir dari Earth, telah memimpin sebuah studi baru.

BECO merupakan sebuah organisasi nirlaba. Mereka menggunakan penelitian ekologi untuk memajukan konservasi burung.

Hasil yang mereka temukan adalah bahwa 47 persen spesies burung dengan tren populasi yang saat ini tidak diketahui sedang mengalami penurunan.

Secara global, prediktor teratas yang terkait dengan penurunan populasi burung adalah populasi yang sangat terfragmentasi.

Penting untuk ekosistem

Burung yang paling rentan yang ditemukan oleh studi itu, adalah jenis burung yang tidak melakukan migrasi di hutan tropis dan subtropis Amerika Selatan dan Asia Tenggara .

KLIK INI:  Sugar Glider, Hewan Kecil yang Lucu dan Menggemaskan

“Burung sangat penting untuk berfungsinya ekosistem Bumi. Namun, penurunan populasi burung telah didokumentasikan di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Diperlukan penilaian global tentang penyebab potensial penurunan populasi,” tulis penulis penelitian tersebut.

Pihak BECO mengemukakan bahwa  tujua studi itu adalah untuk menggabungkan kekuatan data besar dan pembelajaran mesin.

Penggabungan itu untuk mengidentifikasi prediktor yang berkorelasi dengan penurunan populasi burung.

Selain itu, juga  untuk memprediksi penurunan populasi untuk spesies dengan tren populasi yang tidak diketahui di daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Awalnya, untuk melatih dan menguji model pembelajaran mesin yang mereka buat. Para peneliti mengumpulkan data tingkat spesies terperinci untuk 10.964 spesies burung dari seluruh dunia.

Cara yang ditempuh adalah dengan tren populasi yang diketahui. Kemudian, mereka menggunakan model kecerdasan buatan ini untuk menganalisis 801 spesies burung dengan tren populasi yang sebelumnya tidak diketahui.

KLIK INI:  Di Antara 50 Miliar Burung Liar, Ini 4 Spesies Burung Paling Dominan!

Hasilnya model tersebut memperkirakan bahwa hampir setengah atau sekita 47 persen dari spesies burung tersebut, saat ini sedang mengalami penurunan populasi.

Dampak besar terhadap ekosistem

Para peneliti mengungkapkan bahwa penyebab utama penurunan adalah hilangnya habitat dan fragmentasi.

“Populasi yang mengalami fragmentasi habitat tunduk pada stokastisitas demografis, lingkungan dan genetik yang lebih besar, dan karenanya risiko kepunahan yang lebih tinggi,” tulis penulis penelitian.

Sebelum adanya penelitian yang dilakukan oleh BECO. Ada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hilangnya habitat dan fragmentasi adalah pendorong utama penurunan populasi burung.

“Hasil kami mendukung hipotesis ini, karena populasi yang sangat terfragmentasi muncul sebagai prediktor teratas yang menjelaskan penurunan populasi burung di seluruh dunia, ”tulis penulis penelitian tersebut

Penurunan populasi itu menjadi alarm bahaya, karena mereka dapat memiliki dampak yang sangat besar pada berbagai ekosistem di seluruh dunia. Karena itu, mereka sangat membutuhkan perhatian segera dari para konservasionis dan pembuat kebijakan.

Peran burung sangat besar terhadap ekosistem, karena mereka memainkan peran ekologis yang penting seperti penyerbukan, penyebaran benih, dan siklus nutrisi.

KLIK INI:  Dua Masalah Klasik Saat Membuat Eco Enzyme, Penyebab dan Solusinya