Sampah Elektronik, Ancaman Baru yang Memerlukan Perhatian Serius

Publish by -36 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Sampah Elektronik, Ancaman Baru yang Memerlukan Perhatian Serius
Ilustrasi sampah elektronik - Foto/Newsmedia

Klikhijau.com – Sampah elektronik (e-waste), jadi ancaman baru di masa depan. Hal ini disebabkan oleh tingginya pemakaian barang-barang elektronik seiring tawaran kecanggihan teknologi dan persaingan harga yang ketat.

Bisa dibayangkan, berapa kali dalam setahun misalnya setiap orang mengganti handphone, komputer, televisi dan perangkat elektronik lainnya di rumah. Dalam kondisi rusak, benda-benda elektronik akan berujung sebagai sampah yang dibuang.

Data sampah elektronik

Data dari Environmental  Protection Agency (EPA) menunjukkan ada 41,8 juta ton limbah elektronik diproduksi di seluruh dunia setiap tahun (2014). Lebih dari 416.000 perangkat seluler dan 142.000 komputer dibuang begitu saja, ketimbang didaur ulang.

EPA juga mencatat, Amerika Serikat menjadi negara produsen sampah elektronik terbesar di dunia. Amerika menghasilkan hampir tiga puluh persen dari e-waste dunia, lebih dari 11,7 juta ton per tahun (2014).

KLIK INI:  Limbah Pustaka, Membangun Generasi di Antara Sampah dan Buku-Buku

Secara global, e-waste diproyeksikan akan tumbuh hingga 8 persen per tahun. Angka ini menunjukkan perlunya upaya serius untuk daur ulang agar tak terbuang ke lingkungan.

Di Indonesia misalnya, perlakuan terhadap sampah elektronik umumnya diperlakukan sebagaimana sampah lainnya. Dengan frekuensi pemakaian yang tinggi setiap rumah tangga akan menghasilkan e-waste setiap saat.

Sementara skema daur ulang atas sampah elektronik belum terpikirkan sepenuhnya. Faktanya, benda-benda elektronik sebagian besar mengandung timbal dan merkuri yang berisiko pada kesehatan manusia.

Jika dilepaskan ke lingkungan, jumlah timbal yang berlebihan dalam limbah elektronik, dapat menyebabkan kerusakan parah pada darah manusia dan ginjal, dan sistem saraf pusat dan perifer. Lihat secara lengkap bahaya sampah elektronik di Sini!

KLIK INI:  Indonesia dan Inggris Resmi Bekerja Sama di Bidang Perkayuan

Sebuah penelitian mengidentifikasi bahwa memproduksi satu komputer misalnya membutuhkan setidaknya 1,5 ton air, 48 lbs bahan kimia, dan 530 lbs bahan bakar fosil.  Atau ada telepon seluler yang dimiliki seseorang dengan baterai yang tidak berfungsi yang berakhir di tempat pembuangan sampah yang mengandung logam mulia seperti perak dan emas.

Dilansir dari sumber terpercaya, orang Amerika membuang sekitar $ 60 juta perak dan emas per tahun dengan melemparkan ponsel lama di tempat pembuangan sampah.

Jadi, selain berkaitan dengan penggunaan sumber daya alam yang tinggi terhadap produksi barang elektronik, kandungan emas dan perak dalam sampah elektronik sebetulnya bisa jadi potensi bila terkelola dengan baik.

Skema daur ulang belum terarah

Orang Indonesia ternyata masih punya kebiasaan memperbaiki barang elektroniknya. Hal ini dianggap satu cara meminimalisir aksi buang barang elektronik secara langsung. Sebagai contoh LCD TV yang rusak dapat diperbaiki dan dijual kembali.

KLIK INI:  Sayembara Berhadiah Uang Digelar Demi Menangkap Pembuang Sampah di Selokan Mataram

Nah, cara yang lainnya adalah dengan membuat drop-box lokal atau pick-up tahunan di lokasi yang ditentukan. Pengumpulan khusus sampah elektronik misalnya sudah pernah diupayakan di DKI Jakarta sejak dua tahun lalu.

Tetapi studi merekomendasikan bahwa individu dan bisnis tidak hanya mempertimbangkan daur ulang, tetapi perlu lebih fokus pada pengurangan jumlah limbah elektronik yang dihasilkan dengan mengurangi konsumsi barang elektronik.

Maka dari itu, proses daur ulang yang tepat perlu dilakukan untuk meminimalisir terjadinya efek buruk dari limbah racun tersebut.

Meskipun E-Waste merupakan sampah yang sulit untuk didaur ulang. Oleh perusahaan pengelola sampah dengan teknologi dan tingkat keamanan yang sesuai, sampah elektronik atau E-Waste akan dipisahkan antara komponen yang masih berguna seperti metal, plastik, kaca, dengan komponen yang mengandung racun.

Komponen yang aman pada sampah elektronik bisa didaur ulang untuk menjadi barang berguna lainnya. Tetapi memperpanjang masa pakai juga akan memperpanjang aliran e-waste dan aliran B3.

Terlepas dari itu semua, harus diakui jika orang Indonesia belum teredukasi mengenai penanganan dan daur ulang sampah elektronik. Tak jarang, sampah jenis ini kita jumpai berserakan di mana-mana.

Skema daur ulang e-waste di Indonesia belum terarah—ini tentu pekerjaan rumah mendesak!

KLIK INI:  Apakah Kau Kekasih?
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!