Menstabilkan Populasi Satwa Liar dengan Perburuan yang Diatur

oleh -39 kali dilihat
Meretas Jalan Satwa Liar Kembali ke Alam di Masa Covid-19
Kelelawar/foto-padangkita

Klikhijau.com – Menstabilkan populasi satwa liar. Jadi tantangan tersendiri. Apalagi ketika sumber makanan mereka semakin menipis.

Agar satwa liar mampu bertahan hidup dengan populasi yang tak terlalu melonjak. Diperlukan penerapan satu metode untuk mengatasinya.

Salah satu cara yang ditawarkan oleh sebuah studi dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia, yang diterbitkan dalam jurnal Ecology Letters, adalah melalui perburuan dan peraturan satwa liar lainnya.

Cara ini diyakini dapat membantu menstabilkan populasi hewan. Dengan  menggunakan model statistik dan simulasi untuk menganalisis dampak perburuan yang diatur terhadap populasi hewan. Salah satu model dikembangkan khusus untuk rusa Svalbard.

KLIK INI:  Tetap Setia, 19 Tahun Manggala Agni Beraksi Melawan Karhutla

Para ahli melaporkan bahwa bahkan panen rendah hingga sedang dapat membantu hewan yang tersisa bertahan dari cuaca ekstrim dan perubahan iklim.

“Pemanenan atau cara lain untuk mengatur populasi hewan terkadang dapat memiliki efek positif dengan mengurangi persaingan untuk mendapatkan makanan,” kata Bart Peeters, yang merupakan  pemimpin penulis studi tersebut.

Peeters juga mengungkapkan bahwa kondisi penggembalaan musim dingin yang buruk, seperti lapisan salju yang tebal atau es di tundra, meningkatkan persaingan untuk mendapatkan makanan.

“Ini berdampak kecil ketika populasinya kecil dan hanya sedikit hewan yang bersaing untuk mendapatkan makanan. Tetapi dalam populasi yang lebih besar, banyak hewan akan mati kelaparan ketika kondisi cuaca buruk mengurangi sumber daya yang tersedia,” tambahnya.

Di bawah kondisi cuaca ekstrim, seperti selama bulan-bulan musim dingin yang dingin, populasi padat dapat runtuh ketika ketersediaan makanan langka.

“Perburuan yang diatur dapat memiliki efek positif karena mengurangi jumlah hewan sebelum musim dingin. Jadi, lebih sedikit hewan yang perlu bersaing untuk mendapatkan makanan,” jelas Peeters.

KLIK INI:  Mewaspadai 5 Penyakit Tanaman di Musim Hujan
Mengurangi kepadatan populasi

Sementara itu, menurut Profesor Brage Bremset Hansen yang merupakan manajer proyek dari Pusat Dinamika Keanekaragaman Hayati NTNU dan Institut Penelitian Alam Norwegia (NINA) bahwa  dengan memanen sejumlah hewan melalui perburuan musim gugur. Hal itu dapat mengurangi kepadatan populasi dan dapat menghindari efek yang lebih besar dari kondisi penggembalaan musim dingin yang buruk.

“Perburuan menghasilkan kondisi yang lebih baik bagi hewan yang bertahan dari perburuan. Lebih banyak hewan akan bertahan hidup di musim dingin. Dan  juga lebih banyak lagi yang akan menghasilkan anak sapi di musim panas berikutnya,” katanya.

Para ahli juga mengatakan temuan mereka dapat diterapkan pada spesies lain. Khususnya spesies dengan sumber makanan terbatas. Dikarenakan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, seperti spesies rusa  yang terkena dampak hujan salju lebat.

KLIK INI:  Kawasan Lindung, Benteng Terakhir bagi Satwa Liar

“Kami menunjukkan bahwa kondisi cuaca buruk dapat sangat mengurangi populasi dengan kepadatan hewan yang tinggi. Tetapi memanen sedikitnya 5 hingga 10 persen dari populasi dapat mengurangi kematian yang disebabkan oleh kondisi cuaca buruk ini,” kata Peeters.

Di Svalbard, musim dingin yang lebih ringan sekarang menutupi tundra dengan e. Kondisi itu dapat mencegah rusa mengakses makanan nabati mereka.

“Jika kepadatan populasi tinggi atau tundra digembalai secara berlebihan, persaingan untuk mendapatkan makanan akan semakin besar dalam kondisi salju yang sulit. Ini terutama benar ketika hujan musim dingin menyebabkan lapisan es tebal di tanah,” kata Peeters.

Karenanya, dengan adanya perburuan yang diatur, maka kestabilan populasi satwa liar bisa diatasi. Selamat berburu.

KLIK INI:  Penyebaran Mangrove Dapat Dipengaruhi oleh Perubahan Iklim

Sumber: Earth