Dengan Tinja, Masana Selamatkan Lingkungan Selama Hampir 50 Tahun

Publish by -40 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Dengan Tinja, Masana Selamatkan Lingkungan Selama Hampir 50 Tahun
Masana Izawa/foto-wsbuzz.com

Buang air besar adalah kewajiban yang harus disadari secara penuh

Klikhijau.com –  Sekarang ini, buang tinja di sembarangan tempat atau di alam bebas sudah mulai ditinggalkan. Orang mulai menerapkan WC di dalam rumahnya dengan cara menggali tanah sebagai bak menampung kotorannya

Sudah sangat jarang ditemukan orang yang buang air besar (BAB) di alam liar. Perilaku BAB dalam rumah sudah merupakan peningkatan moral.

Hanya saja hal itu tidak berlaku bagi Masana Izawa. Buang hajat di luar ruangan adalah rutinitasnya. Pria yang pernah berprofesi sebagai fotografer jamur dan lumut itu menjadikan alam luas sebagai WC.

Masana yang telah berusia 69 tahun mengaku tidak mudah mencari tempat BAB di luar ruangan. Namun, meski tak mudah ia selalu menemukan tempat melampiaskan panggilan alam itu.

Masana telah ‘menggelar’ ritus buang hajat di alam bebas sejak tahun 1970-an. Itu artinya telah hampir setengah abad ia menghindari menggunakan toilet.

Lingkungan, menjadi alasan utama Masana buang hajat di alam bebas. Idenya berawal ketika  ia ikut demo menentang pembangunan pabrik pengolahan limbah.

 Daily Mirror melaporkan, Masana mulai menyadari bahwa tak ada satu pun manusia yang mau mengakui buangan tinja mereka.”

Dari peristiwa itulah, ia akhirnya mengambil keputusan  untuk mempertimbangkan kembali hubungannya dengan limbah biologis dalam kerangka lebih luas dari eco-circularity.

Suatu kebahagian

Ketika pertama melakukan aksinya, ia merasa jauh berbeda ketika BAB dalam ruangan—pada sebuah toilet. Namun, tak semengerikan dari yang dibayangkannya.

“Meski rasanya sangat berbeda dengan BAB di toilet, buang hajat di alam tidak bikin risi,” ujarnya.

Baginya buang hajat di alam bebas merupakan suatu kebahagian. Sejak tahun 2000  ia cuma 14 kali BAB di dalam ruangan.

Di Jepang sendiri, telah banyak terpasang toilet yang dapat   dapat memainkan suara untuk meredam bunyi tinja yang nyemplung.

Hal ini menjadi salah satu yang dikritik Masana bahwa kita malu mengakui kotoran yang dikeluarkan dari tubuh.

Kepada Japan Times, Masana mengungkapkan jika manusia sangat egosentris. Mereka tidak mau membuka mata bahwa tahi ‘yang kotor dan tidak berarti” adalah harta karun bagi makhluk hidup lainnya.

“Buang air besar adalah kewajiban yang harus disadari secara penuh. Kita mengembalikan kehidupan dengan buang hajat di luar ruangan,” katanya.

Baginya BAB di luar ruangan adalah tindakan menjawab panggilan alam sesungguhnya. Ia berpikir manusia sudah terlalu mengasingkan diri dari alam bebas. Pengolahan limbah adalah satu aspek yang diambil manusia tanpa mengembalikannya lagi.

Agar aksinya bisa menular ke banyak orang, Masana sudah mengadakan talkshow di mana-mana untuk menyebarkan filosofinya ke seluruh Jepang. Ia mengajak orang untuk BAB di luar ruangan.

Tak hanya talkshow, Masana juga telah  telah menulis panduan BAB di luar ruangan, Let’s Start Outdoor-Defecating With Leaves, pada 2017.

Dia menentukan daun mana saja yang bisa digunakan untuk mengelap pantat. Menurutnya, “ada banyak daun lembut yang mudah menyerap.”

BAB di luar ruangan tak semudah yang di bayangkan. Ada tata cara dan etika yang harus diikuti, tidak boleh di sembarang tempat, yakni  tidak mencemari zona alpine dan sumber air, menghindari lokasi yang dapat mengalami eutrofikasi tanah, dan setelah BAB, tinja harus dikubur  dan menyeka bokong dengan daun dan air.

“Ada yang mengkritik… tapi saya tidak pernah dilarang BAB di luar,” tutur Masana.

Baginya, BAB di alam bebas adalah cara untuk menyelamatkan lingkungan dan meraih kebahagian.

Tetap semangat, Masana Izawa…

KLIK INI:  Telur Ayam di Indonesia Mulai Dihuni Partikel Sisa Sampah Plastik
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!