5 Puisi Chairil Anwar Bermetafora Alam yang Akan Terus Hidup Seribu Tahun

Publish by -228 kali dilihat
Penulis: Redaksi
5 Puisi Chairil Anwar Bermetafora Alam yang Akan Terus Hidup Seribu Tahun
Chairil Anwar/foto-Ist

Klikhijau.com – Chairil Anwar, penyair yang mati muda. Ia bergelar Binatang Jalang. Gelar itu terdapat dalam diksi dalam puisinya yang berjudul AKU. Pada puisinya itu, ada diksi “aku ini binatang jalang.”

AKU adalah puisi lelaki kelahiran, 26 Juli 1922 tersebut yang paling terkenal. Ia menghiasi buku-buku pelajaran bahasa Indonesia di sekolah hingga perguruan tinggi.

Chairil, salah satu penyair tersohor milik Indonesia. Bahkan, hingga saat ini karya-karyanya masih tetap eksis di dunia syair.

Banyak puisi lelaki yang meninggak di Jakarta pada tanggal 28 April 1949 tersebut yang menggunakan metafora alam atau lingkungan.

KLIK INI:  Di Tetes Terakhir Kopiku

Jika kamu penasaran, Klikhijau telah merangkum 5 puisi Chairil Anwar yang menggunakan metafora alam pada beberapa baitnya:

Kawanku dan Aku

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat.
Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata…?

Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

KLIK INI:  Pada Nama Kecilmu

 

Derai-Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

KLIK INI:  Suara Rimba Selepas Pesta Rakyat

 

Yang Terampas dan Yang Terputus

Kelam dan angin lalu mempersiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tubuh
Di karet, di karet sampai juga deru angin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
Dan aku bisa lagi lepaskan kisah padamu

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

KLIK INI:  Ayah dan Dapur Ibu

 

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh dipulau,
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan melancar

Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
Angin membantu, laut terang tapi terasa
Aku tidak kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
Di perasaan penghabisan segala melaju
Ajak bertakhta, sambil berkata:
“tunjukkan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku!

Manisku jauh dipulau,
Kalau kumati, dia mati iseng sendiri

KLIK INI:  Bila Daun Itu Lepas

 

Senja di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali

Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam
Ada juga kelepak elang menyinggung muram
Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan
Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendirian.
Berjalan menyisir semenanjung
Masih pengap harap

Sekali tiba di ujung
Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat
Sedu penghabisan bisa terdekap

KLIK INI:  Kecupan di Kota Sunyi
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!