Suriani, Perempuan Lorong yang Berjuang Merdeka dari Kepungan Sampah

Klikhijau.com - Sebuah lorong di samping Pesantren Ikatan Masjid Musala  Indonesia Muthahidah (IMMIM) Makassar dihiasi gelas palstik yang telah dicat warna kebanggaan Indonesia; merah putih. Gelas...

Suriani, Perempuan Lorong yang Berjuang Merdeka dari Kepungan Sampah
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Redaktur Klikhijau.com, aktif menulis buku, puisi dan menyukai kopi ditengah kesibukannya mengaktivasi taman baca masyarakat.

Klikhijau.com - Sebuah lorong di samping Pesantren Ikatan Masjid Musala  Indonesia Muthahidah (IMMIM) Makassar dihiasi gelas palstik yang telah dicat warna kebanggaan Indonesia; merah putih.

Gelas plastik tersebut digantung  di sepanjang lorong yang ditutupi atap seng. Di depan lorong, tepat di sebelah kiri  terpasang papan nama berwarna hijau dengan tulisan warna putih,  Jl. P Kemeredekaan IX. Huruf P yang dimaksud adalah Perintis.  Di bawah tulisan tersebut terdapat tulisan dengan aksara lontara.

Seorang perempuan berbaju merah berdiri gelisah di depan lorong. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, sesekali melihat hanphone-nya. Dua lelaki  di sebelah kanan jalan masuk lorong sedang sibuk memperbaiki motor.

Tempat itu merupakan bengkel yang tak terlalu besar, menghadap langsung ke jalan raya. Sedangkan di belakang bengkel, tepatnya di sebelah kanan lorong yang telah diatapi senk itu berdiri kios yang menjual barang campuran. Orang Makassar biasa menyebutnya gadde-gadde

Perempuan itu mengenakan baju merah berlengan hitam, berjilbab warna serupa dengan bajunya. Ia sedang menunggu seseorang yang akan menulis profil dirinya di depan lorong.

Seorang lelaki memperhatikannya di atas motor yang diparkir tak jauh dari tempat perempuan itu menunggu, rupanya lelaki itulah yang sedang ditungguinya.  Perempuan itu tersenyum ramah ketika lelaki itu mendekatinya. Hari itu, Jumat 27 Juli 2018 siang.

[irp posts="4055" name="Enno, Pilot Perempuan Bidang Pemetaan KLHK dan Kisahnya yang Maskulin"]

“Maaf, Bu, saya terlambat,” sapa pengendara motor tersebut.

“Tak apa-apa,” jawabnya ramah sambil naik ke motor. Keduanya berboncengan memasuki lorong Perintis Kemerdekaan 9

“Terus saja!” pesannya

Perempuan itu adalah Suriani. Dia bukan perempuan sembarangan meski tak pernah menikmati bangku kuliah. Ia adalah sumber inspirasi dan kekuatan bagi masyarakat  Perintis Kemerdekaan RW 008, Kecamatan Tamalanrea, Makassar. Ia lebih suka menjawab  Ibu Rumah Tangga (IRT) jika ditanya apa aktivitas kesehariannya.

Suriani membuktikan bahwa bekerja sebagai IRT tak  membuatnya mati akal. Ia tetap bertekad bisa memberi sesuatu kepada masyarakat yang ada di sekitarnya.

Karena tekad yang baja itulah, ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Bank Sampah Unit Kerukunan Masyarakat Perintis Kemerdekaan 9 yang disingkat menjadi BSU KEMAPERTIKA  terletak RW 008.

Meski jabatannya adalah direktur, jangan bayangkan Suriani memiliki kantor atau pun mengenakan baju kantoran serta kehidupan yang wow.

Ia orang sederhana,  tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) Biringkanaya di tahun 1992. Kantornya adalah kolong rumah panggung  berlantaikan tanah. Ia menamainya sekretariat.

Di kolong rumah itulah aktivitas bank sampah Kemapertika bergerak untuk mengedukasi warga setempat agar menjadikan sampah memiliki nilai ekonomi.

Bank sampah Kemapertika merupakan bank sampah yang kesekian di kota Makassar. Bank sampah sendiri merupakan program pemerintah sejak tahun 2011, namun baru berjalan dengan baik di tahun 2015.

“Semua ini berawal dari arahan Pak Lurah, awalnya masyarakat enggan melakukan arahan tersebut karena menganggap sampah itu kotor, tak bernilai,” ungkap Suriani sambil membetulkan jilbabnya. Ia duduk di kursi plastik berwarna merah, sewarna dengan jilbab dan bajunya.

[irp posts="4058" name="Tentang Ria, Perempuan yang Bertarung dalam Kobaran Api di Hutan"]

Perempuan yang menikah di tahun 1992 dengan lelaki bernama  Nurdin itu juga mengungkapkan jika keberadaan bank sampah Kemapertika belum lama, Surat Keputusan (SK) dari pihak pemerintah Kota Makassar baru keluar diakhir 2016. Bank sampah Kemapertika sendiri baru berjalan diawal tahun 2017 dengan beranggotakan sepuluh orang.

“Meski masih baru, tapi kami telah meraih penghargaan berupa piala sebagai bank sampah terbaik di Makassar. Lomba penilaian itu sendiri diadakan setiap tahun dan diikuti semua bank sampah yang ada di Makassar,” tambahnya.

Suriani yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1973 ini merasa keberadaan bank sampah telah menjelma menjadi pengikat persatuan yang kuat di antara masyarakat Jl. Perintis Kemerdekaan 9 yang didiami kurang lebih 400 orang yang terbagi ke dalam empat Rukun Tetangg (RT). Selain semakin eratnya rasa persatuan dan kebersamaan warga, kebersihana lingkungan juga semakin meningkat.

“Alhamdulillah, perekonomian masyarakat meningkat selama ada bank sampah ini, bukan hanya itu tetapi juga kebersihan terjaga, nilai-nilai islami mulai diterapkan, yaitu kebersihan bagian dari iman,” katanya lagi.

Selama menjabat sebagai diredaktur bank sampah Kemapertika, perempuan yang telah memiliki dua cucu ini mengungkapkan bahwa tak ada tantangan berarti karena semua dilakukan dengan enjoy. Baginya, melihat lingkungannya bersih merupakan sebuah kebanggaan tersendiri baginya.

[irp posts="3794" name="Intip Tips Ramah Lingkungan dari Tasya Kamila!"]

Meski anggotanya hanya sepuluh orang—perempuan semua. Tetapi semangat perempuan empat anak tersebut tak mengenal kata menyerah demi meningkatkan perekonomian  masyarakat Rukun Warga (RW) 008 tersebut.

Suriani  mengisahkan, sebelum adanya bank sampah Kemapertika, masyarakat membuang sampah di sembarangan tempat sehingga lingkungannya kotor dan tak menarik, tapi kini tak ada lagi yang melakukannya sehingga masyarakat dan orang yang masuk ke dalam lorong tersebut merasa betah.

Apalagi di sepanjang lorong ditanami bebungaan. Suasana hijau terasa kental di tengah gerahnya Makassar. Semua itu terwujud berkat perjuangan perempuan tanggguh yang bernama Suriani.

Suarni berharap bank sampah Kemapertika ke depannya lebih maju lagi sehingga nilai ekonominya semakin tinggi, selama ini baru satu kerajinan yang dikuasai oleh masyarakat Perintis Kemerdekaan 9 tersebut, yakni pembuatan lampion dari gelas plastik. Sementara untuk pengelolaan sampah basah dan sampah kering lainnya masih dalam tahap proses

“Kami berharap akan ada pelatihan dari pemerintah untuk daur ulang sampah, sebab selama ini belum bisa terlalu diandalkan sebagai mata pencahiraan karena keterampilan mengelola sampah masih minim,” harapnya.

Suriani  saat ini sedang berjuang agar bisa mengola sampah basah sehingga bisa memiliki nilai ekonomi apalagi alat berupa komposter telah tersedia, hanya masih terkendala masalah lokasi pemasangan dan cara penggunaannya.

Waktu pertama Suriani dan kelompoknya merintis bank sampah Kemapertika, omset yang didapatkan  mencapai dua juta rupiah perbulan. Itu omset terbesar, tapi omset besar tak lantas membuat kelompok ini bahagia, sebab itu artinya banyak sampah di lingkungannya.

Saat ini,  omset bank sampah Kemapertika tak sebanyak dulu. tapi itu merupakan suatu keberhasilan dalam mengelola bank sampah yang bertujuan menjaga kebersihan lingkungan.

“Dari segi uang berkurang, tapi Alhamdulillah dari segi kebersihan meningkat. Semakin kurang orang datang menimbang sampah berarti lingkungan semakin bersih, lingkungan tanpa sampah itulah kemerdekaan sesungguhnya,” tutupnya.#

[irp]