Sokko na Palopo’, Kuliner Khas Sulsel yang Bisa Jadi Ide Bisnis Rumahan

Klikhijau.com – Kuliner khas Sulawesi Selatan tak pernah gagal membuat penikmatnya ketagihan. Pun pilihannya sangat banyak. Tak hanya coto dan pallu basah. Sulsel adalah memang merupakan provinsi y...

Sokko na Palopo’, Kuliner Khas Sulsel yang Bisa Jadi Ide Bisnis Rumahan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Kuliner khas Sulawesi Selatan tak pernah gagal membuat penikmatnya ketagihan. Pun pilihannya sangat banyak. Tak hanya coto dan pallu basah.

Sulsel adalah memang merupakan provinsi yang dikaruniai beragam jenis kuliner, yang masih kokoh bertahan hingga kini. Namun demikian tak semua jenis kuliner khas itu mudah ditemukan.

Ada kuliner yang hanya bisa dinikmati pada momen tertentu, misalnya saat ada pesta atau jelang masuk bulan Ramadan.

Saat akan memasuki bulan Ramadan, ada satu kuliner yang nyaris tak pernah ketinggalan. Namanya Sokko na Palopo’ atau Sokko Palopo’. Nama tersebut adalah gabungan dari dua kata, yakni sokko dan palopo’.

Sokko dalam bahasa Bugis artinya artinya nasi yang terbuat dari beras ketan. Sedangkan palopo’ artinya gula merah.

Selain namanya yang terdiri dari dua kata, kuliner ini juga berdiri sendiri atau tak bercampur. Sokko akan menempati tempat yang lain, begitu pula dengan palopo. Pun cara masaknya berbeda wadah.

Cara makan kuliner ini adalah, sokko dicocol ke dalam palopo’

Simbol rasa syukur

Sokko palopo terbilang unik, kuliner ini memiliki perpaduan rasa beras ketan yang legit dan gurih bercampur manisnya gula merah.

Kuliner khas yang mulai langka ini merupakan simbolisasi rasa syukur kepada Tuhan dalam mengharap keberkahan, khusus pada bulan puasa. Di mana kuliner ini kerap disajikan jelang Ramadan.

Selain di bulan Ramadan, kuliner ini biasanya akan hadir di pesta adat/pesta rakyat maupun pesta pengantin. Jika di Bugis, mappaboting atau lebih dikenal dengan pesta pernikahan harus dilengkapi dengan erang-erang (seserahan) yang dilengkapi dengan pattenre kawin (sokko na Palopo). Budaya ini merupakan adat istiadat yang disusun dalam pangadereng.

Hal itu tak asal dilakukan, tapi  ada nilai historis dan filosofis yang termuat di dalamnya, lho sahabat hijau.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2