Serunya Mengamati Burung dari Rumah Samar

Klikhijau.com - Resor Ranu Darungan sedang berbenah. Hutan yang berada di selatan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini menyuguhkan keindahan alam. Tak hanya terkenal dengan kemolekan anggreknya, po...

Serunya Mengamati Burung dari Rumah Samar
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Resor Ranu Darungan sedang berbenah. Hutan yang berada di selatan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini menyuguhkan keindahan alam. Tak hanya terkenal dengan kemolekan anggreknya, potensi lain pun patut dilirik. Satu di antaranya adalah keriuhan burung liarnya. Seorang petugas resor membantu saya menyelaminya lebih dalam.

Siang itu, kami tiba di Dusun Darungan, Desa Pronojiwo, Kecamatan, Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Menyapa lebih dekat geliat Resor Ranu Darungan. Salah satu resor Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Resor adalah unit tata kelola kecil taman nasional. Saya bersama rombongan bertandang pada Kamis, 3 Maret 2022.

Saya bertemu dengan David Wahyu Winedar, Petugas Resor Ranu Darungan. Ketertarikan David, sapaan akrabnya, terhadap anggrek tak sebesar Toni Artaka dan kawan-kawan. Ia punya dunia sendiri. Meski begitu, David tetap setia mengantar kami berkeliling di taman anggrek seluas 2.800 meter persegi itu.

Saat hujan masih setia membasahi bumi, saya bercengkrama dengannya. Obrolan kami mengarah ke hobi David: mengamati burung. Memancing saya untuk tahu lebih banyak.

Bercengkrama dengannya, seolah bertemu kawan lama. Menurutnya, hobi mengamati burung tak banyak digeluti, termasuk petugas taman nasional sendiri, "Di sini, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, hanya ada beberapa orang pengamat burung. Hanya ada empat orang, termasuk saya," ungkap David.

Mengamati burung bukanlah perkara mudah. Selain butuh alat tersendiri, kesabaran pun menjadi kunci. Terutama yang suka fotografi. Kamera dengan spesifikasi khusus dibutuhkan. Setidaknya punya kamera berjenis power shoot. Jika pun memiliki kamera DSLR, lensa tele pun menjadi wajib.

"Berbeda dengan pengamat burung dari Eropa, cukup dengan binokuler. Satu lagi, buku identifikasi. Jadi mereka cukup mengamati tingkah laku burung di alam dan mengenali jenisnya. Itu sudah cukup. Begitulah pengamat burung sejati," tambah David.

[caption id="attachment_24706" align="alignnone" width="740"]burung Pelanduk bukit, burung penyuka semak - Foto: David Wahyu Winedar[/caption]

Sedikit berbeda dengan pengamatan burung yang lagi tren saat ini. Rasanya tanpa foto, hampa. Apalagi dengan kehadiran media sosial. Menjadi ajang aktualisasi diri melalui hasil jepretan.

Hal yang wajar, apalagi memotret burung tidaklah semudah yang kita kira. Burung sangat sensitif akan kehadiran manusia di habitatnya. Bergerak sedikit saja seketika menghilang dari pandangan. Memang butuh perjuangan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2