Wisata Anggrek, Pesona Baru Bromo Tengger Semeru

oleh -78 kali dilihat
Wisata Anggrek, Pesona Baru Bromo Tengger Semeru
Anggrek Phaius tankervillae - Foto: Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Menjelang siang kami tiba di Lumajang. Tepatnya di Resor Ranu Darungan. Salah satu unit tata kelola terkecil Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Lokasinya berada di Dusun Darungan, Desa Pronojiwo, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur.

Hari itu, Kamis, 3 Maret 2022. Perjalanan panjang dari Malang, sekejap terobati kala menerabas rimbun pepohonan. Bertemu dengan hutan. Begitulah, jiwa seorang perimba. Hati yang selalu mencintai alam. Selalu ada kesenangan tersendiri kala mendengar penghuni hutan bersahutan. Juga hawa sejuknya seketika menyapa kulit. Lembut tak terkira.

Molek lekukan dan warna-warni bunga anggrek menyambut kami. Barisan anggrek tumbuh alami di bawah rimbun pepohonan. Seolah menarik hati untuk mendekatinya.

Saya pun seketika membuka tas, mengeluarkan kamera yang sedari pagi mendekam. Menyalakan, kemudian mencari target.

Anggrek berwarna putih yang sedang mekar jadi santapan pertama. Belum lama berjalan, beberapa tangkai anggrek lain juga tak kalah kuatnya menarik saya. Sungguh senang. Belakangan saya memang suka memotret anggrek. Ada kesenangan tersendiri memotret bunganya yang warna-warni.

Imajinasi dari buku anggrek komersil yang saya koleksi menjadi panutan. Bunga dari anggrek jadi target utama saat bertemu. Karena dari bunga, memudahkan kita untuk mengenali jenisnya. Pun juga, bungalah yang menjadi daya tarik utama dari penghias hutan ini.

Petugas resor pun dengan ramahnya menyapa. Menyilahkan berkeliling di taman anggrek peliharaan mereka.

KLIK INI:  Asyik, Agus dan yang Lahir 17 Agustus Gratis Masuk TN Bantimurung

Rasanya begitu senang bertandang di taman anggrek. Seolah tak berada di taman yang sengaja di tata. Mengapa? Tamannya alami. Anggreknya mereka tanam di tanah, untuk jenis anggrek tanah. begitupun anggrek efifit, melekatkannya di batang dan cabang pohon. Serupa perilaku anggrek yang hidup di hutan.

Jadi, berkeliling di taman anggrek seolah, berada di rimba belantara.

Sungguh syahdu. Apalagi, tak begitu lama hujan meramahi taman. Mengharuskan saya bersama rombongan berteduh. Kami memilih green house. Rumah anggrek hasil perbanyakan pengurus taman.

Interaksi dengan petugas pun terus berlanjut. Mengulik lebih dalam kisah di balik taman anggrek.

anggrek
Budiono (kiri), pembudidaya anggrek melalui kultur jaringan dan Toni Artaka (ujung kanan), Kepala Resor Ranu Darungan, bercengkrama saat mengunjungi rumah anggrek Budiono – Foto: Ist

Kiprah Toni merangkul pemburu anggrek

Toni Artaka, Kepala Resor Ranu Darungan setia menemani. Menceritakan bagaimana prosesnya. Termasuk perjuangannya merangkul warga sekitar.

“Taman ini telah kami rintis sejak 2018 lalu. Setidaknya terdapat 198 jenis anggrek di sini. Untuk anggrek taman nasional sendiri sudah menginjak angka 255 jenis,” ungkap penulis buku ” Anggrek Taman Nasional Bromo Tengger Semeru” ini.

KLIK INI:  Di Pulau-Pulau Ini, Anda akan Takjub Melihat Kehidupan Alam Liar

Tak terbilang Toni mendapati warga mengunduh anggrek di hutan. Tak langsung ditindaki dengan laporan kejadian untuk proses lebih lanjut. Toni memberikan pemahaman. Kecintaannya dengan anggrek membuatnya berpikir keras. Mencari solusi bagi warga sekitarnya.

Perlahan, Toni mengajari warga cara menyilangkan anggrek. Menjadi salah satu cara mengurai sedikit demi sedikit ketergantungan pemburu anggrek.

Melalui anggrek, Tony juga mudah berbaur dengan warga binaannya. Terus mendorong warga membudidayakan anggrek.

Ismail contohnya. Ia bercerita, sebelum bertemu Toni, ia sering masuk hutan taman nasional. Tak hanya itu, bahkan berkeliling ke pelosok hutan di kabupatennya. Berkeliling mencari anggrek. Apalagi jenis endemik jadi incaran. Harganya yang tinggi jadi sebab.

Tak heran jika Ismail sempat berburu anggrek hingga ke luar pulau Jawa. Sulawesi dan Kalimantan adalah dua pulau yang pernah ia jelajahi mencari anggrek alam.

Setakat kini, Ismail, mendedikasikan diri menjaga taman anggrek di Ranu Darungan. Menemani Toni menjaga anggrek, termasuk hutan di wilayah resor.

anggrek
Hasil budidaya anggrek dalam botol milik Budiono, di rumah anggreknya, Desa Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur – Foto: Taufiq Ismail
KLIK INI:  Mengenal Anggrek Bulan (Phalaenopsis) dan Cara Merawatnya

Budidaya anggrek dalam botol

Kami juga berkesempatan mengunjungi rumah anggrek milik Budiono. Budi, sapaannya, menjadi pembudidaya anggrek dengan teknik kultur jaringan. Budi juga termasuk mantan pemburu anggrek di hutan taman nasional.

Suatu waktu, Bapak satu anak ini menyadari bahwa jika anggrek di hutan diambil terus-menerus maka suatu saat akan habis dan hilang. Akhirnya hatinya mulai tergerak. Mencari cara memperbanyaknya. Ia tak puas hanya dengan menyilangkannya.

Budi memilih teknik “budidaya dalam botol”. Begitulah istilah Budi untuk teknik budidaya kultur jaringan. Budi mencari tahu sendiri cara perbanyakan itu. Ia bertekad untuk belajar. Belajar dari pembudidaya kawakan di Malang hingga ke Kota Baru.

“Tak mudah mengais rahasia dapur dari para senior pembudidaya,” pungkas Budi saat saya temui di rumahnya.

Bersama itu, ia terus melakukan percobaan. Meneliti secara otodidak. Tak hanya hitungan bulan bahkan menguras waktu beberapa tahun untuk belajar mandiri. Pada akhirnya Budi menemukan formula budidaya anggrek di dalam botol.

KLIK INI:  Akhir Kisah Dua Koruptor Sampah DLH Magetan Berakhir di Penjara

“Pak Budi memang luar biasa. Saya salut. Ia tak kenal lelah mencari ilmu untuk memperbanyak anggrek,” pungkas Toni saat menemani kami berkunjung ke green house milik Budi.

Budi awalnya hanya memiliki modal senilai 500 ribu rupiah, kini ia sudah memiliki pendapatan 10 s.d 30 juta per bulan dari usaha budidaya anggrek dalam botolnya.

Sosok kebanggaan Desa Pronojiwo, Pronojiwo, Lumajang ini kini telah bergabung dalam Kelompok Tani Konservasi Ranu Lingga Rekisi binaan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Ini menarik, jadi wisatawan yang berkunjung di Orchidarium Ranu Darungan bisa membawa pulang oleh-oleh. Oleh-oleh berupa anggrek hasil budidaya tangan dingin Budi bersama keluarga. Paket yang lengkap.

anggrek
Toni Artaka (tengah) dan Ismail (kanan depan), personil Resor Ranu Darungan, siap menyapa wisatawan – Foto: Taufiq Ismail

Peresmian taman anggrek

Spot taman anggrek dan pengamatan burung memang begitu tersiar. Kami beruntung bisa mengunjunginya lebih awal. “Pengamatan burung dan anggrek di Resor Ranu Darungan, baru kami rintis. Malah kami belum me-melaunching-nya secara resmi,” ungkap Novita Kusuma Wardani, Plt. Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, saat menerima kami di kantornya pada 2 Maret 2022.

KLIK INI:  Ketika Tempat Pembuang Sampah Bersalin Wajah jadi Tempat Rekreasi

Pantauan terakhir, kedua spot ini baru saja dibuka untuk umum. Tepatnya Sabtu, 26 Maret 2022. Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Toriqul Haq, Bupati Lumajang, merilisnya.

Peresmian wisata minat khusus ini terangkai dengan seminar bertajuk “Ekspos Inventarisasi dan Verifikasi Potensi Kawasan di Resor Ranu Darungan.” Juga membedah buku berjudul “Suaka Puspa di Tanah Para Dewa” karya jurnalis perempuan Titik Kartitiani. Lawatan berlangsung meriah di Tumpak Sewu Homestay, Dusun Sidomulyo, Desa Pronojiwo, Pronojiwo, Lumajang.

Saya juga sempat mengikutinya secara daring melalui aplikasi Zoom. Pembukaan yang hikmat, syarat saintifik.

Pengelola taman nasional menawarkan wisata berbeda, mengusung konsep orchiavitourism, wisata anggrek dan mengamati burung. Taman anggrek, mereka namai Orchidarium Ranu Darungan.

“Orchidarium Ranu Darungan memberi wajah baru berwisata ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Selama ini taman nasional ini lebih identik dengan keindahan Gunung Bromo dan kegagahan Gunung Semeru. Kini, wisatawan, mahasiswa, dan peneliti pun bisa berwisata sembari belajar seluk beluk anggrek dan mengamati burung di Darungan,” terang Novita, sapaan akrab sang kepala balai.

Seperti dilansir dari Tempo.co, Wiratno mengatakan bahwa konservasi mengandung tiga pilar utama: mempelajari, menggunakan, dan melestarikan. Orchidarium Ranu Darungan mewujudkan konservasi yang lebih familiar. Tak semata-mata menjadikan taman nasional sebagai wadah penyelamatan satwa dan tetumbuhan, tetapi lebih dari itu.

Kini personil resor memiliki kesibukan baru. Melayani wisatawan yang berkunjung.  Pilihannya bukan sekedar menikmati anggrek yang berjejer rapi di taman, ataupun menikmati moleknya burung. Menikmati pesona Ranu Darungan pun bisa menjadi alasan bertamu ke Desa Pronojiwo.

Sukses untuk Resor Ranu Darungan. Menjaga alam dan menghibur wisatawan dengan meramahi keindahan alam yang menentramkan.

KLIK INI:  Daya Tarik Batu-batu sebagai Desa Berbudaya Lingkungan (Ecovillage)