Serunya Mengamati Burung dari Rumah Samar

Klikhijau.com - Resor Ranu Darungan sedang berbenah. Hutan yang berada di selatan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini menyuguhkan keindahan alam. Tak hanya terkenal dengan kemolekan anggreknya, po...

Serunya Mengamati Burung dari Rumah Samar
Bacakan Artikel

Seorang fotografer burung profesional biasanya akan mengincar burung tertentu. Ia rela mendatangi suatu spot pengamatan, mulai puluhan hingga ribuan kilometer. Waktu yang mereka butuhkan pun bervariasi. Terkadang harus menginap beberapa hari untuk memperoleh hasil yang maksimal. Belum lagi terkadang lokasi target berada di tengah belantara. Perjuangannya pun tambah sengit. Mengarungi medan yang tak semulus melenggang di pusat perbelanjaan.

Menemukan burung di hutan selalu menjadi tantangan. Jaminan akan bertemu burung idaman terkadang tak bergaransi. Hanya saja melalui kemampuan pemadu lokal, persentasi kemungkinannya lebih besar. Maka kehadiran warga lokal yang mengetahui keberadaan burung-burung tertentu jadi penolong fotografer.

Dari merekalah informasi keberadaan burung di suatu wilayah tersiar. Mereka biasanya mengunggahnya di dinding Facebook. Saat ini, lebih bervariasi, dari Instagram, bahkan ada juga pemandu yang merambah hiruk-pikuk Youtube. Mempromosikan spot pengamatannya. Mengundang penyuka burung liar bertandang.

Begitu pun, Resor Ranu Darungan, juga bergeliat. Ciptakan spot pengamatan bagi mereka pehobi burung. "Saat ini, kami memiliki tiga spot pengamatan burung," kata David.

David mengajak saya ke salah satu spot amatannya. Letaknya tak jauh dari Orchidarium Ranu Darungan, hanya sepelemparan batu.

Cukup berjalan sekitar lima puluh meter dari taman anggrek. Hanya butuh sedikit mendaki.

Hutan di sekitar orchidarium memang asri. Ranu Darungan juga begitu tenang, menghias. Ranu adalah danau dalam bahasa Jawa. Rombongan kami berkesempatan menikmati paduan hutan dan genangan air raksasa itu. Beberapa di antara kami juga berswafoto ria di tepi danau seluas 0,25 ha itu.

[caption id="attachment_24707" align="alignnone" width="640"]burung Rumah samar, tampak dari belakang - Foto: Taufiq[/caption]

Saat tiba di spot pengamatan, David menyilahkan saya memasuki sebuah gubuk. "Kami mengistilahkannya 'hide', rumah kamuflase," jelasnya.

Gubuk sederhana itu terbagi dua ruang, meski tak bersekat. Ruang pertama untuk bersantai. Hanya ada kursi panjang sederhana di sana. Ruang kedua adalah tempat pengamatan. Juga tersedia kursi seadanya dan sedikit celah. Celah berukuran 20x20 cm meter. Padanya juga tersedia sandaran mungil untuk kamera.

Saya langsung mengambil posisi mengamati. Menyadarkan kamera dan menunggu. David langsung beraksi. Memancing burung untuk datang. Ia merogoh kantongnya. Mengeluarkan gadget pujaannya. Tak lama kemudian telepon pintarnya mengeluarkan suara burung yang merdu.

Tak perlu menunggu waktu lama. Dua ekor burung berwarna coklat kemerahan bertandang. Dadanya lebih cerah. Paruh berwarna setengah hitam dan kaki coklat. “Yang coklat itu, namanya ‘pelanduk bukit’.” David memberitahu jenis burung yang saya amati.

Pemilik nama latin: Trichastoma pyrrogenys ini memang menyukai beraktivitas di semak ketimbang di atas pohon. Makanannya berupa serangga dan cacing tanah.

Tak lama kemudian seekor burung sikatan dada-merah, Ficedula dumetoria, juga datang bertandang.  Berwarna hitam dengan variasi warna putih. Dagu sampai dadanya berwarna jingga yang khas. Sementara perut dan tunggingnya berwarna putih. Saya mengamati seksama. Lompat ke sana dan kemari. Sesekali turun ke tanah. Perilakunya nampak mencari makan di batang pohon yang tumbang. Barangkali mencari belatung atau cacing tanah.

Kiacauannya yang aduhai juga menambahkan nikmat mencicipi sajian alam itu.

Saya terpukau. Tak menyangka secepat itu mereka menyapa. Saya memainkan kamera. Membidiknya. Sesekali saya mengganti mode video. Menikmati momen langka itu. Mereka tak terusik. Asalkan pengamat tidak berisik.

[caption id="attachment_24708" align="alignnone" width="740"]burung Sikatan dada merah, burung pengicau belantara - Foto: David Wahyu Winedar[/caption]

Saat kami mengamati burung dari rumah samar, cuaca masih mendung. “Andai pengamatan pagi dengan cuaca cerah maka burungnya lebih riuh. Bintang kami di sini, ada puyuh gonggong jawa (Arborophila javanica), berencet besar (Napothera macrodactyla), dan paok pancawarna (Hydrornys guajanus). Jika lagi beruntung tepus leher putih, Stachyris thoracica, juga akan menampakkan diri,” pungkas David mempromosikan spot pujaannya.

Jarak rumah samar dengan burung hanya berkisar sepuluh meteran. Tak lama kemudian kawan lain pun berdatangan ke gubuk. Tak mau ketinggalan merasakan sensasi mengamati burung layaknya profesional.

Bagi yang penasaran berkunjung ke Ranu Darungan, terkhusus pengamat burung, bisa ngepoin akun Instagram David: @divadgals2. Melihat jenis-jenis burung penghuni Ranu Darungan.

Sajian bird watching Resor Ranu Darungan siap menyapa penggemar burung liar. Mengamati burung dan menikmati syahdunya alam dalam satu kunjungan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2