Menghela Napas di Tumpukan Sampah Tamamaung, Makassar

Klikhijau.com - Tak semua orang dapat setia pada pekerjaannya. Apalagi jika pekerjaan itu dianggap remeh dan sebelah mata oleh banyak orang. Namun, Saripuddin bisa masuk pengecualian. Ia setia mela...

Menghela Napas di Tumpukan Sampah Tamamaung, Makassar
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Klikhijau.com - Tak semua orang dapat setia pada pekerjaannya. Apalagi jika pekerjaan itu dianggap remeh dan sebelah mata oleh banyak orang.

Namun, Saripuddin bisa masuk pengecualian. Ia setia melakoni pekerjaannya sebagai petugas kebersihan atau pengangkut sampah di Kota Makassar selama 17 tahun.

Ia bertugas di Kelurahan Tamamaung, Kecamatan Panakkukang, Makassar. Empat kali sehari ia akan mendatangi rumah warga, mengambil sampahnya. Lalu membawanya ke tempat penampungan sementara (TPS) sampah Tamamaung. Sebelum berpindah ke Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang.

Tanpa peralatan

TPS itu kini berpindah tempat ke Jalan Sukaria 18, tepat di tepi kanal yang berair hitam pekat dan berbau. Di TPS itulah Saripuddin akan membongkar muatannya. Ia membongkarnya dari kendaraan roda tiga—yang lebih dikenal dengan nama viar.

Pembongkaran sampah yang dilakukan oleh Saripuddin dan 11 orang rekannya itu, ada yang melakukannya dengan cara manual, dengan tangan kosong—tanpa kaos tangan, sepatu, dan alat lainnya.

Para pekerja di kelurahan yang memiliki luas wilayah 0,05 km², yang terdiri dari 62 RT dan 8 RW (Wikipedia) itu, sebagian memang tak menggunakan perlengkapan sebagaimana mestinya.  Bukan berarti perlengkapannya tak ada. Ada disiapkan pihak kelurahan, hanya saja rasa nyaman tanpa menggunakan alat tersebut jadi alasannya.

Misalnya menggunakan kaos tangan, menurut Saripuddin akan membuat tangan gatal bahkan luka sebab kaos tangan itu akan basah.

Penggunaan sepatu boots pun begitu, rasa panas akan menyerang kaki. Pun demikian dengan pengais, menghambat pekerjaan. Karenanya, para pekerja itu tak menggunakannya. Meski ada ancaman yang mengintai, semisal terisis kaca beling yang banyak bercampur dengan sampah rumah tangga.

“Jika hanya sampah rumah tangga, jumlahnya tak banyak. Hanya saja banyak warga yang mencampur adukkan sampahnya, tanpa pemilahan,” jelas lelaki yang telah memiliki lima anak tersebut.

Saripuddin mengawali "karier" sebagai tukang becak atau pengayuh becak di Kota Makassar pada tahun 1995. Kemudian ia "naik kelas" pada pekerjaan yang lain yang masih dilakoninya hingga sekarang, yakni sebagai tenaga kebersihan.

Ia telah menjadi petugas kebersihan di dua tempat, 9 tahun BKM atau kelurahan dan 8 tahun bekerja di kecamatan hingga sekarang.


Saya bertemu dengan lelaki kelahiran Galesong, Gowa itu pada suatu pagi yang terik. Tepatnya Rabu, 5 Juli 2023.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2