Menghela Napas di Tumpukan Sampah Tamamaung, Makassar

Klikhijau.com - Tak semua orang dapat setia pada pekerjaannya. Apalagi jika pekerjaan itu dianggap remeh dan sebelah mata oleh banyak orang. Namun, Saripuddin bisa masuk pengecualian. Ia setia mela...

Menghela Napas di Tumpukan Sampah Tamamaung, Makassar
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Saat itu, saya menginap di rumah keluarga di Sukaria 18. Saat menyeruput kopi bau sampah merasuk ke dalam rumah, lalu ke hidung.

Sejak jalan diperbaiki dan TPS berpindah. Pagi hari di Sukaria 18 tak bisa dilepaskan dari aktivitas penganggukatan dan bongkar sampah.

Karena diliputi rasa penasaran, bagaimana banyaknya tumpukan sampah warga Tamamaung. Saya  keluar rumah ingin menyaksikan langsung proses bongkar sampah itu.

Saya mendekati tempat penampungan sampah sementara itu. Para “pegawainya” terlihat serius membongkar muatan dari viar ke kontainer sampah yang disiapkan. Ada dua kontainer, satu di antaranya sudah koyak sana-sini dan semestinya telah tak layak pakai. Dan satu mobil truk—semuanya penuh sampah pagi itu.

Aktivitas pengangkutan dan pembongkaran sampah di Tamamaung tak hanya pagi hari saja. Menurut Saripuddin empat kali sehari—yang dilakukan oleh Viar. Ada 12 Viar yang beroperasi di Tamamaung, 2 kontainer dan 2 mobil Rantasa. Mobil Rantasa ini beroperasi pada sore hari.

[caption id="attachment_28868" align="aligncenter" width="650"] Aktivitas bongkar sampah di TPS Tamamaung-foto/Ist[/caption]

Minim pemilahan sampah

Pemilahan sampah masih sangat minim dilakukan masyarakat. Masyarakat terbiasa mencampur adukkan sampahnya dalam satu wadah. Wadahnya pun dominan sampah plastik.

“Tidak ada pemilahan, bahkan kami kadang mendapatkan bangkai tikus atau kucing dicampur dengan sampah rumah tangga,” ungkap Saripuddin, “Bahkan kadang ada popok orang dewasa yang penuh kotoran manusia,” tambahnya.

Meski petugas kebersihan di Tamamaung cukup memadai dengan aktivitas pengangkutan sampah hingga empat kali sehari. Namun, masih banyak warga yang membuang sampahnya di sembarang tempat. Memang membuang sampah bukan pada tempatnya, rasanya telah mendarah daging.

“Padahal langganan sampah hanya Rp.20.000 perbulan. Namun, masih ada yang tak mau berlangganan,” keluh Saripuddin.

Meski begitu, diakui Saripuddin ada juga beberapa warga yang tidak berlangganan, namun secara sadar membawa sendiri sampahnya ke TPS Tamamaung.

Apa yang dikatakan lelaki yang kelahiran 1980 itu memang benar. Saat saya berbincang dengannya, beberapa warga datang membuang sendiri sampahnya.

Perihal gaji

Bercerita tentang gaji petugas kebersihan yang bertugas di Kelurahan Tamamaung. Menurut saripuddin lebih dari cukup.

“Lumayan, 2,5 juta sebulan bersih karena bahan bakar ditanggung pihak kelurahan dan kecamatan” ungkapnya. “Yang membersihkan sampah berceceran di sekitar kontainer, gajinya 1,5 juta sebulan,” lanjutnya.

Hanya saja menurutnya penggajian “karyawan” kebersihan di Tamamaung tak selancar air kanal yang setia mengalirkan sampah.

Gajinya kadang dbayarkan dua bulan sekali. Itupun tidak utuh, sebab ada potongan untuk tabungan sebesar 150 ribu rupiah perbulan.

Saat menyebut nominal gaji. Tetiba saja saya teringat pengakuan Abdul Malin bin Ibrahim, petugas kebersihan di Singapura. Dalam sebulan lelaki renta itu mendapat gaji sekitar 35 juta rupiah, bersih. Aahh, betapa jauhnya perbandingannya.

Namun, meski gajinya jauh dari pendapatan Abdul Malik, Saripuddin tetap bersetia pada pekerjaannya. Pekerjaan yang tak banyak orang impikan. Pekerjaan yang dianggap tak penting bagi banyak orang. Namun, dari kacamata lingkungan, kesehatan, dan kebersihan. Pekerjaan yang dilakoni Saripuddin sangatlah penting.

Bisa dibayangkan, bagaimana jika tak ada pekerja seperti Saripuddin dan kawan-kawannya. Tentu Kota Makassar akan dikepung sampah, bau busuk akan tercium dan terlihat ke arah mana pun kita menghadap.

Jadi, sudah saatnya kita berterima kasih pada pasukan “kebersihan” itu. Mereka rela menghela napas di antara tumpukan sampah, melerai rasa jijik dan berkawan dengan bau yang kurang mengenakkan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2