Kisah Para Pemburu Buah Dao di Pesisir Sungai

Klikhijau.com - Tidak ada ‘mesin waktu’ terbaik untuk pulang sejenak ke masa silam, selain mengendarai kenangan. Dengan ingatan, kita bisa tiba ke sebuah lekuk waktu di masa kecil saat wajah berkerut...

Kisah Para Pemburu Buah Dao di Pesisir Sungai
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Tidak ada ‘mesin waktu’ terbaik untuk pulang sejenak ke masa silam, selain mengendarai kenangan. Dengan ingatan, kita bisa tiba ke sebuah lekuk waktu di masa kecil saat wajah berkerut menikmati buah Dao.

Buah Dao atau Dracontomelon merupakan spesies tumbuhan berkayu dari keluarga Anacardiaceae, merupakan buah lawas paling diminati.

Pohonnya tidak mudah dipanjat begitu saja. Selain jaraknya yang jauh, harus melewati pinggiran sungai dan menerabas rawa-rawa di tepi hutan kecil, batangnya pun terlampau besar untuk ditaklukkan oleh kami.

Namun, anak-anak desa adalah para petualang yang selalu beruntung. Salah satu atau dua orang teman yang paling jago memanjat dijadikan pionir. Endingnya mudah ditebak, para pemanjat lebih banyak menikmati dao di atas pohon.

Sementara kami yang menunggu di bawah pohon hanya bisa menelan air liur. Kalaupun ada buah dao yang dijatuhkan, kualitasnya beda jauh dengan dao yang  di saku celana para pemanjat.

Air sungai mengalir seperti tarian indah dengan batu-batu kecil yang  di dasarnya. Cahaya matahari menembus celah-celah daun pohon dan menciptakan refleksi gemerlap di permukaan air yang tenang .

Di sekitar sungai, menjulanglah pohon-pohon yang gagah dan menjuntai dedaunan hijau. Cabang-cabangnya mengelilingi langit biru seperti tangan-tangan raksasa yang merangkul dunia.  Pohon-pohon itu adalah penjaga alam yang teguh, menopang langit dengan rimbunnya dedaunan dan akar-akar yang meluas di dalam tanah.

Burung-burung kecil, kami menyebutbya ‘dong dongi’  riang berkicau  menyambut matahari yang pulang saat petang dan datang saat fajar.   Kupu-kupu dengan sayap berwarna-warni menari-nari di antara bunga-bunga yang mekar. Dan jaman itu belum ada yang mengenal aglonema, padahal bunga-bunga hias yang mahal bebas tumbuh liar dan saat itu belum ada kaum emak-emak pencinta bunga hias.

Kehadiran serangga-serangga yang kecil dan tak terhitung jumlahnya mengisi ruang dengan getarannya yang halus, menjadi bagian tak terpisahkan dari simfoni alam yang ajaib. Menangkap jangkrik? Ah itu sudah rutinitas yang wajib. Kandangnya sangat unik, karena dikurung ke dalam sebuah kotak terbuat dari ‘bilopa’, yang sengaja didesain mirip radio transistor. Saat malam tiba, para jangkrik pun ‘menyiar’ mengiringi kami yang menuju mimpi malam.

Pada masa itu, belum banyak ‘bundu-bundu’, istilah untuk UMKM warung kecil, yang menjual snack berbagai merk seperti hari ini. Kami menyebutnya ‘garoppo’. Praktis, anak-anak kecil seperti kami lebih leluasa punya alasan untuk menjelajahi pohon-pohon yang buahnya bisa dijadikan camilan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2