Kisah Para Pemburu Buah Dao di Pesisir Sungai

Klikhijau.com - Tidak ada ‘mesin waktu’ terbaik untuk pulang sejenak ke masa silam, selain mengendarai kenangan. Dengan ingatan, kita bisa tiba ke sebuah lekuk waktu di masa kecil saat wajah berkerut...

Kisah Para Pemburu Buah Dao di Pesisir Sungai
Bacakan Artikel

Selain dao, ada pula buah yang rasanya sangat menyebalkan, yaitu songi. Rasanya kecut sekali. Namun buah yang paling ‘meresahkan’adalah ‘settung’, jenis lainnya adalah ‘kacapi’. Betapa tidak meresahkan, jauh kami berjalan tapi kerap ada yang lupa membawa garam.

Kampung kami, Palampang, di utara Kabupaten Bulukumba,  punya beberapa area paling mengesankan di bagian pinggirannya. Kami kerap menjelajahi Liku Bajang yang   menantang, melintasi Hakke Bahie yang sebenarnya di masa sekarang adalah serupa ‘tempat uka-uka’.

Kadang kami berendam berlama-lama di sungai yang mengalir dengan riang. Mandi di pancuran dengan derasnya air yang menyegarkan.

Namun , kami tidak pernah bertemu dengan babi hutan. Anehnya, saat kami dewasa, babi hutan justru sering muncul di ladang-ladang para petani,  Apakah wilayah kekuasaan mereka terganggu? Babi hutan, yang tak pernah kami jumpai di masa kanak-kanak, tiba-tiba muncul dengan ganas.

Tak heran, perburuan babi hutan kadang dilakukan oleh para pemburu resmi dengan ekspedisi berilid-jilid. Namun babi hutan tak kunjung tertumpas. Agaknya, babi hutan mampu menjaga populasi mereka dengan baik.

Apakah kelangkaan sumber makanan di kawasan hutan mendorong mereka menyerbu lahan pertanian dan ladang? Entahlah.

Di sepanjang rute petualangan kami masa kecil dulu, tidak ada secuil pun sampah plastik. Ada sejumlah sampah namun bisa diurai oleh alam, seperti daun pisang bekas pembungkus kue putu, sanggara unti, apem, atau pun cacing umpan untuk memancing yang ditinggalkan oleh orang-orang dewasa.

Tidak ada sampah plastik karena masa itu kami nyaris tidak pernah makan snack. Ritel-ritel belum ada. Bundu-bundu belum menjual segala macam ‘kue aneh’ yang ringan dan tak mengenyangkan seperti sekarang

Kami jadi punya mimpi kampung kami dipenuhi bundu-bundu yang menjual khusus gogoso dan lemmang di pagi hari. Ada yang menjual tenteng dan kue-kue tradisional lainnya. Dan tentu saja tidak ada yang dibungkus plastik. Hanya satu yang tidak boleh dijual, yaitu buah songi!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2