Alarm Bahaya, Hutan Tropis Dapat Berubah dari Penyerap Karbon Menjadi Sumber Karbon

Klikhijau.com - Secara historis, hutan tropis berperan sebagai paru-paru bumi. Mereka menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dan melepaskan oksigen sebagai balasannya. Hutan memiliki kemampuan...

Alarm Bahaya, Hutan Tropis Dapat Berubah dari Penyerap Karbon Menjadi Sumber Karbon
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Secara historis, hutan tropis berperan sebagai paru-paru bumi. Mereka menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dan melepaskan oksigen sebagai balasannya.

Hutan memiliki kemampuan menakjubkan sebagai penyerap karbon. Perannya sangat penting. Terutama dalam melawan peningkatan kadar gas rumah kaca dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Karena itu, melestarikan dan menjaga hutan tropis adalah keharusan. Hanya saja jika hutan tropis mengalami anomali iklim ekstrem seperti El Niño. Perannya sebagai penyerap karbon bisa berubah jadi sumber karbon.

Jika fungsi hutan tropis benar-benar berubah arah. Secara otomatis alarm bahaya sedang berbunyi nyaring.

Belum lama ini, sebagaimana dilansir dari Earth, sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr. Amy Bennett dari Universitas Leeds mengungkapkan hal tersebut.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kemampuan hutan tropis untuk menyerap karbon. Mengalami penurunan selama kondisi panas dan kering yang ekstrem.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change itu merupakan upaya kolaboratif. Tim peneliti memanfaatkan sumber daya dari jaringan penelitian RAINFOR dan PPBio.

Lebih dari 100 ilmuwan dengan cermat mengukur hutan selama beberapa dekade. Studi mereka mencakup 123 plot percobaan yang mencakup Amazon, Atlantik, dan hutan tropis yang lebih kering di Amerika Selatan.

Upaya yang dilakukan adala pengambilan data yang rumit, yang dengan susah payah dicatat per pohon. Hasilnya mengungkapkan bahwa selama hampir tiga dekade, sebagian besar hutan ini berfungsi sebagai penyerap karbon yang dapat diandalkan.


Dari 123 plot yang diteliti, 119 plot mengalami kenaikan suhu rata-rata bulanan sebesar 0,5 derajat Celcius, dan 99 plot mengalami defisit air.

Bisa ditebak, ketika suhu naik, kondisinya akan lebih kering. Sebelum terjadinya El Niño, para peneliti memperkirakan bahwa lahan ini menyerap sekitar sepertiga ton karbon per hektar setiap tahunnya. Namun angka ini anjlok hingga nol di tengah bencana yang disebabkan oleh El Niño.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2