PSEL, Solusi Palsu di Tengah Krisis Sampah

Klikhijau.com - Beberapa waktu lalu, pemerintah kembali menggulirkan wacana percepatan proyek Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Melalui Perpres No. 109 Tahun 2025, pemerintah berharap pro...

PSEL, Solusi Palsu di Tengah Krisis Sampah
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Beberapa waktu lalu, pemerintah kembali menggulirkan wacana percepatan proyek Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Melalui Perpres No. 109 Tahun 2025, pemerintah berharap proyek ini menjadi jalan keluar dari persoalan sampah di perkotaan sekaligus menambah pasokan energi terbarukan nasional.

Di sejumlah kota besar, seperti Surabaya, Surakarta, dan Jakarta, proyek ini diklaim mampu mengubah tumpukan sampah menjadi sumber listrik yang “bermanfaat”.

Namun, di balik narasi hijau yang dikedepankan, banyak pertanyaan mendasar belum terjawab. Sejauh mana teknologi ini benar-benar menyelesaikan krisis sampah? Apakah benar energi yang dihasilkan lebih besar dari dampak ekologis yang ditimbulkan?

Paradoks PLTSa

Secara nasional, timbulan sampah Indonesia mencapai sekitar 33,8 juta ton per tahun, dengan sekitar 40,1 persen di antaranya belum terkelola secara layak. Target pemerintah untuk mengurangi 30 persen dan menangani 70 persen sampah pada 2025 masih jauh dari tercapai.

Di tengah situasi ini, proyek Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) hadir dengan janji teknologi mutakhir, seolah mampu menyelesaikan dua krisis sekaligus—sampah dan energi.

[irp]

Namun, pengalaman lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Dari 12 kota yang direncanakan memiliki fasilitas PSEL, hanya dua yang beroperasi: PLTSa Benowo di Surabaya dan PLTSa Putri Cempo di Surakarta. Sisanya masih mangkrak, menandakan bahwa teknologi ini tidak sesederhana yang dibayangkan.

Masalah utama terletak pada karakter sampah Indonesia. Sekitar 60 persen sampah dihasilkan dari bahan organik basah yang memiliki kadar air tinggi, sehingga tidak cocok untuk dibakar langsung. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembangkit berbasis sampah (PLTSa) justru dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih tinggi daripada pembangkit batu-bara.

Akibatnya, proses pembakaran sering kali tidak efisien dan memerlukan tambahan bahan bakar fosil seperti gas atau solar untuk menjaga suhu tinggi. Alih-alih menghasilkan energi bersih, proses ini justru menambah emisi karbon dan beban biaya operasional.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2