Pohon Langit di Borong Karamaka

Borong Karamaka benar-benar sunyi dan tenang, jauh dari gemuruh peradaban manusia. Pepohonan yang menjulang tinggi berbisik dalam diam, angin yang menelusuri dedaunan seolah membawa rahasia dari masa...

Pohon Langit di Borong Karamaka
Bacakan Artikel

Borong Karamaka benar-benar sunyi dan tenang, jauh dari gemuruh peradaban manusia. Pepohonan yang menjulang tinggi berbisik dalam diam, angin yang menelusuri dedaunan seolah membawa rahasia dari masa yang jauh.

Fira berdiri di tengah hutan, dikelilingi oleh akar-akar yang tampak hidup dan cabang-cabang yang menjangkau langit. Di hadapannya, Pohon Langit, sosok raksasa yang telah berusia entah berapa ribu atau jutaaan tahun, menjulang dengan keagungan yang sulit dipahami. Bagi masyarakat Ammatoa Kajang, hutan ini adalah lebih dari sekadar pohon—ia adalah penjaga keseimbangan antara langit dan bumi, penghubung antara dunia manusia dan dunia para leluhur.

Namun, Fira, gadis Bandung dan mahasiswa astronomi dari Universitas Yale, tidak melihat pohon ini dengan cara yang sama. Di balik keheningan hutan dan mitos yang mengitarinya, ia menangkap sesuatu yang lebih konkret—sinyal elektromagnetik yang tidak bisa dijelaskan oleh pengetahuan manusia biasa. Frekuensi yang ia tangkap beberapa bulan sebelumnya berasal dari sini, dari tengah hutan ini, di mana Pohon Langit berdiri. Frekuensi yang aneh, seperti pesan yang datang dari kedalaman bumi atau mungkin dari luar angkasa. Pesan yang menunggu untuk dipecahkan.

Namun, sebelum dia melangkah lebih jauh ke dalam hutan, Ammatoa—pemimpin adat Kajang—menghentikannya. "Hutan ini bukan untuk orang luar," suara Ammatoa terdengar berat, penuh dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Kau tak akan mengerti apa yang dijaga oleh pohon ini. Keseimbangan di sini harus dijaga. Ini bukan hanya soal manusia dan alam, ini soal batas-batas yang tidak boleh dilanggar."

Fira mengingat kata-kata Ammatoa dengan jelas. Wajah tua itu penuh dengan kebijaksanaan, namun juga ketakutan. "Tanah ini adalah tanah asal," katanya pelan, namun tegas. "Dari tanah inilah Sang Maha Pencipta mengambil segenggam untuk membentuk manusia pertama. Pohon ini adalah penjaga. Mereka yang mencoba mengganggu keseimbangan akan menghadapi kemarahan yang tak terelakkan."

Tetapi Fira, dengan latar belakang ilmiah dan skeptisisme yang telah ditanamkan sejak awal pendidikannya, merasa bahwa ada lebih dari sekadar mitos di balik pohon ini. Ia telah mempelajari fenomena alam dan kosmos selama bertahun-tahun, dan sinyal yang diterima dari pohon ini bukanlah kebetulan. Ia melihatnya sebagai pesan yang tersembunyi, mungkin jejak teknologi yang hilang atau sisa-sisa dari peradaban kuno yang telah lama lenyap dari sejarah.

Kata-kata Ammatoa bergaung di pikirannya, namun ketertarikan ilmiahnya jauh lebih kuat daripada peringatan leluhur yang tak kasat mata. Pohon ini memancarkan sinyal, dan sinyal itu harus dipecahkan. Tanpa peduli pada risiko yang mungkin ia hadapi, Fira melangkah lebih dalam ke dalam hutan, setiap langkahnya seolah membawa dirinya semakin dekat ke inti misteri yang tak seorang pun dapat menjelaskan.

Monitor di tangannya terus berdengung. Frekuensi yang ia tangkap semakin kuat, semakin jelas. Pola-pola yang tadinya tampak acak mulai membentuk sesuatu yang lebih teratur, seolah-olah ada sistem di baliknya, sebuah kecerdasan yang mencoba mengirimkan pesan. Fira merasa tanah di bawah kakinya mulai bergetar perlahan, getaran yang halus namun terasa menembus tubuhnya. Ada sesuatu yang hidup di bawah tanah ini—sesuatu yang bukan sekadar akar atau batu. Sesuatu yang jauh lebih dalam.


Ia teringat penelitiannya tentang pohon-pohon tertua di dunia—Redwood di California, Boabab di Afrika Selatan, Pohon Ginkgo di Cina. Semua pohon ini telah hidup ribuan tahun, menyimpan sejarah dan perubahan bumi di setiap serat kayunya. Tapi Pohon Langit ini berbeda. Ada sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang tersembunyi di bawah permukaannya.

Saat Fira menyentuh batang pohon itu, getaran yang terasa semakin kuat. Sebuah cahaya lembut mulai memancar dari dalam pohon, seolah-olah pohon itu merespons sentuhannya. Akar-akar yang menjalar di bawah tanah mulai bersinar samar, dan monitor di tangannya mulai menangkap sinyal-sinyal yang semakin intens.

Dunia di sekitarnya tetiba bergetar. Fira merasakan tubuhnya menjadi ringan, seolah-olah gravitasi tak lagi mempengaruhinya. Ia menutup matanya sesaat, dan ketika ia membukanya kembali, pemandangan di hadapannya telah berubah. Akar-akar yang sebelumnya diam, kini tampak bergerak, menjalar tidak hanya ke dalam tanah tetapi juga ke luar angkasa. Di depan matanya, ia melihat jaring-jaring energi yang menghubungkan setiap pohon kuno di dunia—Redwood, Boabab, Ginkgo—semua terhubung dalam jaringan kosmik yang tak terlihat oleh mata manusia biasa.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2