Filosofi dari Kesederhanaan Hidup Masyarakat Adat Ammatoa Kajang

oleh -82 kali dilihat
Filosofi dari Kesederhanaan Hidup Masyarakat Adat Ammatoa Kajang
Gerbang suku Kajang, Ammatoa

Klikhijau.com – Isu kerusakan lingkungan semakin krusial dan nampak semakin kompleks.

Perkembangan zaman membawa dunia kearah multidimesi, dorongan pertumbuhan ekonomi nampaknya juga berefek pada makin menjamurnya industri ekstraktif seperti tambang. Begitu pula dengan pembangunan infrastruktur raksasa yang mobilisasi dan alokasinya tampak serampangan, tanpa memperhitungkan daya dukung daya tampung lingkungan.

‘‘Apakah benang merah dari segala sengkarut permasalahan lingkungan diakibatkan oleh kebebalan dan keserakahan atau itu ketidaktahuan kita saja?’’

Dirkursus perihal lingkungan membawa saya bertemu pada sebuah ruang kolektif yang mempertemukan tiga lapisan kosmologis; Supranatural (Tuhan), Natural (Alam) dan Human (manusia). Manifestasi tiga hal ini tergambar dalam kehidupan komunitas/suku Adat Ammatoa kajang.

KLIK INI:  Selain Swiss, 6 Negara Ini Memiliki Kualitas Air Terbaik di Dunia

Histori masyakat adat Ammatoa Kajang

Sejak berabad-abad yang lampau hingga saat sekarang ini, masyarakat adat Ammatoa Kajang masih tetap konsisten mempertahankan kebudayaan secara turun-temurun.

Suku yang dikenal dengan sebutan ‘to kajang’ yang artinya orang kajang, identik dengan simbolisasi pakaian hitam dan passapu (lipatan kain di atas kepala).

Filosofi nenek moyang, tertuang dalam ajaran ‘Pasang ri kajang’, istilah Pasang yang secara harfiah, berarti ‘pesan’. Akan tetapi dalam benak masyarakat kawasan Adat Ammatoa, Pasang mengandung makna yang lebih dari sekedar sebuah pesan.

Ia lebih merupakan sebuah amanah yang sifatnya sakral. Pasang menjadi kerangkah acuan dan sistem pengetahuan tradisional masyarakat dalam pola keterkaitan hubungan antara Supranatural (Tuhan), Natural (Alam) dan Human (Manusia).

Bagi masyakat Adat Ammatoa, sistem ajarannya, dipercaya bersumber dari turie A’rana (Tuhan) yang telah diwariskan turun-temurun dari generasi ke gerenasi.

KLIK INI:  Rangkaian Inkonsistensi PT. Lonsum di Kajang Versi FMN Makassar yang Tak Kunjung Selesai

Pasang diwujudkan dalam kesederhanaan dan kebersahajaan hidup, yang dalam istilah masyarakat adat ammatoa disebut prinsip hidup kamase-masea atau hidup sederhana yang merupakan hakikat paling inti dari Pasang.

Pasang merupakan sesuatu yang wajib hukumnya untuk dituruti, dipatuhi dan dilaksanakan, yang bila tidak dilaksanakan, akan berakibat munculnya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti rusaknya keseimbangan sistem sosial dan ekologis.

Nilai kearifan ekologis Adat Ammatoa

Ada sebuah kebiasaan masyarakat kawasan adat Ammatoa kajang, mereka tidak mengunakan alas kaki dalam melakukan aktivitasnya sehari-sehari. Alasannya sangat filosofis sekali; bagi mereka pemakaian alas kaki seperti sandal dan sepatu, adalah bentuk kesombongan pada bumi, dan untuk tetap merendah adalah dengan tidak menggunakan alas kaki.

Transformasi  pengetahuan tradisional yang tertuang dalam pasang ri kajang, ternyata memuat nilai-nilai dan prinsip ekologis. Ini dapat ditelaah dari persepsi mereka terhadap alam; ‘’jagai linoa lollong kammayya tompa langika siagang rupa taua siagang boronga’’, yang artinya pelihara bumi beserta isinya demikian pula langit manusia dan hutan.

KLIK INI:  Kearifan Ekologis Masyarakat Adat Kajang dalam Melestarikan Lingkungan

Menjaga dapat diartikan sebagai upaya mereka untuk tidak mengerus sumber daya alam secara berlebihan. Ditaati oleh mereka sebagai kebenaran yang pantang untuk dirubah.

Selain itu, ada juga sebuah ritus yang memberi tendensi keterikatan mereka dengan alam merupakan satu bagian fundamental. Ritual itu disebut ‘Attu’nu  Panroli’ (membakar linggis).

Ritual ini akan dilakukan ketika ada seorang individu yang merusak lingkungan contohnya menebang pohon. Dan tidak mau mengakui perbuatannya. Dengan jangkah waktu tertentu telah diperingatkan, namum tidak kungjung mengakui maka bentuk final pengujiannya dilakukan  ritual Attu’nu  Panroli.

Attu’nu Panroli adalah sebuah ritual membakar linggis ke dalam panas api yang membara, salah satu titik yang menjadi penentu dalam ritual ini terkait persoalan benar dan salah  akan terang ketika individu memegang linggis. Yang bersalah akan merasakan panas, demikian juga sebaliknya. Ketika individu tidak melakukan kesalahan maka tidak akan merasakan panas.

Hingga saat ini ritus ini belum dapat dijelaskan, kenapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi.

KLIK INI:  Perihal Green Living, Cara Menerapkan, dan Manfaatnya

Koneksi mereka terhadap alam  tidak terlepas dari sistem kepercayaan yang dianut oleh mereka. Mereka percaya pada leluhur mereka atau dalam hal ini manusia pertama Mulatau (orang pertama di bumi),  turun dari langit ke bumi melalui hutan di kawasan mereka dan naik kembali ke langit melalui hutan.

Dengan kepercayaan itu masyarakat Adat Ammmatoa kajang mengsakralkan hutan. Persepsi sakral terhadap ekosistem hutan, teringtegrasi ke dalam sistem sosial dan kemudian mengatur pola tindakan dan perlakuan mereka terhadap lingkungan sebagai norma yang harus ditaati. Salah satunya tidak menebang kayu, memburu satwa, dan mencabut rumput sembarangan/ serta mengembala ternak di kawasan hutan.

Persepsi akan sikap hidup yang diterapkan masyarakat Adat Ammatoa Kajang, mengisolir diri dalam maksud menghindarkan diri mereka dari segala perbuatan yang tidak tercantum dalam pasang.

‘‘Ako kaitte-itte ri sahocinde tappanging, ri caula tahimba-himba’’, yang artinya lebih mengutamakan hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan agar mendapat kekayaan dari sang pencipta di akhirat nanti.

Prinsip hidup kamase-masea, sebagaimana yang tetap mereka pegang teguh dengan sistem nilai, lambusu (jujur), gattang (tegas), sabbara (sabar) dan appisona (pasrah).

Prinsip hidup inilah yang membersamai cara pandang, sikap hidup dan koneksi mereka terhadap alam. Masyarakat Adat Ammatoa yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional memanfaatkan dan mengelola lingkungan secara arif. Dan polarisasi kebudayaannya dapat dipandang sebagai suatu mekanisme pengontrol yang bisa dijadikan rujukan untuk mengkonstruk ulang dasar filosofis prinsip-prinsip ekologis dalam dirkursus yang lebih diwarnai dengan tindakan mementingkan lingkungan.

KLIK INI:  Jalan Terjal Perjuangan Pengesahan Undang-undang Masyarakat Adat