Pohon Kehidupan

Kakiku basah oleh air mataku sendiri. Aku berjalan sambil menunduk. Aku tak bisa menahan sedih karena harus ditetak pisah. Umurku saat itu baru lima tahun satu bulan dua puluh empat hari. Masih ter...

Pohon Kehidupan
Bacakan Artikel

Kakiku basah oleh air mataku sendiri. Aku berjalan sambil menunduk. Aku tak bisa menahan sedih karena harus ditetak pisah.

Umurku saat itu baru lima tahun satu bulan dua puluh empat hari. Masih terlalu bocah untuk merangkum semua kenangan, semua peristiwa yang merasuk ke kepalaku.

Aku ingat, saat itu, ketika sore, tubuhku panas dan dianggap biasa saja oleh kedua orang tuaku. Aku memang terbiasa sakit, yang membuat panik semua orang.

Saat diperiksa, dokter menemukan kelainan salah satu saraf di kepalaku bermasalah. Membuatku mudah sakit serupa orang epilepsi. Bahkan dokter menvonis, jika penyakitku tak segera diobati.

[irp]

Penyakit itu akan ikut tumbuh berumah dalam diriku. Dan itu akan merampas segala senyumku. Menciptakan ketakukan bagi orang yang mencintaiku dan membuka pintu bagi yang tak menyukai hadirku dengan celaan.

Pada hari Rabu sore, aku melihat dua orang yang entah berjenis kelamin apa berkunjung ke rumah. Mereka menatapku penuh cinta. Wajah keduanya teduh dan aku segara ingin ikut kepada mereka.

Malam di malam Kamis. Ketika orang tuaku telah pulas. Kedua orang itu datang lagi, entah lewat mana. Sebab semuaa pintu telah tertutup.

Keduanya mengajakku bermain. Menghadiahi kupu-kupu entah dari taman mana. Naluri bocahku buncah. Aku ingin memiliki kupu-kupu itu. Kupu-kupu yang tak pernah kutemui sebelumnya. Sayapnya sangat indah dengan kepakan yang lembut.

โ€œSabar, tak lama lagi kamu akan sampai ke taman kupu-kupu ini berasal. Besok, sebelum malam berakhir aku akan datang menjemputmu,โ€ ujar salah satu dari mereka. Dan itu buatku tak bisa lena hingga pagi.

Pagi harinya, setelah Ibu menyiapkan susu. Aku membaringkan tubuh lemasku di pangkuan Ayah di depan TV sambil menikmati acara kesukaankuโ€”film kartun. Karena kurang tidur, kepalaku berat danย  perut terasa koyak. Muntahku berhamburan memenuhi karpet. Aku langsung ambruk tak sadarkan diri. Dan dua orang itu datang lagi membawakan lebih banyak kupu-kupu. Maka aku memilih tak bangun.

[irp]

Kudengar Ibu menangis panik. Wajah Ibu pasti kusut, kecantikannya pasti dirampas kesedihan. Aku ingin mengatakan padanya, tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Tapi suaraku tak bisa keluar, napasku berat dan kupu-kupu kian banyak mengitariku, seakan mereka datang menjemput menuju taman yang dijanjikan dua orang yang entah berjenis kelamin apa itu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: