Pembalut Kain Ubah Stigma Perempuan sebagai Kontributor Kerusakan Lingkungan

Klikhijau.com – Pembalut dan perempuan, dua hal yang tak bisa terpisahkan. Perempuan rata-rata menggunakan 10 ribu pembalut   selama masa subur. Bisa dibayangkan betapa banyaknya pembalut yang diha...

Pembalut Kain Ubah Stigma Perempuan sebagai Kontributor Kerusakan Lingkungan
Bacakan Artikel

Dua tahun kemudian, yakni   2018 Biyung akhirnya lahir, lalu dua rekannya mulai bergabung pada akhir tahun itu.

Pemilihan nama Biyung sendiri bukan tanpa alas an. Nama itu diambil dari bahasa Jawa, Biyung yang berarti Ibu.

"Kita lahir dari ibu, entah itu ibu lahiriah kita atau ibu bumi, kita bisa jadi ibu termasuk ibu dari anak kebaikan," tutur Ani seperti dikutip dari Suarajogjacom.

Penggunaan pembalut bagi perempaun, menurut Ani adalah keterpaksaan karena ada anggapan yang terbangun.

[irp]

Anggapan itulah menggiring perempuan yang sedang menstruasi menggunakan pembalut sekali pakai, sebagai solusi yang dianggap paling praktis dan tak mengganggu produktivitas.

Dampaknya terhadap lingkungan pun kian terasa dan mencemaskan. Setidaknya terdapat 70 juta perempuan menstruasi aktif di seluruh Indonesia. Jika jumlah itu dikali berarti dalam sebulan ada sekitar 1,4 miliar pembalut yang terbuang.

“Dan itu kalau kita bicara lingkungan sampah cuma 35 persen yang selamat di daratan selebihnya ke laut,"  beber Ani.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: