Persoalan Lingkungan Menjadi Ruang Belajar Mahasiswa

Persoalan Lingkungan Menjadi Ruang Belajar Mahasiswa
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari UNM, Bahrul Amsal dan Alwi Usra Usman mendampingi mahasiswa ke tempat magang. - Foto: Andi Fitrah Maulana/Klikhijau.
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Persoalan lingkungan yang kompleks, mulai dari sampah, krisis iklim tekanan terhadap ekosistem mangrove, hingga kebutuhan memperkuat keterlibatan publik dalam isu lingkungan tidak cukup hanya dibicarakan di ruang kelas. Di tengah persoalan itu, mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar langsung, membaca masalah, merancang program, membangun kolaborasi, melakukan riset, sekaligus menguji pengetahuan akademiknya di lapangan.

Ruang belajar tersebut kini dijalani lima mahasiswa melalui program magang dan Proyek Kemanusiaan Kampus Berdampak (MBKM) di KlikHijau, Mereka terdiri atas tiga mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Makassar (FIS-H UNM), yakni Nur Adriani, Ulfia Kalsum, dan St. Nashwa Wahdania Azis, serta dua mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Muhammad Yunus dan Reihan Zainal.

Selama sekitar empat bulan pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, kelima mahasiswa akan belajar di lingkungan kerja media dan organisasi lingkungan. Mereka berkesempatan terlibat dalam perancangan program, riset, kolaborasi, dan berbagai aktivitas yang bersinggungan langsung dengan persoalan sosial dan lingkungan.

KlikHijau bekerja sebagai platform media lingkungan yang mengembangkan kerja jurnalistik sekaligus terlibat dalam edukasi, kampanye, riset, dan kolaborasi di lapangan. Kanal utamanya dijalankan melalui KlikHijau.com dan berbagai media sosial, pengembangan kanal YouTube.

Di luar kerja media, tim KlikHijau terlibat dalam sejumlah isu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Persoalan sampah menjadi salah satunya, melalui riset dan liputan bersama yang dikerjakan dengan jaringan media dan organisasi.

Isu mangrove juga menjadi bagian dari kerja tersebut, termasuk melalui kelompok daerah yang bergerak pada isu mangrove dan jejaring kolaborasi yang lebih luas.

Bagi mahasiswa, keterlibatan ini membuat persoalan lingkungan dapat dipelajari dalam bentuk yang konkret. Mereka bisa melihat persoalan ekologis melalui teori, juga berhadapan dengan kebijakan, perilaku masyarakat, kepentingan ekonomi, komunikasi publik, hingga kerja organisasi.

Persoalan sampah, misalnya, tidak selesai ketika sampah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Di belakangnya terdapat pola konsumsi, kebiasaan warga, tata kelola pemerintah, mata pencaharian kelompok tertentu, kepentingan ekonomi, serta penerimaan masyarakat terhadap kebijakan.

Karena itu, memahami dimensi sosial menjadi bagian penting sebelum sebuah intervensi dirancang.

KlikHijau juga memiliki sejumlah kegiatan yang dapat menjadi ruang belajar lapangan. Di antaranya kawasan dampingan yang diarahkan menjadi ruang edukasi dan kampanye mangrove, pendampingan kelompok masyarakat, serta rencana pengembangan rumah maggot bersama komunitas.

Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa kerja lingkungan tidak berhenti pada produksi informasi. Ada proses membangun hubungan dengan komunitas, merancang program, mengembangkan jejaring, melakukan kampanye, hingga mendampingi kelompok masyarakat.

Kehadiran mahasiswa dari dua bidang keilmuan membuka ruang pembelajaran yang berbeda. Mahasiswa Sosiologi dapat membawa perspektif tentang masyarakat dan dinamika sosial, sementara mahasiswa Hubungan Internasional memiliki latar keilmuan yang berkaitan dengan relasi antaraktor dan dinamika hubungan lintas kepentingan.

Namun, pengalaman di lapangan mempertemukan keduanya pada persoalan yang sama, bagaimana sebuah isu lingkungan dipahami, dikomunikasikan, dan dikerjakan bersama.

Di titik tersebut, kerja kolaboratif menjadi penting.

Direktur KlikHijau Makassar, Anis Kurniawan, mengatakan mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai peserta magang yang menunggu instruksi. Mereka didorong untuk membangun inisiatif, membaca peluang, berkomunikasi dengan banyak pihak, dan berani mengambil tanggung jawab.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: