Pembalut Kain Ubah Stigma Perempuan sebagai Kontributor Kerusakan Lingkungan

Klikhijau.com – Pembalut dan perempuan, dua hal yang tak bisa terpisahkan. Perempuan rata-rata menggunakan 10 ribu pembalut   selama masa subur. Bisa dibayangkan betapa banyaknya pembalut yang diha...

Pembalut Kain Ubah Stigma Perempuan sebagai Kontributor Kerusakan Lingkungan
Bacakan Artikel

Menurut penelitian, di dalam pembalut perempuan sekali pakai terdapat gel yang belum tentu aman bagi organ reproduksi. Pengisi utamanya bahkan tidak 100% kapas asli, kadang terdapat campuran serbuk kayu dan kertas bekas, sehingga bahan pembalut tersebut pada umumnya diberi tambahan pemutih dan pewangi yang berpotensi memicu kanker rahim.

Maka solusi yang tepat adalah penggunaan pembalut kain. Salah satu yang menggagas hal itu adalah Westiani Agustin

Westiani Agustin atau biasa disapa Ani merupakan salah seorang pemerhati lingkungan. Ia mendirikan usaha bernama  Biyung.

Wanita 43 tahun itu mendirikan Biyung sebagai bagian dari gerakan lingkungan. Kecintaannya terhadap lingkungan membuatnya mendirikan gerakan itu.

Ani tidak sendiri bergerak, ia dibantu oleh putri dan dua rekannya. Biyung adalah aktivitas dan gerakan sosial yang memproduksi pembalut kain.

Perempuan bantu perempuan

[irp]

"Ada satu persoalan yang menyatakan bahwa perempuan itu kontributor kerusakan lingkungan, itu jadi keresahan panjang selama beraktivitas di pendidikan lingkungan," keluhnya.

Ide mendirikan Biyung dengan tagline “Perempuan Bantu Perempuan, untuk Kebaikan Perempuan dan Ibu Bumi” itu bermula proyek home schooling anak-anaknya.

Saat itu dikisaran tahun 2016 Ani  dan putrinya masih melakukan proses penelitian dan pengembangan pembalut kain untuk dipakai secara pribadi.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: