Menggunakan Kompos Lebih Hemat dan Dapat Mendongkrak Hasil Panen

oleh -21 kali dilihat
Cara Membuat Media Tanam Terbaik untuk Sayuran Segar
Ilustrasi peggunaan pupuk kompos pada tanaman/foto-liputan6

Klikhijau.com – Sampah organik bagi sebagian orang tak memiliki nilai. Karena itu, biasanya dibuang saja.  Sementara bagi sebagian lainnya, sampah organik memiliki nilai yang lebih.

Salah satu  nilai lebih dari jenis sampah ini adalah dapat dijadikan pupuk kompos. Kompos merupakan salah satu pupuk organik buatan manusia.

Pembuatan  pupuk ini adalah melalui pembusukan sisa-sisa bahan organik, baik itu tanaman maupun hewan.

Proses pengomposan sendiri dapat berlangsung secara aerobic dan anaerobic. Keduanya saling menunjang dalam kondisi lingkungan tertentu. Proses ini disebut juga penguraian atau dekomposisi.

KLIK INI:  Miris, Bahkan Bayi yang Belum Lahir Sudah Terpapar Mikroplastik

Sebenarnya cara pembuatan pupuk kompos hanya meniru proses pembentukan humus di alam. Hanya saja ada campur tangan manusia di dalamnya, yakni dengan merekayasa kondisi lingkungan.

Lama pembuatan kompos umumnya 30 hingga 90 hari. Ketika prosesnya telah usai, maka kompos bisa digunakan.

Manfaat yang diberikan pupuk ini cukup melimpah, di antaranya dapat memberikan nutrisi pada tanaman, meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK). KTK sendiri merupakan sifat kimia yang memiliki keterkaitan erat dengan kesuburan tanah.  .

Manfaat lainnya adalah mampu meningkatkan pH tanah pada tanah asam, dan juga mampu meningkatkan ketersediaan unsur mikro

Karena manfaatnya sangat baik untuk tanah dan tumbuhan, maka pupuk kompos bisa mendongkrak hasil panen para petani.

Di samping itu, menurut para ahli  bahwa menggunakan kompos yang dapat meningkatkan produksi tanaman global dan membantu mengurangi perubahan iklim.

KLIK INI:  Jangan Langsung Dibuang, Ini 5 Manfaat Ampas Eco-Enzyme Pasca Panen!

Profesor Susanne Schmidt dari University of Queensland menjelaskan bahwa tanah memainkan peran penting dalam memastikan ketahanan pangan global.

Hanya saja, menurutnya saat ini 30 persen tanah pertanian dunia diklasifikasikan sebagai terdegradasi, dengan proyeksi bahwa ini bisa meningkat menjadi 90 persen pada tahun 2050 mendatang.

Karena itu, Profesor Schmidt menyarankan bahwa mengadopsi Strategi Kompos Presisi (PCS) dalam pertanian skala besar dapat meningkatkan hasil panen dan kesehatan tanah, dan akan menjaga biowaste agar tidak berakhir di TPA yang melepaskan gas rumah kaca yang berbahaya.

“Daripada hanya mengandalkan pupuk mineral, PCS melibatkan penambahan jenis kompos yang tepat dengan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tanah dan tanaman,” kata Profesor Schmidt.

KLIK INI:  Mengenai Limbah Cat, Ancaman, dan Cara Pengolahannya
Lebih menghemat

Tidak hanya itu, Profesor Schmidt juga mengungkapkan, jika manusia menggunakannya Kembali kompos, maka dapat memulihkan karbon penting di tanah lapisan atas lahan pertanian. Termasuk ada keuntungan biaya karena mampu mengalihkan hanya 15.000 ton biowaste dapat menghemat anggaran lokal sebesar $2-3 juta per tahun.

“Tanah yang sudah padat dan asam kemudian diangin-anginkan dan dinetralkan. Hasilnya adalah mereka dapat menahan lebih banyak air, memfasilitasi pertumbuhan akar dan memberi makan organisme yang menjaga tanah dan tanaman tetap sehat.”

Para peneliti memperkirakan bahwa kompos presisi dapat meningkatkan produksi global tahunan tanaman sereal utama sebesar 96 juta ton.

“Ini memiliki efek mengalir bagi konsumen dengan mengatasi kekurangan pangan dan kenaikan harga,” kata Profesor Schmidt.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Food dan didukung Fight Food Waste CRC itu juga menunjukkan bahwa menerapkan strategi kompos presisi untuk pertanian skala besar dapat membantu mengurangi perubahan iklim.

“Di Australia saja, lebih dari 7 juta ton biowaste berakhir di TPA setiap tahun di mana ia menghasilkan sejumlah besar gas rumah kaca yang dapat dihindari dan efek yang tidak diinginkan lainnya,” kata Profesor Schmidt seperti dikutip dari Earth.

KLIK INI:  Mengais Rupiah dari Budidaya Belatung