Mencium Aroma Mistik Bambu Kuning dan Ingatan pada Film Laga Indonesia

oleh -142 kali dilihat
Mencium Aroma Mistik Bambu Kuning dan Ingatan pada Film Laga Indonesia
Bambu kuning-foto/Pixabay
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Pendekar bambu kuning memiliki magnet kuat menarik penonton untuk datang menyaksikannya. Itu dulu. Rasa-rasanya tak afdol menyewa video tanpa ada pemutaran film laga yang diproduksi pada tahun 1971 itu.

Film Pendekar Bambu Kuning,  dulu,  pada tahun 1980-an hingga 1990an hanya bisa dinikmati di waktu yang istimewa. Saat ada pesta perkawinan, itu pun jika yang punya hajatan menyewa video.

Video adalah istilah umum yang dipakai masyarakat di kampung saya. Istilah itu berlaku pada seperangkap alat pemutar video lengkap dengan televisinya. Nah, alat inilah yang disewa, biasanya satu paket dengan gensetnya. Itu di kisaran tahun 80 hingga 90 an.

Kaset film Pendekar Bambu Kuning  seingat saya masih berbentuk pita. Ukurannya besar, lebih besar dari ukuran kaset pita radio tempo dulu.

KLIK INI:  Bagaimana Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Tanaman?

Ketika ada pesta dan yang punya hajatan menyewanya, maka berbondong-bondonglah masyarakat pergi menonton—televisi biasanya diletakkan di beranda rumah, diarahkan ke halaman, jadinya  halaman rumah akan sesak oleh penonton.

Di kampung saya saat itu, hanya ada satu orang yang memiliki alat sewa video. Namanya Bandu. Ia berasal dari Kelurahan Borongrappoa. Tapi, karena Bandu satu-satunya yang memilikinya, maka area pelanggannya pun luas, hingga ke kampung saya, Desa Kindang.

Hal yang paling dinanti dan istimewa salah satunya adalah film Pendekar Bambu Kuning yang dibintangi oleh Ratno Timoer, Rita Zahara, Fara Noor. Film ini disutradarai oleh Pitrajaya Burnama, yang diangkat dari komik dengan judul yang sama.

KLIK INI:  Akankah Kita Kehilangan Burung Penyanyi dari Asia Tenggara Itu?
Cukup populer

Karena filmnya cukup populer dan sebagai anak yang tumbuh di kampung, dengan rumpun bambu yang cukup banyak. Kami para anak-anak kerap bertingkah sebagai Pendekar Bambu kuning saat bermain perang-perangan. Meski tongkat yang dipakai bukan bambu kuning, kadang hanya ranting kayu saja

Apalagi di kampung saya juga terdapat bambu kuning, meski tak sebanyak dengan jenis yang lain.

Bambu kuning (Bambusa vulgaris)  biasa di tanam di tepi jurang untuk menghalau longsor. Ada dua jenis bambu ini, satu berwarna kuning, satunya lagi berwarna hijau.

Di kampung saya, Kindang nama jenis bambu ini adalah oro. Untuk yang berwarna kuning, namanya oro gading. Nama ini kemudian digunakan sebagai nama sebuah di desa di Kecamatan Kindang, Bulukumba, yakni Desa Orogading.

KLIK INI:  Durian Bisa Picu Hipertensi, Mitos atau Fakta?
Manfaat bambu kuning

Pemanfaatan bambu jenis ini di masyarakat belum terlalu massif. Paling banter dijadikan pagar saja di kebun. Padahal dalm bambu kuning terdapat kandungan kimia berupa flavonoid. Flavonoid  ini dapat digunakan sebagai antibakteri yang dapat membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa yang merupakan sebuah bakteri penyebab infeksi yang salah satunya adalah infeksi saluran kemih.

Rebusan pada bambu ini juga mengandung saponin dan flavonoida. Tidak hanya itu, bambu kuning ini mengandung sumber potassium yang rendah kalori, serta memiliki rasa manis yang terkenal sebagai sumber protein

Menurut Sujarwo (2010)  bahwa pemanfaatan bambu kuning atau haur koneng di Indonesia banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pengobatan tradisional, salah satunya sebagai obat asam urat.

Ekstrak daunnya memiliki aktivitas antiplasmodium, sementara batangnya memiliki manfaat menyembuhkan penyakit batuk dengan cara batangnya di tebang kemudian meminum airnya, (Hidayat dkk, 2010).

Tidak hanya itu, bagi masyarakat kampung Karangwangi, Cianjur menjadikan air batangnya sebagai peureuh atau air yang diteteskan ke mata. Hal itu  mampu merawat dan menyembuhkan mata, (Partasasmita et al, 2017).

Liana et al, (2017) mengungkapkan pula  bahwa masyarakat Sangir, Sulawesi Utara memanfaatkan batangnya sebagai bahan kontruksi karena jenis ini memiliki batang berlekuk.

KLIK INI:  Kisah Singa-Singa di Taman Al-Qureshi Sudan yang Memilukan
Penuh aroma mistik

Sementara itu, hasil penelitian yang  Mohammad et al (2013) mengungkapkan bahwa Masyarakat Desa Paberasan, Sumenep, Madura banyak menanamnya di sekitar rumah. Mereka percaya bahwa Bambusa vulgaris dapat menangkal makhluk gaib yang ingin mengganggu orang di dalam rumah.

Masyarakat mempercayai bahwa menurut kepercayaan nenek moyang mereka, sejak dahulu Bambusa vulgaris mengandung nilai mistik di masyarakat, khususnya di daerah seperti Paberasan.

Bahkan, ada sebagian orang yang dengan sengaja memotong batangnya kemudian menggantungnya di dinding. Tujuannya agar terhindar dari makhluk gaib yang berniat mengganggu mereka.

Menurut Tantiko (2009) bahwa perilaku sosial masyarakat Indonesia yang masih meyakini takhayul, meyakini Bambusa vulgaris manjur untuk menghalau gangguan makhluk halus dan serangan guna-guna.

Kepercayaan ini kemungkinannya memiliki hubungan erat dengan ilmu fengshui, yakni bambu kuning merupakan sumber energi positif yang sangat kuat sehingga dapat menghalau aliran energi negatif yang datang.

KLIK INI:  Apa Bedanya Akar dan Rimpang? Begini Penjelasan Lengkapnya!