Malam Qunut Ramadan, Tradisi Turun-temurun di Kampung Ini!

Klikhijau.com - Suasana lebaran selalu khas dengan berbagai embel-embel seperti baju lebaran, kue lebaran, suasana silaturahmi, ucapan saling memaafkan dan lainnya. Semua daerah di Nusantara melakukan...

Malam Qunut Ramadan, Tradisi Turun-temurun di Kampung Ini!
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Suasana lebaran selalu khas dengan berbagai embel-embel seperti baju lebaran, kue lebaran, suasana silaturahmi, ucapan saling memaafkan dan lainnya. Semua daerah di Nusantara melakukan itu setiap setelah menunaikan salat ied.

Namun di Bulukumba ada satu tradisi unik yang masih dipertahankan hingga kini yakni tradisi qunut ramadan. Malam qunut adalah malam memperingati tibanya umat muslim di pertengahan bulan suci ramadan. Malam qunut merupakan malam yang istimewa dari malam lain selama bulan ramadan.

Umummya, malam qunut dilalui dengan doa-doa khusus yang akan dilantunkan oleh imam masjid, setelah pelaksanaan salat taraweh. Kemudian diikuti oleh para jemaah.

Ketika telah melaksanakan dan melalui malam qunut, biasanya umat muslim akan berhitung mundur untuk menjemput hari kemenangan di lebaran nanti.

Di Bonto Mangngape, Kelurahan Kalumeme, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, ada satu tradisi unik yang masih dipertahankan oleh masyarakat sekitar. Setiap malam qunut itu, masyarakat akan menikmati sajian menu makanan yang khas saat lebaran. Juga kental dengan kesan silaturahminya.

Proses dalam tradisi ini juga sama dengan proses saat menyambut hari lebaran. Bedanya di momen perayaan tradisi unik ini tak ada takbir, dan baju lebaran. Yang ada hanya sajian menu khas lebaran dan suasana hangat berkumpulnya kerabat dan keluarga yang sudah bisa dirasakan dimalam qunut.

Dua hari sebelum pertengahan bulan ramadan, yakni hari ke 13 ramadan para ibu-ibu akan mempersiapkan komponen dan bahan-bahan untuk membuat panganan khas setempat yakni legese' dan burasa'. Dua makanan khas Sulawesi ini memang senantiasa ada saat lebaran. Namun di Bulukumba, menu ini bisa dinikmati pula saat malam qunut.

Lalu malam harinya, legese' dan burasa' akan masuk dalam proses pembungkusan. Legese' dan burasa' merupakan jenis makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur santan kelapa.

Lalu dibungkus dengan bentuk sedemikian rupa menggunakan daun pisang yang telah dipilah dan dibersihkan. Kemudian keesokan harinya dua makanan khas ini dimasak, selama kurang lebih empat jam. Itu waktu yang pas untuk menciptakan tekstur yang betul-betul empuk dan gurih.

Legese' dan burasa' akan selalu dipasangkan dengan ayam nasu likku, yang juga meruapakan sajian makanan Sulawesi yang khas menggunakan ayam kampung.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2