Langit Mahakam dan Kupu-Kupu Bantimurung

Pohon yang dulu berimbun, tiada hentinya tertiup angin kemarau. Daun-daun yang telah kehilangan klorofil itu berguguran dan berserakan di pekarangan rumah. Hembusan angin kadang kuat dan lemah membawa...

Langit Mahakam dan Kupu-Kupu Bantimurung
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

Pohon yang dulu berimbun, tiada hentinya tertiup angin kemarau. Daun-daun yang telah kehilangan klorofil itu berguguran dan berserakan di pekarangan rumah. Hembusan angin kadang kuat dan lemah membawa hawa panas dan debu. Pancaran hijau yang biasanya menutupi sekeliling rumah berganti menjadi daun-daun kering yang memasrahkan diri pada bumi yang semakin terbawa usia. Embun yang biasa bergantungan pada ujung-ujung daun dan rerumputan di pagi hari tidak terlihat.

Lelaki bernama Anwar itu baru saja terbangun dari tidurnya dengan aroma minyak kayu putih masih menempel di keningnya. Kepalanya sakit dan hidungnya tersumbat. Beberapa hari ini ia tidak lagi ke kantor. Terkena dampak layoff dari perusahaannya. Pagi-pagi Ia mengambil panci dan menjerang air. Membuat secangkir kopi. Harinya kini lebih banyak dihabiskan di rumah dan berkebun. Menanam aneka jenis sayuran; bayam, kankung, dan cabai. Mendadak menjadi petani musiman. Yang setiap pagi ia menunggui daun-daunnya berkecambah. Semata-mata pengisi waktu bagi pria yang ditetak sunyi. Menyiram dan merawatnya agar tidak terkapar panasnya kemarau. Kesenangannya di setiap pagi dan sore. Sembari merenungi nasib dan istrinya.

Siang-siang, Ia keluar rumah hendak memunguti pakaian kering yang terjatuh dari jemuran baju. Pagi sebelum Istrinya berangkat ke Rumah Sakit, Istrinya, Winda, berpesan agar menjemur dan memunguti pakaian jika sudah kering. Winda tidak sempat menjemur karena dikejar waktu. Setelah semalam lembur di Rumah Sakit dan pagi-pagi sudah mesti ke rumah sakit lagi dengan pakaian rapi putih. Tidurnya hanya tiga jam saja. Wajahnya selalu pucat karena kurang tidur. Tidak lagi sempat menyiapkan sarapan untuk suaminya yang sedang sakit. Sudah menjadi resiko bagi anwar yang beristrikan seorang perawat. Kadang ditinggal sendiri ketika Istrinya jaga malam. Mungkin salah satu penyebab kenapa hingga sekarang, setelah tiga tahun pernikahan mereka belum juga mendapatkan momongan. Dan menjadi bahan gunjingan tetangganya. Yang kadang menggangu tidur nyenyak mereka. Sebagai sepasang suami istri, mereka sangat merindukan kehadiran buah hati. Kehidupan mereka seperti tidak terhibur dan kian berjarak.

Di teras rumah Anwar sendirian, Winda sedang jaga malam. Ia mengedarkan pandangan dan sesekali membuka layar ponselnya. Angin berkesiur dingin. Tiba-tiba ada pesan yang menandainya di group WA teman kuliahnya dulu. Yang kini masih aktif mendaki gunung.

“Gimana kabar, Bro?”

“Sehat, kamu bagaimana?”

“Baik Bro. Keluarga?”

“Aman Bro.”

“Oyah ini saya mau ajak pergi healing, siapa tahu mau join sama anak-anak.”

“Kapan?”

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2