Jalan Panjang Perjuangan Masyarakat Toraja Tolak Tambang

Klikhijau.com - Konflik masyarakat dengan perusahaan tambang kembali terjadi di Tana Toraja. Meski bukan termasuk kasus baru, pada 4 Februari lalu masyarakat yang dimotori kelompok pemuda dan mahasisw...

Jalan Panjang Perjuangan Masyarakat Toraja Tolak Tambang
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Konflik masyarakat dengan perusahaan tambang kembali terjadi di Tana Toraja. Meski bukan termasuk kasus baru, pada 4 Februari lalu masyarakat yang dimotori kelompok pemuda dan mahasiswa melakukan aksi penolakan aktivitas tambang yang berada di dua kecamatan di Tana Toraja.

Gerakan penolakan yang dilakukan kelompok masyarakat yang menamakan diri ‘Toraja Tolak Tambang’ berawal dari rencana konsesi tambang dua perusahaan eksplorasi tambang mineral logam yaitu PT. Cristina Explo Mining dan PT. Tator Internasional Indutrial di dua kecamatan yaitu Kecamatan Bittuang dan Kecamatan Masanda.

Kedua perusahaan ini memiliki luas wilayah konsesi tambang seluas 4000 hektar dengan pembagian PT. Christina Eksplo Mining (CEM) seluas 3.200 ha untuk tambang jenis Galena DMP dan PT. Tator International Industrial (TII) seluas 1.389 ha untuk tambang jenis logam dasar.

Aktivitas eksplorasi tambang ini berlangsung di dataran tinggi diimana sebagian besar wilayahnya berada di kecamatan Bittuang.

Protes aliansi masyarakat

Bagi aliansi gerakan, lokasi perizinan aktivitas tambang ini berada di wilayah yang bukan diperuntukkan untuk kawasan pertambangan.

Meski tertera dalam Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Tana Toraja 2011-2030 bahwa kecamatan Bittuang masuk dalam kawasan pertambangan, namun kecamatan Bittuang juga termasuk dalam zona merah rawan bencana longsor dan gempa bumi.

Pencemaran sungai yang disebabkan aktivitas tambang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat setempat. Kondisi geografis Tana Toraja yang berada di daerah dataran tinggi menjadikannya sebagai pemasok air utama bagi sungai di sekitarnya termasuk sungai Sa’dan. Sungai Sa’dan memberikan kiriman air yang melimpah bagi beberapa kabupaten di sekitarnya.

Ancaman kerusakan hulu sungai dapat membawa dampak besar bagi kualitas air yang mengairi irigasi sawah-sawah warga.

Limbah tambang yang mengandung zat kimia mineral logam buangan tambang dapat berakibat buruk bagi kehidupan ekosistem sungai dan masyarakat yang mengonsumsi air dari sungai.

Fiki, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam aliansi menjelskan, “Secara geografis Toraja berada di daerah ketinggian dan banyak daerah di sekitarnya (Enrekang, Pinrang dan Sidrap) yang mendapatkan kiriman air melalui Sungai Sadan (hulu sungai Toraja) untuk kebutuhan domestik dan pertanian mereka.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2