Hutan Senja

“Jangan ke sana!” teriakanku menggema, terdengar seperti suatu hardikan. “Kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan?” Tanyanya tanpa berpaling. Ia tetap saja melangkah dan enggan menoleh. “Tidak, a...

Hutan Senja
Bacakan Artikel

“Masya Allah....”

Mukanya hancur, terbakar. Tubuhnya remuk. Di dekatnya bangkai-bangkai bergelimpungan. Di dadanya yang selamat dari retakan, ada dua wajah—bayi kembar siam yang semalam dilahirkannya. Bayi malang yang lemas tercekik sabuk—mabuk.

Andi Mudzakkar—sang komandan berdiri terpaku, kakinya serasa tertancap hingga ke inti bumi, shock. Hanya teriakan yang terdengar meraung hampir di seluruh hutan. Lalu kabut datang membekap mulutnya.

“Aviaaaaaa ...”

***

Di sudut ruang, ratapan demi ratapan terdengar. Penglihatan yang sama persis dari sudut pandang si komandan itu nampak jelas di depan matanya yang berkabut.

“Avia, sayangku. Tahun depan datang lagi ya, tahun depannya juga. Aku tanamin ladang itu dengan pohon cengkeh, kau selalu menyukai wangi buahnya yang terbakar matahari bukan?”

“Datang lagi dengan bayi-bayi yang baru Via, biar kita makin kaya, biar kita tak usah memikirkan makan apa nantinya.”

Tak ada jawaban, Avia membisu, Avia-Avia yang lain juga enggan menjawab.

[irp]

Wajah lelaki berkabut itu terlihat lelah, bahunya berguncang. Kabut makin kuat mendobrak pupil matanya—keluar sebagai darah. Di tangannya terkumpul dua gepok besar kertas bergambar mantan presiden.

Avia pergi, ia meninggalkan banyak materi untuknya. Tapi tak ada nominal harga untuk satu nyawa bukan? Ia tersenyum lalu menangis, lalu kembali tersenyum. Kabut di wajahnya belum sirna, ia tinggal sebagai kutukan. Debu beterbangan, wangi Avia kembali mewangi. Ia melunasi janjinya, datang menemui kekasihnya dengan wujud tak kasat.

Sementara hutan kini berubah ladang cengkeh. Pohon-pohon purba menghilang, hutan menjelma luka.

[irp]

Pilih Halaman: