Hutan Senja

“Jangan ke sana!” teriakanku menggema, terdengar seperti suatu hardikan. “Kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan?” Tanyanya tanpa berpaling. Ia tetap saja melangkah dan enggan menoleh. “Tidak, a...

Hutan Senja
Bacakan Artikel

“Avia?” tanya kepala tim itu terdengar seperti gumaman. Tak jelas antara menyebut Avia atau Siapa.

[irp]

Beberapa anggota tim melemparkan pandangan matanya ke arahku. Benak mereka dipenuhi pertanyaan. Tapi tidak seorang pun yang mampu memandang mataku, kabut ini terlalu tebal untuk mereka, hingga satu demi satu tertunduk dan meneteskan air mata. Aku menjelaskan dengan detail—terperinci tentang sosok dan wujud Avia, kekasihku. Tidak ada tanggapan selain angguk-anggukan pendek-patah-patah.

“Baiklah. Kita sepakat!”

“Ya, sepakat membawa berkat,” sambutku, menyalami tangannya.

***

Untuk sampai di posko DVI harus menempuh perjalanan selama 6 jam, tidak ada tanah bidang, artinya sesuatu yang menanjak dan curam adalah satu hal yang akan menjadi tantangan pertama, bukan satu-satunya. Perbekalan mereka hanya berupa air mineral dan gula merah, kesepakatannya seperti itu, tidak membawa makanan, tidak berburu dan memakan buah apapun yang terdapat dalam hutan, itu jika mereka ingin keluar dengan selamat.

“Kau tidak akan menemukan tempat itu jika kau mencoba mengkhianatiku,” gumamku.

Kulihat lamat-lamat jarum jam dinding, pukul 06.00 WITA—lewat sedikit mungkin, jarum panjangnya sedikit miring di posisi angka 5 atau 10, aku tidak begitu ingat. “Ah, Avia ... harusnya kau tidak serampangan itu. Tunggulah sebentar lagi, mereka segera menjemputmu.”

[irp]

***

4 jam setelah keberangkatan di titik start, perjalanan mereka telah memasuki dusun Gamaru, para anggota tim kepayahan. Medannya terlalu sulit untuk ditahklukkan. Seharusnya sisa dua jam lagi untuk mencapai posko DVI, andai saja mereka terus berjalan.

“Perbekalan habis,” celetuk salah seorang anggota tim.

“Pukul berapa sekarang?” tanya yang lain.

“10.20 WIT.”

“Kita tersesat?” suara yang lain ikut menimpali.

“Ada kabut, ada kabut, ada kabut!” serempak tanpa komando suara mereka terdengar panik.

“Pulang-pulang! kabutnya disertai api. Mundur, kembali ke garis start tadi.” Perintah dari suara tak jelas orangnya itu membuat tim kocar-kacir.

“Sebentar, seseorang harus menemui Avia. Kau dan kau tinggal,” telunjuk Andi Mudzakkar menunjuk sembarang.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: