Hutan Senja

“Jangan ke sana!” teriakanku menggema, terdengar seperti suatu hardikan. “Kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan?” Tanyanya tanpa berpaling. Ia tetap saja melangkah dan enggan menoleh. “Tidak, a...

Hutan Senja
Bacakan Artikel

“Ah, tak usah pedulikan Avia, Ndan. Paling-paling juga sudah jadi korban dilalap api, kabut makin dekat, kita cari selamat dulu, Ndan.”

“Tidak, kalau kalian mau kembali, kembalilah! Aku tetap di sini mencari Avia.”

[irp]

“Tidak ada Avia dimari, Ndan! Percayalah.”

“Bagaimana kau bisa mengetahui dan yakin akan hal itu?”

“Ciri-ciri Avia saja tidak jelas, Ndan. Dia bilang ia seorang perempuan, lalu disanggahnya lagi, ia bidadari bersayap. Dia bilang badannya gemuk, pendek. Lalu disanggahnya lagi, ramping dan panjang. Hanya satu yang meyakinkan, ia berkulit putih kehitaman—terselubung kabut.”

“Aku akan mencarinya seperti ciri-ciri itu, pulanglah. Pukul 13.20 WIT aku menyusul pulang jika Avia tidak kutemukan.”

“Ah sepenting itukah, Ndan? Kalian tidak saling mengenal, kan?”

“Itu janjiku, jika Avia tidak ditemukan berarti nasib yang ke-10 orang itu akan teraniaya.”

“Ah, mistis dan realistis itu beda jauh, Ndan. Ayolah jangan menyiksa diri, esok kita kembali lagi dengan perbekalan yang cukup. Evakuasi harus segera diusaikan, sebelum kita tertelan kabut, keracunan lalu hilang—mati mungkin bahasa yang buruk, Ndan.”

“Aku tidak peduli, seorang pemimpin tidak pernah mengingkari janji dan sumpahnya sendiri. Meski harus berjuang sendiri, pulanglah!”

[irp]

Kabut semakin tebal. Ia terbatuk-batuk sebentar. Lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling hutan yang ditumbuhi beberapa pohon-pohon purba. Setelah semua anak buahnya menghilang, kabut menepi dan sunyi terpecah oleh suara tangis seorang perempuan.

“Avia?”

Suara tangisan itu bertambah kencang.

“Avia? Kaukah itu? Seseorang mencarimu—ia lelaki bermata dan berwajah kabut. Ia menunggumu. Ikut aku pulang, ya!”

Avia menoleh, kabut yang menyelimutinya sirna.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: