“Eksplorasi Flora” di DBG, Denassa Apresiasi Klikhijau yang Fokus Literasi Lingkungan

Klikhijau.com – Tim redaksi Klikhijau mengadakan Rapat Kerja (Raker) dan kegiatan bertajuk “Eksplorasi Flora” di Denassa Botanical Garden (DBG), Senin (24/1). Selain mengamati dan mengeksplorasi pe...

“Eksplorasi Flora” di DBG, Denassa Apresiasi Klikhijau yang Fokus Literasi Lingkungan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Tim redaksi Klikhijau mengadakan Rapat Kerja (Raker) dan kegiatan bertajuk “Eksplorasi Flora” di Denassa Botanical Garden (DBG), Senin (24/1).

Selain mengamati dan mengeksplorasi pelbagai flora khas di di DBG, para penulis dan jurnalis Klikhijau juga berkesempatan berdiskusi dengan Founder Rumah Hijau Denassa (RHD) dan DBG, Darmawan Denassa.

Pada diskusi ringan tersebut, Denassa mengapresiasi Klikhijau sebagai satu media yang fokus ke isu lingkungan. Menurut Denassa, perubahan dan gerakan di bidang konservasi dan gaya hidup ramah lingkungan memang perlu kolaborasi, baik antara pegiat lingkungan dan media lingkungan.

“Beberapa tanaman mungkin terancam punah bahkan punah. Karenanya, kita semua bertanggungjawab menghidupkan cerita di balik tanaman. Klikhijau harus menjadi bagian dari literasi konservasi,” kata Denassa.

Denassa berharap para jurnalis di Klikhijau terus meningkatkan kapasitas dan pengetahuan di bidang lingkungan, termasuk dalam isu-isu flora dan fauna. Hal ini penting agar dalam menulis artikel atau berita, ada perspektif yang jelas.

“Semoga Klikhijau terus konsisten dan fokus pada isu-isu yang berkaitan dengan literasi lingkungan. Kesadaran ekologis memang hanya bisa disuarakan dengan perubahan di level individu masing-masing. Tulisan berfungsi antara lain untuk menyadarkan yang lain,” ungkapnya.

Denassa juga mengapresiasi kegiatan “Eksplorasi flora” sebagai satu kegiatan penting. Terlebih, setiap tanaman memang punya cerita dan tugas pegiat konservasi antara lain menyelamatkan tanaman dan menuturkan cerita di balik tanaman.

“Setiap tanaman punya cerita, sebagaimana setiap daerah di Indonesia selalu identik dengan tanaman tertentu. Oleh sebab itu, tanaman-tanaman khas yang dulu pernah ada perlu ditanam dan dilestarikan kembali,” katanya.

Denassa mencontohkan bagaimana Jeneponto dulu dikenal sebagai penghasil buah jeruk yang sangat manis, namun sekarang jeruk tersebut tak lagi ditemukan.

“Andai jeruk manis di Jeneponto masih ada, mungkin daerah ini akan lebih populer sebagai daerah penghasil jeruk manis ketimbang daerah yang gersang. Contoh lainnya seperti buah salak kalosi dari Enrekang atau langsat dari Polman. Setiap daerah identik dengan tanaman tertentu,” tuturnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2