Darmawan Denassa, Menyelamatkan Keanekaragaman Hayati di Rumah Hijau Denassa

oleh -484 kali dilihat
Darmawan Denassa, Menyelamatkan Keanekaragaman Hayati di Rumah Hijau Denassa
Darmawan Denassa berbagi kisah-kisah tentang tumbuhan di Rumah Hijau Denassa (RHD) Gowa Sulawesi Selatan - Foto/Ist
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Darmawan Denassa (42) atau lebih akrab disapa Denassa, pegiat konservasi yang namanya cukup familiar bagi komunitas peduli lingkungan dan konservasi. Denassa mendirikan Rumah Hijau Denassa (RHD), sebuah area konservasi, edukasi dan literasi di Borongtala, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

Di sanalah, Denassa berhikmad memperkenalkan pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan.

Sejak 2007, Denassa yang sejatinya aktivis pemuda, memilih pulang kampung dan mulai fokus melakukan giat konservasi di area seluas 1.1 hektare di desanya. Ia menanam dan mengembangkan kekayaan hayati, khususnya tumbuhan endemik Sulawesi.

Selain tanaman endemik, Denassa juga menanam beragam jenis tanaman termasuk yang otentik lokal. Saat masuk ke kawasan RHD, pandangan mata terasa nyaman dengan latar belakang hijau daun. Selain udaranya yang masih segar, kicauan burung-burung dari pepohonan rimbun di sekitar rumahnya memberi kesan kehidupan alam yang harmonis.

“Fokus kami memang menanam tumbuhan langka dan lokal. Lokal maksudnya tanaman itu akrab atau dikenali masyarakat Sulawesi sejak lama, dan berpengaruh pada kultur dan sosial dalam masyarakat. Sedangkan tumbuhan langka yakni tanaman yang sudah jarang ditemukan baik secara luas maupun dalam area wilayah tertentu,” kata Denassa.

KLIK INI:  Dari Losari, BBKSDA Sulsel Suarakan Konservasi Alam Sebagai Sikap Hidup dan Budaya Bangsa

Pilihan menanam tumbuhan bagi Denassa punya alasan filosofis. Katanya, tumbuhan merupakan ibu dari kehidupan di bumi.

“Semua mahluk hidup lain membutuhkan tumbuhan, bahkan tumbuhan itu sendiri ada yang membutuhkan tumbuhan lain untuk bisa tetap bertahan hidup,” tuturnya.

Hingga saat ini, Denassa telah menanam lebih dari 500 jenis tanaman di RHD. Selain tumbuhan, ada pula beberapa jenis hewan. Ada beberapa jenis burung seperti Maleo, burung Cilepuk, Burung Perkici, Pelatuk Sulawesi dan lainnya. Ada pula kupu-kupu berterbangan hingga cicak terbang.

“Mereka (fauna, Red) kami lindungi agar aman sehingga berkembang biak secara alami,” ungkap Denassa.

Cerita di balik tanaman

Nah, berbeda dengan kawasan konservasi lainnya, di RHD kita tak sekadar menikmati suasana hijau alami dan beragam tumbuhan – pengunjung akan mendapatkan banyak informasi mengenai tanaman.

Menariknya, informasi dan pengetahuan tanaman itu didapat dari kisah-kisah yang dituturkan Denassa saat berkeliling di RHD.

“Yang khas dari proses penyelamatan keanekaragaman hayati di RHD yakni selain menyelamatkan tumbuhannya, kami juga mengumpulkan kisah tanamannya dari perspektif kultural, sosial, ekologi, ekonomi dan fungsi penawar pada tumbuhan,” kata Alumnis Fakultas Sastra Unhas ini.

KLIK INI:  Perdagangan Satwa Liar Jadi Tantangan Global, Butuh Perhatian Serius

Tidak heran, bila dalam beberapa tahun terakhir, RHD banyak dikunjungi anak-anak sekolah dan mahasiswa dari kota. Mereka dapat belajar sambil bersantai dan tentu saja mendengarkan kisah-kisah menyenangkan di balik tanaman-tanaman yang dijumpai di RHD.

Anak-anak juga diberi kesempatan menggambar suasana alam yang dilihatnya. Sementara untuk pelajar dan mahasiswa diminta menuliskan pengalamannya selama di RHD. Ini suatu pengalaman mengharukan bagi pengunjung. Bukan tanpa tujuan, Denassa berharap, setiap orang dapat merefleksi apa yang dirasakannya dari alam. Dari pengalaman itu pulalah kecintaan dan perkenalan dengan alam bisa dirasakan.

Di RHD, anak-anak akan diajak pula ke pematang sawah dan melihat proses padi bertumbuh. Lalu diceritakan bagaimana proses padi ditanam, dipelihara petani hingga sampai ke meja makan. Sebuah pembelajaran tentang pentingnya cara berpikir sistem yang disematkan pada anak-anak sejak dini.

Kisah-kisah demikian sangat bermanfaat bagi anak-anak, setidaknya dapat lebih menghargai makanan dan selalu bisa hidup bersyukur. Menghargai profesi petani dan ikut menjaga melestarikan tumbuhan, dengan menanam.

Di tengah isu krisis pangan, RHD juga intens memperkenalkan aneka pangan lokal pada setiap pengunjung yang datang. Bahkan mengajak pengunjung untuk ikut langsung menikmati aneka pangan lokal selain beras, seperti labu rebus, aneka umbi dan jagung sebagai sarapan.

Untuk tanaman pangan, RHD sudah menanam dan mengkampanyekan sekitar 80-an jenis pangan alternatif selain padi. “Pengunjung juga dapat melakukan praktik membuat pangan tradisional yang akan langsung dinikmati bersama,” kata Denassa.

KLIK INI:  Dukung Program REDD+, KLHK Siapkan Bantuan Pendanaan untuk Konservasi
Konservasi dan literasi

Pada pintu masuk di RHD, pengunjung akan disuguhkan suatu figura pangan alternatif yang sebagian diantaranya mulai langka. Ini sengaja dipamerkan, seolah sebagai pintu awal pembicaraan bagi para tamu.

Benar saja, setiap yang datang pasti akan bertanya tentang nama-nama pangan yang dipajang. Tak sedikit yang menanyakan bagaimana kisah di baliknya hingga nama lokalnya juga kandungannya.

Saat berbelok ke kanan, sebuah rumah panggung dua lantai berdiri persis di bawah pepohonan rindang. Di dalamnya, berjejer buku-buku yang cukup lengkap. Dari koleksi buku-buku sastra, sejarah hingga buku-buku tentang tanaman. Ini rumah baca di RHD.

Selain sebagai pegiat lingkungan, Denassa juga seorang pegiat literasi. Tentulah sejalan dengan latar belakang pendidikannya di Sastra Indonesia Unhas. Denassa memberi pesan mendalam tentang literasi dalam dua dimensi, literasi melalui teks dan literasi dari alam semesta.

Baginya, alam memamerkan banyak kehidupan dalam suatu ekosistem yang begitu kompleks. Manusia bisa belajar dari alam, namun pengetahuan mendalam tentang flora dan fauna misalnya juga mutlak dikuasai untuk kita benar-benar memahami kompleksitas ekosistem.

Denassa menunjukkan dan menjalani literasi dua dimensi itu. Tak heran bila dirinya begitu fasih bicara tentang tanaman, dari morfologinya hingga kandungannya bahkan histori di balik suatu tanaman. Pengetahuan-pengetahuan yang tiada batasnya untuk diselami.

KLIK INI:  Menyambut COP26: Anak-anak Muda di Makassar Membuat Video Tentang Sistem Pangan

Ajakannya untuk menulis pengalaman dari alam menyempurnakan suatu visi edukasi literasi konservasi. Pengetahuan dan pengalaman harus dituliskan kembali. Tulisan akan menjadi satu produk baru yang akan memperkaya khasanah pengetahuan dan informasi.

Seluruh aktivitas literasi ini pada akhirnya bermuara pada bagaimana menghadirkan kecintaan pada lingkungan. Apa yang ada di alam haruslah dimuliakan, kata Denassa. Tumbuhan wajib dimuliakan, karena telah memberi banyak hal istimewa pada kehidupan. Itulah sebabnya, Denassa memperkenalkan cara terhormat menunjuk pada suatu pohon yakni tidak dengan menggunakan telunjuk, tetapi dengan ibu jari. Pesannya adalah tanaman harus dimuliakan, sebagaimana manusia.

Rumah kedua dan Kalpataru

Denassa benar-benar telah membangun visi yang kuat pada aksi konservasi yang digelutinya. Tak hanya memadukan dengan literasi dan modul edukasi konservasi yang dibuatnya sebagai pembelajaran di alam semesta pada anak-anak, Denassa juga terus mengembangkan sayap.

Idenya diperluas dengan membangun satu spot baru lagi. Areanya di pematang sawah yang menghampar luas, kira-kira 3 hingga 4 kali lebih luas dari area RHD. Denassa lebih leluasa di sini mengembangkan idenya, seperti membuat lokasi camp yang lebih luas, ruang pertemuan bahkan membuat sungai buatan di dalamnya.

Awalnya, lokasi baru tersebut diberi nama “Sawahku”. Seiring waktu, Denassa menyematkan nama “Denassa Botanical Garden”.

Sejak dibuka pada 2020 lalu, tempat ini mulai ramai dikunjungi. Aktivitas Denassa juga lebih banyak di sawah ini.

Para pengunjung juga bisa lebih leluasa berpetualang sambil belajar di “Sawahku”. Rumah kedua ini melengkapi visi Denassa mengembalikan ingatan dan kecintaan orang-orang pada tanaman. Kehidupan yang back to nature.

Denassa telah menjelma menjadi mata air konservasi dari Gowa Sulawesi Selatan untuk Indonesia. Namanya mulai harum diperbincangkan di mana-mana. RHD dan “Sawahku” juga mulai dirindukan untuk dikunjungi.

Tahun ini namanya kembali harum di tanah air, Denassa terpilih sebagai penerima Kalpataru 2021. Penghargaan tertinggi bagi pegiat lingkungan. Selamat pada Denassa, komitmen dan semangatnya untuk terus menginspirasi, laksana mata air pelepas dahaga…

KLIK INI:  Berbagi Kisah Sebagai Dokter di Pulau Terpencil di “Bacarita Yakobi”