Darmawan Denassa, Menyelamatkan Keanekaragaman Hayati di Rumah Hijau Denassa

Publish by -89 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Darmawan Denassa, Menyelamatkan Keanekaragaman Hayati di Rumah Hijau Denassa
Darmawan Denassa berbagi kisah-kisah tentang tumbuhan di Rumah Hijau Denassa (RHD) Gowa Sulawesi Selatan - Foto/Ist

Klikhijau.com – Darmawan Denassa (42) atau lebih akrab disapa Denassa, pegiat konservasi yang namanya cukup familiar bagi komunitas peduli lingkungan dan konservasi. Denassa mendirikan Rumah Hijau Denassa (RHD), sebuah area konservasi, edukasi dan literasi di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

Di sanalah, Denassa berhikmad memperkenalkan pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan. Sejak 2007, Denassa seperti pulang kampung dan mulai fokus melakukan konservasi di area seluas 1.1 hektare. Ia menanam dan mengembangkan kekayaan hayati, khususnya tumbuhan endemik Sulawesi.

Selain tanaman endemik, Denassa juga menanam beragam jenis tanaman termasuk yang otentik lokal. Saat masuk ke kawasan RHD, pandangan mata terasa nyaman dengan latar belakang hijau daun dan udara segar.

“Fokus kami memang menanam tumbuhan langka dan lokal. Lokal maksudnya tanaman itu akrab atau dikenali masyarakat Sulawesi sejak lama, dan berpengaruh pada kultur dan sosial dalam masyarakat. Sedangkan tumbuhan langka yakni tanaman yang sudah jarang ditemukan baik secara luas maupun dalam area wilayah tertentu,” kata Denassa.

KLIK INI:  Desa Samaenre Mendulang Rupiah dan Merawat Bumi dengan Jamur

Pilihan menanam tumbuhan bagi Denassa punya alasan filosofis. Katanya, tumbuhan merupakan ibu dari kehidupan di bumi. “Semua mahluk hidup lain membutuhkan tumbuhan, bahkan tumbuhan itu sendiri ada yang membutuhkan tumbuhan lain untuk bisa tetap bertahan hidup,” tuturnya.

Hingga saat ini, Denassa telah menanam lebih dari 500 jenis tanaman di RHD. Selain tumbuhan, ada pula beberapa jenis hewan. Ada beberapa jenis burung seperti Maleo, burung Cilepuk, Burung Perkici, Pelatuk Sulawesi dan lainnya. Ada pula kupu-kupu berterbangan hingga cicak terbang.

“Mereka (fauna, Red) juga kami lindungi agar aman sehingga berkembang biak secara alami,” ungkap Denassa.

Nah, berbeda dengan kawasan konservasi lainnya, di RHD kita tak sekadar menikmati suasana hijau alami dan beragam tumbuhan – pengunjung akan mendapatkan banyak informasi mengenai tanaman.

Menariknya, informasi dan pengetahuan tanaman itu didapat dari kisah-kisah yang dituturkan Denassa saat berkeliling di RHD. “Yang khas dari proses penyelamatan keanekaragaman hayati di RHD yakni selain menyelamatkan tumbuhannya, kami juga mengumpulkan kisah tanamannya dari perspektif kultural, sosial, ekologi, ekonomi dan fungsi penawar pada tumbuhan,” kata Alumnis Fakultas Sastra Unhas ini.

Denassa
Denassa sedang menceritakan mengenai dimensi kultural, sosial dan ekologis tanaman pada beberapa Sastrawan dari Inggris dan Indonesia di RHD
KLIK INI:  BBKSDA Sulsel Jalin MoU dengan Klikhijau untuk Penguatan Literasi Konservasi

Tidak heran, bila dalam beberapa tahun terakhir, RHD banyak dikunjungi anak-anak sekolah dan mahasiswa. Mereka dapat belajar sambil bersantai dan tentu saja mendengarkan kisah-kisah menyenangkan di balik tanaman-tanaman yang dijumpai di RHD.

Dari pengetahuan mengenai tumbuhan itulah, kecintaan terhadap keanekaragaman hayati dapat ditumbuhkan khussusnya pada anak-anak. Di RHD, anak-anak juga akan diajak ke pematang sawah dan melihat proses padi bertumbuh. Lalu diceritakan bagaimana proses padi ditanam, diperlihara petani hingga sampai ke meja makan.

Kisah-kisah demikian sangat bermanfaat bagi anak-anak, setidaknya dapat lebih menghargai makanan dan selalu bisa hidup bersyukur. Menghargai profesi petani dan ikut menjaga melestarikan tumbuhan, dengan menanam.

Di tengah isu krisis pangan, RHD juga intens memperkenalkan aneka pangan lokal pada setiap pengunjung yang datang. Bahkan mengajak pengunjung untuk ikut langsung menikmati aneka pangan lokal selain beras, seperti labu rebus, aneka umbi dan jagung sebagai sarapan.

Untuk tanaman pangan, RHD sudah menanam dan mengkampanyekan sekitar 80-an jenis pangan alternatif selain padi. “Pengunjung juga dapat melakukan praktik membuat pangan tradisional yang akan langsung dinikmati bersama,” kata Denassa.

Tertarik melakukan Field trip atau outing class ke RHD? Kapan pun bisa ke sana. Darmawan Denassa selalu ramah menyambut tamunya. Tempatnya ada di Jalan Borongtala Tamallayang Bontonompo Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.

KLIK INI:  JFW Usung Fashion Habitat Sebagai Upaya Lestarikan Hewan Langka
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!