Cerita tentang Kopi TOPIDI, Cita Rasa yang Tersembunyi di Balik Kepopuleran Malino

Klikhijau – Kopi TOPIDI (Tolong pikirkan dirinya), mungkin baru Anda dengar. Diam-diam ada cita rasa tersembunyi di baliknya—saya membuktikannya saat berkunjung ke desa tempat kopi itu bertumbuh. T...

Cerita tentang Kopi TOPIDI, Cita Rasa yang Tersembunyi di Balik Kepopuleran Malino
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Klikhijau – Kopi TOPIDI (Tolong pikirkan dirinya), mungkin baru Anda dengar. Diam-diam ada cita rasa tersembunyi di baliknya—saya membuktikannya saat berkunjung ke desa tempat kopi itu bertumbuh.

Topidi, sesuai dengan letaknya yang tersembunyi dalam akses dan catatan sejarah atas keberadaannya di Sulsel. Hampir tidak ditemukan penulisan tentang Topidi. Namanya pun terlindung di balik kepopuleran Malino.

Topidi, mungkin hanya terdengar dari komunitas touring, kelompok pencinta alam, atau kegiatan pengkaderan mahasiswa.

Lima tahun lalu desa Topidi masih ketegori dusun yang masuk dalam area desa Biroro kelurahan Bontolerung Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa. Topidi sebagai dusun ditulis oleh Irma, salah seorang mahasiswa yang pernah melakukan kegiatan pengkaderan melalui sosiologi pedesaan.

Akses menuju Topidi, dari dulu hingga saat ini masih berupa jalan yang dipenuhi bebatuan. Jalan  yang  berkelok dan menanjak menjadi tantangan tersendiri menuju daerah ini.

Meski dapat dilalui kendaraan roda empat, namun harus ada yang mengalah untuk menepi dan berhenti. Jalan yang sempit dan penuh jurang. Jalan ini terwujud berkat gotong royong masyarakat Topidi membangun jalan sedikit demi sedikit. Secara swadaya mereka membangun jalan dengan batu kurang lebih 3 kilometer.

Desa Topidi terletak di daerah yang dikeliling gunung dan perbukitan yang dihuni 38 KK. Kabar terakhir saat mendatangi Topidi pada 21 Juni 2020 lalu telah mencapai 40 KK. Tahun 1915, Topidi masih didiami 30 KK.

Bentang alam Topidi yang berada di ketinggian, menjadi lahan subur tumbuhnya tanaman kopi. Letaknya yang berada tepat di kaki Gunung  Bawakaraeng, menyebabkan kontur tanah cenderung miring.

[caption id="attachment_15790" align="alignnone" width="640"]Keindahan alam di desa Topidi Keindahan alam di Desa Topidi - Foto/Wahyuddin Junus[/caption]

Keadaan ini menuntut masyarakatnya memanfaatkan lahan untuk pertanian dengan teknik terasering (sengkedan). Persawahan  secara sengkedan ini, justru menjadi daya tarik dan enak dipandang mata.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2