Kepada Pohon Pinus Itu

Publish by -119 kali dilihat
Pinus crane lukisan
Pinus crane lukisan/ foto- id.kisspng.com

pohon pinus itu tumbuh dalam kepalanya. akarnya jalar ke tulang rusuknya.lahirkan pagi dengan sangat lembut.

kemarin malam di malino, riuh hendak membunuh pohon pinus itu. tapi, riuh dibawa orang-orang kota tak membunuhnya, hanya buatnya waspada.

ibu tua dikedai kopi tatapi matanya. tak ada apa-apa di sana selain rimbunan ranting pinus, jatuh perlahan ke gelas kopinya lalu diseruputnya kembali perlahan-lahan. seolah waktu telah berhenti.

ibu tua itu menatap jalan

“cucuku telah beranak, tak pernah malino sepadat ini. entah bagaimana orang-orang kota itu tiba,” curhatnya. matanya kagum dan kaget

“dulu orang-orang kaget melihat sepeda dari atas kuda, berlomba ingin menaikinya. sekarang orang-orang menyewa kuda untuk berfoto,” lanjutnya. jalan digenangi kendaraan.

pohon pinus tumbuh di kepalanya sejak pagi itu. menjulang tinggi tadah angin, meniupkan ke ubunnya penuh, tak jeda-jeda

============

Waktu Merah

ini serupa teka teki yang terus kau cari jawabannya.
malam datang lebih awal.
pagi tiba lebih lama.

pohon-pohon lupa serap air di mana.
kiriman beras dari kampung perlahan punah.
sawah, kata ayah, mulai suka ngambek.
iri pada sawah kota yang jelma lebih jelita.
penuh lampu-lampu, dan tentu saja desah.

ada sepasang kekasih, lepas dahaga di bibir kekasihnya,
di bawah pohon pada sebuah kampus.
cuaca sedang merah barangkali saat itu.
atau perut sedang lapar, beras tak kunjung datang dari kampung.

sepasang kekasih saling menyumbang napas.
teka-teki sedang tumbuh, berpetak-petak di kepala gantikan petakan sawah.
burung pipit hijrah ke dalam celana.
jerami-jerami tumbuh di ketiak.

tatapan enggan berkedip, matahari merangkak ke barat.
malam turun, sepasang kekasih itu berjalan pulang dari kampus.
waktu sedang merah.

mereka sedang mencari butiran beras di tubuh masing-masing,
di atas sawah yang tak lagi berlumpur. tanah telah mengeras.

Penulis:  Senja Batari S, lahir di Makassar, Seorang ibu rumah tangga.

Editor: Irhyl R Makkatutu

KLIK Pilihan!