Bahu Hujan

Bahu Hujan   Aku mengenangmu sebagaimana kau dulu bersandar pada senja dan hujan rintik-rintik Lemparkan jaring kesedihan pada mata samuderaku yang tiada dasar Cahaya meringkusmu dalam tu...

Bahu Hujan
Bacakan Artikel


Kepada Sobari


 

Di langit senjaku, kau laksana segumpal mega
Renungi bayang-bayang kusut, lentur kuning kecokelatan
Pecah dalam arus di kepala

Kepada Sobari, lelaki yang kucintai
Aku telah menulis Soneta tak berjudul
Seperti rumah yang menanti masa pensiunnya
Rumah yang lahir ketika ia memberinya kehidupan dari napas pepohonan

Oh Sobari
Betapa lekas kubangun keteguhan
Mengusir beribu-ribu mil jarak yang menelan kau di kejauhan. Dalam terik matahari yang legamkan kulit

Aku ingin memandangmu dari sedikit dahan pohon yang tersisa, yang tak mampu menahan laju gerah
Menyempurnakan celah hidupku bak kecambah bertumbuh jadi pohon baru, jadi kehidupan hijau

Mei 2024

Seperti Sampah di Pinggir Jalan


 

Setelah laut, kutemukan garis pantai
Karang dan camar di kejauhan

Ikan berlompatan halau resah
Atau barangkali berusaha mendulang sedikit mimpi di udara

Angin berselimut sengat matahari
Jatuh persis di wajahmu yang menyimpan risau

Aku tak pernah berpikir alangkah menyedihkan sepanjang perjalananmu
Meski tak pernah terlintas arah dan tujuan
Seperti kapal, terapung-apung di tengah samudera
Mengukur kehidupan itu sendiri dalam ukiran di gelas kaca

Segugus duka memang sering bersarang di mata
Mempertanyakan kenapa ia hidup tanpa pendidikan dan impian
Tapi terkadang tanpa perlu jawaban
Sebuah kisah harus tetap dituliskan, betapapun pahitnya

Seperti sampah yang terus dibuang di pinggir jalan. Siapa pun berhak mencium baunya dan mencaci

2024

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2