Ancaman Kepunahan Lebih Mengintai Spesies yang Kekurangan Data

oleh -411 kali dilihat
Kepunahan Massal Keenam Mengintai, PBB Rilis Cara Penyelamatan Bumi
Banyak ahli memprediksi kepunahan massal keenam akan tiba/foto-Ikons

 Klikhijau.com – Berapa banyak flora dan fauna menghuni dunia ini? Jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak pasti. Jumlah flora dan fauna di dunia ini tidak terhitung atau belum ada yang sanggup menghitungnya.

Di antara flora dan fauna itu, telah banyak yang terdata. Tidak sedikit pula yang belum terdata dan ada pula ribuan yang masih kekurangan data. Hal itu  diungkapkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN)

Menurut IUCN ada ribuan flora dan fauna diklasifikasikan sebagai “kekurangan data”. Kekurangan data berarti bahwa tidak ada informasi yang memadai untuk menilai risiko kepunahan spesies tersebut.

Dampaknya sangat fatal, sebab ada studi baru yang dipublikasikan jurnal Communications Biology yang mengungkapkan bahwa lebih dari setengah dari semua spesies yang kurang dikenal kemungkinan  terancam punah.

KLIK INI:  Mengenal Hutan Rawa, Fungsi, Karateristik, dan Sebarannya di Indonesia

“Kami melihat spesies yang relatif kurang dikenal, tetapi setidaknya distribusi geografisnya diketahui. Spesies ini cenderung terancam punah lebih sering daripada yang kita ketahui lebih banyak,” jelas Profesor Francesca Verones, rekan penulis studi dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU).

Jan Borgelt yang juga rekan penulis studi tersebut mengatakan, IUCN secara keseluruhan telah mendaftarkan sebanyak 20.469 spesies sebagai kekurangan data. Tim peneliti menggunakan pembelajaran mesin untuk menghitung risiko kepunahan 7.699 spesies yang kurang dikenal.

Dibandingkan dengan kasus-kasus individual yang dianalisis oleh para peneliti secara manual, probabilitas yang dibuat oleh model komputer sangat akurat.

“Kami menemukan bahwa sebanyak 85 persen amfibi yang pengetahuan kami terbatas berada dalam bahaya kepunahan. Untuk kelompok lain, seperti mamalia dan reptil, ini berlaku untuk sekitar setengah spesies,” kata Borgelt.

Borgelt juga menambahkan, meskipun spesies yang tidak kita kenal sering menghadapi perjuangan berat. Penghiburannya adalah bahwa pengetahuan baru dapat sangat berguna jika digunakan dengan benar.

KLIK INI:  Perihal Green Job dan Istilah-Istilah yang Mengiringinya

“Lebih banyak area bisa menjadi tindakan perlindungan yang layak jika kita mempertimbangkan spesies yang hanya memiliki sedikit data,” ujarnya seperti dikutit dari Earth

Tidak menggantikan pekerjaan

Tidak hanya itu, Borgelt juga menekankan bahwa tujuan di balik penggunaan model tersebut bukan untuk menggantikan pekerjaan yang dilakukan oleh para peneliti. Tetapi untuk memberikan perkiraan pertama tentang risiko spesies menjadi punah dalam kasus-kasus di mana belum ada cukup data.

“Daftar Merah menilai risiko kepunahan dan melaporkan kategorisasi Daftar Merah untuk lebih dari 140.000 spesies. Itu berdasarkan serangkaian kriteria kuantitatif10 yang bergantung misalnya pada tingkat kemunculan, area hunian, tren populasi, atau ukuran populasi,” jelasnya.

KLIK INI:  Tim UNESCO dan IUCN Berkunjung ke Situs Warisan Dunia yang Ada di Indonesia

“Namun, banyaknya spesies yang dikenal dan tidak dikenal secara global. Sifat dinamis dari ancaman dan tren, dan sumber daya manusia yang terbatas untuk melakukan penilaian Daftar Merah semacam itu mengubah upaya kritis ini menjadi tugas Sisyphean,” lanjutnya.

“Akibatnya, hanya sebagian kecil spesies yang diketahui telah dinilai untuk prioritas konservasi mereka sejauh ini, tidak merata di seluruh ruang, waktu dan taksa,” tambahnya lagi sebagaimana dikutip dari Earth

Jadi, untuk mengurangi risiko kepunahan flora dan fauna, maka keberadaan data yang memadai akan sangat membantu menghindarkan mereka dari kepunahan.

KLIK INI:  Karena Kecantikannya Caridina Diburu dan Terancam Punah