Aktivis Lingkungan Meninggal Bunuh Diri dan Mengapa Kita Mesti Meyakininya?

Klikhijau.com- Baru-baru ini bersileweran di media massa perihal kabar duka, “Aktivis yang Tolak Geotermal di Flores Meninggal Tak Wajar” Kompas, (7/9/2025).  Kematian pemuda bernama Rudolfus Oktavia...

Aktivis Lingkungan Meninggal Bunuh Diri dan Mengapa Kita Mesti Meyakininya?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com- Baru-baru ini bersileweran di media massa perihal kabar duka, “Aktivis yang Tolak Geotermal di Flores Meninggal Tak Wajar” Kompas, (7/9/2025).  Kematian pemuda bernama Rudolfus Oktavia Ruma atau akrab disapa Vian mengundang tanya di kalangan sahabat aktivis, termasuk saya secara pribadi.

Jasadnya ditemukan dalam posisi leher terikat tali sepatu, menggantung dengan lutut menekuk dan kaki yang menyentuh tanah. Di tempat kejadian terdapat tas hitam, telepon genggam, dan helm berwarna hitam. Di luar gubuk, terparkir sepeda motor bermerek  Honda CRF miliknya. Lokasi gubuk itu berada di tengah kebun sekitar Pantai Sikusama, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro pada Jumat (5/9/2025).

Dugaan sementara Vian meninggal dunia karena bunuh diri, namun bagi pihak keluarga dan rekan-rekan aktivis, kematiannya masih menjadi misteri hingga saat ini.

“Bagaimana mungkin seorang aktivis lingkungan menginginkan kematian datang lebih awal. Dan kalaupun ia berniat sejak awal untuk bunuh diri, bagaimana ia bisa berpikir menggantung lehernya memakai tali sepatu dengan kaki menyentuh tanah dapat membuatnya terbunuh lebih cepat. Dari mana ia mempelajarinya?” Pertanyaan-pertanyaan itu berbinar bak mercusuar saat sedang membaca deretan berita tentangnya.

Terus terang saya agak kurang mengerti, mengapa seorang aktivis lingkungan sampai pada kesimpulan mengakhiri hidup. Bagi saya, ini menjadi menggelitik sebab jika kita membayangkan menjadi Vian, dan mencoba melakukan bunuh diri, tentu kiranya kurang pas jikalau menjiplak cara mati dari apa yang kita pelajari dari sekolah.

Saya bergumam sendiri,“Di bawah standarlah untuk ukuran seorang aktivitis lingkungan.”

Beberapa tahun belakangan tepatnya pada tahun 2023, saya tinggal dalam satu pondok kosan yang sama dengan seorang pria yang telah mencoba melakukan bunuh diri sebanyak empat kali. Mengiris pengelangan tangan, lompat dari ketinggian hingga sengaja menabrakkan sepeda motornya di trotoar jalan.

Beberapa percobaan bunuh diri di atas sudah dilakukannya, terakhir ia ingin melakukan bunuh diri dengan cara gantung diri.

“Saya sudah mencoba menggantung diri saya, tetapi prosesnya cukup lama, saya akan mencoba cara lain yang tidak sakit. Sanggahnya jujur saat itu. Akan tetapi karena hal itu pula yang membuatnya tetap hidup hingga sekarang.

[caption id="attachment_34068" align="aligncenter" width="1158"] Vian (baju hitam) bersama rekan-rekannya-foto/Ist[/caption]

Akankah kita mengerti mengapa kematian aktivis lingkungan, dapat membuat kita merasa baik?

Sepanjang teori-teori mapan tentang mengapa orang bunuh diri, tindakan menyakitkan ini seringkali berkelindan erat dengan dorongan naluriah yakni, keinginan untuk mati. Tetapi kita harus menyadari satu hal, tubuh kita pada dasarnya lebih sulit dibunuh daripada apa yang kita bayangkan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2