Aktivis Lingkungan Meninggal Bunuh Diri dan Mengapa Kita Mesti Meyakininya?

Klikhijau.com- Baru-baru ini bersileweran di media massa perihal kabar duka, “Aktivis yang Tolak Geotermal di Flores Meninggal Tak Wajar” Kompas, (7/9/2025).  Kematian pemuda bernama Rudolfus Oktavia...

Aktivis Lingkungan Meninggal Bunuh Diri dan Mengapa Kita Mesti Meyakininya?
Bacakan Artikel

Manusia masih bisa bertahan selama delapan jam dengan lubang di kepala sebesar uang koin. Bahkan jika saya menembak pelipis, bagian primitif pada otak akan terus mengontrol pernapasan yang memastikan saya terus aktif hingga berjam-jam atau mungkin tidak akan mati sama sekali. Dalam kasus gantung diri, mungkin saya perlu memastikan bahwa saya berada pada ketinggian, lantas lompat ke dasar untuk ukuran cukup jauh menyentakkan leher saya-memutus saluran pernapasan yang merusak jaringan di otak saya akibat kekurangan oksigen. Tetapi itu pun tidak sesederhana itu.

Kini, apa yang terjadi pada Vian, sukar untuk saya pahami sebagai murni bunuh diri. Kedengarannya memang sangat jenaka, jika seseorang di antara kita berniat bunuh diri, tidak perlu lagi pusing-pusing mencari alat bantu. Cukup mengambil tali sepatu, memastikan ada tiang yang kuat, lantas menggantung diri dengan kaki yang menyentuh tanah. Seketika tubuh kita kekurangan oksigen akibat terhalang tali yang mengikat saluran pernapasan.

“Sss..., dan kita akan mati, tetapi cara itu memakan waktu, perlu durasi cukup lama.”

Lalu di media massa akan ramai pemberitaan “Tali sepatu bisa membunuhmu”, dalam laporan kejadian perkara “Seorang ditemukan meninggal, tetapi masih punya keinginan hidup meski lebih sedikit dari niatnya mati”.

Kabar itu akan menjadi anekdot, bahkan lelucon sepanjang sejarah kasus tentang bunuh diri, bahwa seorang dengan tali sepatu sendiri dapat memilih cara mati dengan gantung diri. Rasanya, tidak mudah beban tubuh kita menaruh rasa percaya diri pada tali sepatu sendiri.

Jalan sunyi dan kemalangan

Saya teringat bacaan lama, sebuah buklet dari Scotlish Exit. Satu kalimat berbunyi begini: “how to die with dignity”, alasan ini yang membikin saya berpikir tentang bagaimana seseorang yang depresi tak memiliki ketakutan akan rasa sakit atau rasa hormat. Saya kira dorongan itu tentu membuat kita memiliki jeda sekian detik pertimbangkan cara kita untuk bunuh diri. Atau memilih bagan dalam ‘death manual’. Memilah dosis yang tepat tiap pil dan metode untuk secara sengaja menjemput kematian dengan cara paling tenang.

Apakah bunuh diri adalah jalan keluar dalam bagan riwayat seorang aktivis, kita mungkin punya jawaban yang hampir sama. Tapi simpan itu dulu, mari kita coba mengulik lebih dalam.

Di kutip dari Databoks (18/10/2023) jumlah kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia mencapai 971 kasus, melampaui jumlah kasus bunuh diri pada tahun 2022 yang mencapai 900 kasus. Kenaikan kasus bunuh diri ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya interaksi sosial, tekanan akademik, dan depresi berkepanjangan, kesemuanya membeberkan persentase terbanyak kasus bunuh diri sebabkan oleh depresi.

Dalam psikologi ada yang dikenal sebagai Major Depressive Disorde; kondisi klinis yang memengaruhi suasana hati, pikiran, dan perilaku, menyebabkan perasaan sedih yang berkelanjutan dan hilangnya minat pada aktivitas yang dulunya menyenangkan. Bagian kedua, seseorang mengalami depresi diakibatkan oleh perasaan tidak berharga atau memiliki rasa bersalah berlebihan, hingga berkurangnya kemampuan berpikir dan berkonsentrasi.

Vian adalah seseorang yang tentunya tidak terisolasi akibat kurangnya interaksi sosial. Sepanjang karirnya ia mengabdi selama 6 tahun sebagai guru di SMP Negeri 1 Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Dalam pengabdiannya itulah ia juga dikabarkan lulus seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja dan masih ditempatkan di sekolah itu.

Ia juga aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan, ia mengembang jabatan strategis sebagai Ketua Orang Muda Katolik (OMK) di Stasi Ngera, Paroki Hati Kudus Yesus Maunori. Di kalangan aktivis yang tergabung dalam Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI), ia dikenal kerap membantu menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan. sosoknya dikenal sangat vokal dan tegas dalam menolak proyek yang bermuara pada pengrusakan lingkungan.

Sebagai orang muda, sudah selayaknya kita menolak pelbagai aktivitas yang mengancam lingkungan. Transisi energi adalah satu keniscayaan, Vian adalah anak muda yang resah atas dampak yang dirasakan dari geothermal. Eksploitasi berlebihan, tentu saja telah keluar dari koridor napas keberlanjutan keadilan sosial dan ekologis. Tidak dibenarkan! Saya mungkin tidak dekat dengan Vian, tetapi kita semua juga tahu, kita berduka, dan Tuhan tahu apa yang kita pikirkan.

Satu-satunya pertanyaan yang tersisa: aktivis lingkungan meninggal bunuh diri ataukah dibunuh?  Wallahu a'lam bishawab.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2