Kapur Barus, Inovasi Unik Mengusir Babi Hutan tanpa Menyakiti

oleh -69 kali dilihat
Kapur barus yang dimasukkan ke dalam gantung plastik yang digantung di kebun -foto/Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Botol-botol plastik menggantung indah di kebun Nasir. Isinya bukan air, tapi kapur barus. Jadinya, ada berbagai campuran aroma begitu memasuki kebunnya. Aroma tanah, rerumputan, daun cengkeh, daun kopi hingga kapur barus. Menyatu menyerbu indra penciuman.

Jika Jati Wesi (tokoh dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari) berkunjung ke kebun Nasir, pasti akan lebih banyak aroma yang akan diciumnya, sebab Jati memiliki indra penciuman terbaik sejagad.

Di antara aroma itu, aroma yang paling baru dan buatan adalah kapur barus. Ada rasa sedikit ngeri jika menciumnya. Baunya mengingatkan pada bau mayat. Bagi mereka yang “penakut” mungkin tak akan betah berada di kebun yang direcoki kapur barus.

Bukan tanpa alasan, kenapa Nasir menaruh kapur barus di kebunnya, dalam botol plastik yang dilubangi sedikit itu. Itu adalah inovasi cerdas dalam menjaga tanamannya. Tanpa harus akkammi. Akkammi adalah menjagai kebun dari serbuan hama babi hutan.

KLIK INI:  Workshop Makrame dan Merajut di Desa Taeng, Merawat Simpul dan Menenun Kebersamaan

Selain akkammi, ada satu istilah lagi yang kerap dilakukan masyarakat untuk mengusir babi hutan dan menjaga tanamannya. Namanya assimpa, ini dilakukan tanpa harus bermalam di kebun, hanya mengunjungi kebun pada malam hari, berbeda dengan kammi.

Selain dua cara di atas, cara lain yang masih terbilang tradisional adalah murang, mengusir babi hutan dengan memburunya, biasanya menggunakan anjing dan tombak. Ini cara yang butuh fisik yang tangguh, sebab harus berlari, menerabas belukar, menyeberangi sungai hingga mendaki bukit atau gunung.

Cara lainnya adalah cappi dan boeng, cappi adalah memasang kain yang telah dicelupkan ke dalam wewangian tertentu lalu dipasang di sekitar lokasi yang potensial dilalui babi hutan. Sementara boeng adalah memasang kain atau benda yang tak lagi terpakai pada kebun atau sawah.

Namun, seiring putaran waktu, cara-cara baru datang mengisi pengetahuan warga. Cara-cara tradisional itu mulai perlahan ditinggalkan, khususnya kammi dan simpa. Namun, berburu masih banyak yang melakukannya. Apalagi Pemerintah daerah Bulukumba pernah mengeluarkan instruksi agar dilakukan murang guna memerangi hama babi hutan yang cukup meresahkan dan merugikan.

KLIK INI:  Hutan Hujan Tropis Tidak Beradaptasi Cukup Cepat Terhadap Perubahan Iklim?
Cara jitu terbaru

Saat ini, ada dua metode yang dilakukan untuk menghalau atau mengusir babi hutan agar tak merusak tanaman. Menggunakan setrum dan kapur barus.

Penggunaan kapur barus masih tergolong baru, yang menerapkannya masih sedikit. Yang saya tahu dan temukan baru dua orang di Desa Kindang, Nasir dan ayah saya.

Hanya yang membedakan, media yang mereka gunakan untuk menyimpan kapur barus. Jika Nasir memilih botol platik bekas, maka ayah saya lebih memilih kantong kresek bekas. Sementara caranya sama, menggantungnya di kebun dengan melubanginya agar bau kapur barus berlompatan keluar.

KLIK INI:  5 Ide Kreatif dan Ramah Lingkungan Merayakan Ulang Tahun Perusahaan

Bau atau aroma kapur barus yang menyengat dan unik. Rupanya tak disukai oleh babi. Makhluk yang lebih banyak berkeliaran di malam hari ini cenderung menghindarinya.

Penggunaan kapur barus cukup efektif, sebab kebun yang kere-kereang–istilah lokal Desa Kindang untuk menamai tanah yang kerap diacak-acak oleh babi hutan untuk mencari makanan. Tanah yang kere-kereang tak pernah mempan ditanami dan ditumbuhi tanaman apa pun itu. Sebab diusik oleh babi hutan setiap saat.

Dikutip dari Kompas, bahwa babi hutan lebih mengandalkan indra penciumannya yang tajam dibandingkan dengan indra penglihatan. Pasalnya, hama ini aktif mencari makan di malam hari.

Kapur barus yang memiliki wangi yang tajam dapat mengganggu indra penciumannya.. Apalagi jika dicampur dengan terasi. Kapur barus mesti ditumbuk halus dan campurkan dengan terasi, dapat menanggung indra penciuman babi hutan.

Campurannya tersebut (kapur barus dan terasi) lalu digantungkan pada sekeliling lahan dengan setinggi badan babi hutan kurang lebih 30 cm.

KLIK INI:  Rina dan Tawaran Mengadopsi Palem Sikas
Hama hewan dan dampaknya

Basral dan Purwaningsih (2025), mengatakan bahwa hama hewan merupakan salah satu faktor yang paling nyata merugikan petani karena langsung menimbulkan kerusakan pada tanaman dan berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan ekologi.

Babi hutan (Sus scrofa) adalah hewan liar yang paling merugikan. Apalagi satwa liar ini, di Indonesia, spesies ini ditemukan hampir di seluruh kepulauan dan dapat beradaptasi dengan berbagai habitat, mulai dari hutan dataran rendah hingga kawasan pegunungan.

Mereka memiliki memiliki kemampuan bertahan hidup tinggi di berbagai kondisi lingkungan, termasuk semi-padang pasir, padang rumput, hingga hutan tropis.

Babi hutan berkembang biak dengan sangat cepat, sehingga populasinya cukup melimpah, hal itu tentu memberikan dampak negatif signifikan baik secara sosial-ekonomi maupun ekologi.

KLIK INI:  Jarolli Tak Lagi Terbang Menuju Gunung Bawakareang

Cara mereka mencari makan adalah dengan  rooting atau mencari makan dengan membongkar tanah  dan pembuatan sarang menyebabkan kerusakan vegetasi dasar dan menurunkan kualitas habitat.

Bagi masyarakat, serangan babi hutan menimbulkan kerugian ekonomi akibat rusaknya lahan pertanian, sehingga diperlukan strategi pengendalian yang efektif dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek sosial-ekonomi petani

Penggunaan kapur barus untuk mengusir babi hutan dari lahan pertanian, seperti yang dilakukan Nasir dan ayah saya bisa jadi pilihan menarik dan cerdas. Bukan hanya karena hemat biaya, tetapi juga tanpa menyakiti babi hutan (secara fisik).

Bau tajam dari kapur barus mampu membuat babi hutan enggan mendekat ke area tersebut, karena aroma menyengatnya menimbulkan rasa tak nyaman baginya, sehingga mereka akan menghindarinya dan tanaman bisa selamat hingga panen.

KLIK INI:  Silika Gel, Jenis dan Manfaatnya dalam Keseharian