Mengurai Cara Mengatasi Ancaman Babi Hutan pada Tanaman

oleh -542 kali dilihat
Babi
Salah satu jenis babi Indonesia-foto/Fixabay

Klikhijau.com – Tradisi berburu babi hutan telah dilakoni sejak dulu, misalnya di Bulukumba. Tradisi tersebut masih ada hingga sekarang. Namanya murang.

Biasanya masyarakat menggelar murang dua hari dalam seminggu. Mereka membawa tombak serupa orang akan pergi berperang.

Senjata lain yang dibawa adalah anjing. Anjing-anjing yang ikut murang adalah yang berani bertarung melawan babi. Anjing-anjing itu diberi nama tersendiri.

Babi hutan adalah jenis binatang yang paling meresahkan bagi petani. Perusak tanaman yang paling andal dengan populasi yang seperti tak bisa berkurang.

KLIK INI:  Studi: Ban Bekas Kini Dikembangkan Jadi Beton

Tradisi murang tak membuatnya jera, bahkan babi hutan semakin berani berkeliaran. Ia bisa datang menghabisi tanaman di sekitar rumah—di mana anjing banyak berkeliaran.

Itu pula yang menyebabkan banyak orang berkelakar, jika babi hutan dan anjing saat ini sudah bersahabat, seperti penjahat dan para penegak hukum—bisa makan bersama.

Kehadiran hama paling beringas itu, tak hanya dirasakan oleh petani Indonesia, khususnya Bulukumba, tapi rupanya juga diresahkan oleh petani di luar negeri, Amerika Serikat (AS).

Babi hutan di AS, seperti dilansir dari Earth telah  berkontribusi besar  terhadap kerusakan properti dan tanaman senilai $1,5 miliar di AS setiap tahun.

Masalahnya adalah babi hutan sulit  dihitung populasi  dan pergerakannya. Populasinya sangat besar diperkirakan mencapai  sekitar 9 juta hewan di AS, dan oleh karena itu upaya mitigasi menjadi rumit.

Cara mengatasi babi hutan

Untuk mengatasi binatang bernama ilmiah Sus scrofa ini, ada penelitian baru dari University of Georgia. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Pest Management Science.

KLIK INI:  Tire, Idola Baru Masyarakat Kindang

Tujuan penelitian itu adalah untuk membantu menyelesaikan masalah binatang  omnivora itu. Caranya dengan melacak babi liar (hutan) di area seluas 310 mil persegi di Savannah River Site di Carolina Selatan.

Pelacakan itu bertujuan untuk memberikan wawasan tentang bagaimana babi bergerak dan memilih habitat, dengan sebagian besar wilayah dipilih karena preferensi habitat dan suhu udara.

“Idenya adalah untuk memberikan pengetahuan tentang pergerakan babi hutan pada skala temporal. Di mana sebagian besar praktik dan keputusan manajemen terjadi,” kata Lindsay Clontz,  penulis pertama studi tersebut.

Ia menambahkan pula bahwa variabel yang  dimasukkan dimaksudkan untuk bersifat universal (yaitu, kualitas habitat, cuaca, karakteristik lanskap), sehingga praktis bagi pemilik dan pengelola lahan untuk membuat keputusan pengelolaan yang terinformasi dari minggu ke minggu.

Tim peneliti menangkap sementara 49 babi hutan melalui perangkap berumpan agar sesuai dengan radio collar untuk melacak pergerakan mereka selama setahun.

Dari data yang dihasilkan itu menegaskan bahwa babi umumnya memilih rawa kayu keras dataran rendah sebagai habitat mereka.

Hal ini karena ketersediaan pakan dan air, memungkinkan babi untuk mengatur suhu tubuh mereka dalam iklim panas.

KLIK INI:  Dua Masalah Klasik Saat Membuat Eco Enzyme, Penyebab dan Solusinya
Perilaku jantan dan betina berbeda

Para ahli juga menemukan bahwa babi betina tinggal lebih dekat dengan habitat yang diinginkan daripada rata-rata pejantan.

“Pada kebanyakan mamalia, betina lebih terikat pada sumber daya daripada jantan,” kata Beasley. “Pejantan sering bergerak lebih banyak di seluruh lanskap untuk mendapatkan akses ke betina – terutama babi, yang dapat berkembang biak sepanjang tahun,” lanjutnya.

Lebih lanjut, penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pengurangan tekanan udara menghasilkan lebih sedikit pergerakan babi.

“Anda mungkin pernah mendengar orang berbicara tentang hewan peliharaan atau hewan yang merespons sebelum badai,” kata Beasley.

Menurut Beasley, itulah tepatnya yang kita lihat dengan babi.  Ketika peristiwa cuaca buruk ini melanda, babi cenderung memusatkan gerakannya, mungkin di area persembunyian untuk menghindari elemen.

Itu memiliki aplikasi langsung dalam cara kami menerapkan perangkap atau program kontrol lainnya dan memutuskan di mana dan kapan harus memusatkan upaya.”

Sementara tujuan inti dari penelitian ini adalah untuk mengurangi kerusakan tanaman dan harta benda.

KLIK INI:  Energi Biomassa Kayu Bukan Energi Terbarukan, Benarkah?

Para peneliti berharap dapat memiliki aplikasi yang lebih penting di masa depan. Contohnya adalah melacak pergerakan babi untuk mengurangi penyebaran penyakit seperti Flu Babi Afrika, situasi yang dapat menimbulkan ancaman besar bagi industri daging.

“Dari sudut pandang domestik, setiap kali ada deteksi wabah seperti itu, mereka sering kali harus masuk dan membantai jutaan babi dan membuangnya serta menutup ekspor. “Jadi, ini adalah masalah ekonomi dan ekologi.”

Babi hutan bukan hanya merusak tanaman, tapi juga merampas kesuburan tanah. Rerata tanah yang telah diobok-obok oleh babi hutan unsur kesuburannya akan menurun.

Jadi, hasil penelitian tersebut bukan hanya akan bermanfaat di AS, api juga bisa meluas ke Indonesia untuk mengatasi masalah hama bandel itu.

Cara lain

Selain itu, cara berikut pun bisa diterapkan

  • Memasang pagar hidup, yaitu tumbuhan yang memiliki struktur kokoh, misalnya salak.
  •  Mempersulit jangkauan babi, yakni dengan membuat parit yang lebar dan dalam
  •  Membuat pagar seng, kawat atau kayu
  •  Menggunakan setrum aki, cara ini telah diterapkan sejumlah petani dengan sumber energi dari panel surya. Jangan menggunakan setrum langsung dari aliran listrik PLN, karena sangat berbahaya. Bisa merenggut nyawa manusia.
KLIK INI:  Mantap, California dan Inggris Bakal Melarang Penggunaan Kantong Plastik