Meneropong Artivisme Lingkungan di Indonesia

oleh -142 kali dilihat
Meneropong Artivisme Lingkungan di Indonesia
Ilustrasi - Foto: Unsplash

Klikhijau.com – Seni dan aktivisme lingkungan telah menjalin senyawa baru dalam mengartikulasikan dinamika dan perubahan dunia. Seni dipandang tak lagi berbicara problematika sosial, budaya, dan politik. Seni juga punya andil dan bisa memberi tawaran baru di tengah upaya untuk mengatasi kompleksitas dan desakan masalah lingkungan.

Dinamika seni yang transformatif melalui karya “The Art of Environmental Activism in Indonesia” yang monumental, dipandang menyediakan  laboratorium produktif untuk mengeksplorasi kekuatan kreativitas sebagai agen perubahan sosial,  politik, dan kebudayaan

Lewat buku karya Edwin Jurriens ini hendak meneropong sejauh mana ikatan perwujudan antara seniman dan peran aktivisme lingkungan di Indonesia. Buku ini berupaya menganalisis hubungan antara seni kontemporer dan aktivisme lingkungan di Indonesia.

Mengisi Ruang Kosong

Buku Seni Aktivisme Lingkungan di Indonesia memberi andil dalam mengisi ruang kosong dalam literatur seni dan aktivisme. Hubungan Indonesia yang kompleks dengan lingkungan alam dan budayanya, merefleksikan bab-bab awal buku ini. Potret pameran tunggal seniman Setu Legi dalam mengeksplorasi “Tanah Air” menjadi lukisan yang mewarnai isi buku yang merujuk pada tanah dan air.

KLIK INI:  Cara Bijak Hidup Ramah Lingkungan

Aspek gender dan agama dalam pelibatan lingkungan di Indonesia turut diangkat oleh penulis lewat kehadiran karya seniman Arahmaiani. Buku ini memberi penekanan kaitan antara fenomena alam dan budaya Indonesia yang cukup beragam. Lantas, bagaimana seni ikut mengambil peran dan berkontribusi pada kesadaran ekologis

Dalam upaya terdalam dengan jalan mengeksplorasi bagaimana seni telah mempromosikan kesadaran ekologi dari akhir 1960-an hingga awal 2020-an. Pada dasarnya buku ini hendak menunjukkan, bagaimana seni telah turut berkontribusi pada perubahan sosial dan respons publik dan politik atas masalah krisis lingkungan.

Periode ini mencakup perkembangan urban yang cepat di bawah rezim Orde Baru yang totaliter (1967-1998) serta kebebasan berekspresi yang meningkat, model pembangunan alternatif, dan masalah lingkungan di bawah pemerintahan demokratis sejak 1998.

Tawaran Konsep Artisme

Buku dengan ketebalan 250 halaman ini menerapkan konsep “artivisme” untuk merujuk pada peran penting seni dalam aktivisme.

Buku ini berusaha untuk mengidentifikasi dan mengkontekstualisasikan potensi dan batasan artivisme lingkungan di Indonesia, sebuah negara yang memiliki panggung adegan dan pertunjukan seni yang ikut berkontribusi pada masalah-masalah lingkungan.

KLIK INI:  Lelaki Asal Sinjai Ini Angkat Isu Lingkungan di Bukunya “Kepada Jauh yang Dekat”

Dalam merespons dampak lingkungan, jebakan politisasi, isu-isu ekologi yang menyejarah, seniman modern dan kontemporer bermunculan.

Konsep “Artivisme” diperkenalkan dalam buku ini dalam penekanan peran seni  yang menghubungkan masyarakat dengan aspek kepedulian terhadap lingkungan. Konsep ini juga menginspirasi hubungan keberlanjutan antara manusia dan alam.

Kedalaman buku ini juga memberikan gambaran komprehensif tentang seni kontemporer dari Indonesia, dengan analisis mendalam tentang artivis yang berusaha untuk mengatasi dan menemukan solusi untuk beberapa masalah lingkungan yang paling mendesak di zaman kita.

Melalui pendekatan empiris yang rinci tentang seni lingkungan di Asia Tenggara, proyek ini mengisi celah penting dalam literatur tentang seni dan aktivisme.

Kehadiran buku ini ditujukan untuk akademisi, mahasiswa, seniman, kurator, pembuat kebijakan, aktivis, dan pembaca umum yang tertarik dengan lingkungan, sejarah seni, dan budaya, masyarakat, dan politik Indonesia.

KLIK INI:  16 Novel yang Menggugah Kesadaran akan Bahaya Perubahan Iklim

Catatan Kritis

Beberapa catatan kritis untuk buku ini antara lain :

  1. Gelora aktivisme lingkungan masih dalam ruang lingkup menyoroti bagaimana faktor politik dalam rezim orde baru yang berdampak lingkungan dan kebebasan pendapat yang terbatas.
  2. Dalam menyoroti program pembangunan era Soeharto tersebut, dipandang problem lingkungan masih sebatas pulau-pulau di Jawa dan berdampak secara lokal.
  3. Lalu pembangunan ekonomi yang terjadi digambarkan lebih memprioritaskan daerah-daerah di pusat yang berimplikasi lahirnya kesenjangan ekonomi dan eksploitasi lingkungan.
  4. Sehingga amatan atas kesenjangan ekonomi sebagai alasan untuk melakukan penetrasi terhadap lingkungan. Eksploitasi lingkungan menjadi gejala umum yang lahir dalam pemanfaatan dan pendayagunaan yang semakin terbatas.

Tentang Penulis

Edwin Jurriëns adalah penulis tergabung dalam Associate Professor dan Koordinator Program Studi Indonesia di Asia Institute, Fakultas Seni, Universitas Melbourne, Australia.

Beliau merupakan penulis dengan tiga buku solo, 1). Visual Media in Indonesia: Video Vanguard (Routledge, 2017),  2). From Monologue to Dialogue: Radio and Reform in Indonesia (2009), dan 3). Cultural Travel and Migracy: The Artistic Representation of Globalization in the Electronic Media of West Java (2004).

Selain itu beliau juga merupakan editor bersama beberapa buku yang diedit, salah satunya Disaster Relief in the Asia-Pacific: Agency and Resilience (Routledge, 2014).

KLIK INI:  Ketika Cengkeh dan Kunyit Tak Sekadar Rempah, tapi Peta Pulang kepada Kekasih