Miris, Pelajar SMPN 10 Bulukumba Temukan Mikroplastik di Sungai Balantieng

oleh -152 kali dilihat
Pelajar SMPN 10 melakukan penelitian di sungai Balantieng-foto/Ist

Klikhijau.com – Penemuan mikroplastik di sungai Balantieng nyata adanya. Komunitas Masyarakat Peduli Sungai (KMPS) Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale’, Kabupaten Bulukumba telah membuktikannya belum lama ini (baca INI).

Bukti terbaru jika mikroplastik telah menghuni sungai Balantieng ditemukan oleh siswa SMPN 10 Bulukumba bersama Yayasan Ecological Observation and Wetland Conservation (ECOTON). Padahal sungai Balantieng menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitar DAS Balantieng.

Pengujian mikroplastik di sungai Balantieng dilakukan di Kelurahan Dannuang, kecamatan Ujung Loe positif mengandung mikroplastik dengan jenis Filamen, Fragmen, Foam dan Fiber.

Kegiatan penelitian tersebut melibatkan siswa sebanyak 35 orang. Sebelum melakukan penelitian siswa diperkenalkan mengenai ekosistem sungai dan ancaman mikroplastik di sungai.

KLIK INI:  SIEJ dan WRI Gelar Temu Editor, Bahas Ekonomi Rendah Karbon Pasca Pandemi

Kegiatan penelitian kualitas air sungai ini disambut antusias oleh para siswa di SMPN 10 Bulukumba.

Salah satu siswa bernama Khaera mufliha (13) mengungkapkan bahwa ia senang dengan kegiatan penelitian ini, sebab ia merasa bisa belajar secara langsung meneliti di sungai.

Tidak hanya itu, siswa kelas 8 tersebut juga merasa kaget dengan kandungan mikroplastik yang ditemukan. Sebab sebelumnya ia merasa sungainya bersih namun banyak mengandung mikroplastik.

Selain pengujian mikroplastik, para siswa juga melakukan penelitian dengan parameter Nitrat, Nitrit, Fosfat, Klorin, TDS, PH dan DO. Sementara hasil pengujian menunjukkan bahwa Nitrat 1 ppm, Nitrit 0 ppm, Fosfat 0,6 ppm (melebihi baku mutu yakni 0,2 ppm), Klorin 0 ppm, TDS 30 ppm, PH 7 dan DO 6,4 ppm.

KLIK INI:  Mampukah Kita Mendukung Ecoton yang Mendesak Penghentian Pengiriman Sampah dari Australia ke Indonesia?

“Melalui kegiatan penelitian kualitas air sungai secara langsung, siswa diharapkan dapat merasakan dampak pencemaran terhadap lingkungan dan makhluk hidup, sehingga termotivasi untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian,” ungkap Erni, salah satu guru di sekolah tersebut.

Bukan yang pertama

Amiruddin Muttaqin, Peneliti ECOTON mengatakan, temuan mikroplastik di sungai Balantieng  tersebut bukan yang pertama. Sebab pada kegiatan penelitian kualitas air sebelumnya yang dilakukan di sungai Balantieng bagian tengah juga telah ditemukan mikroplastik.

“Hasil penelitian ini semakin memperjelas kondisi sungai Balantieng mulai dari bagian tengah hingga hilir cukup memprihantinkan dengan keberadaan mikroplastik. Mikroplastik yang di temukan berasal dari sampah yang tidak terkelola dan di buang sembarangan oleh masyarakat sehingga masuk ke sungai,” terangnya.

KLIK INI:  Perihal Permen LHK tentang Food Estate, WALHI: Membuka Kran Deforestasi Akut!

Amir menyaarankan, selain memberikan pendidikan dan informasi terkait bahaya sampah serta melakukan pemilahan dari rumah. Pemerintah seharusnya juga turut menyediakan fasilitas pendukung pengelolaan sampah bagi masyarakat, atau juga ikut mendorong produsen penghasil sampah yang tidak bisa terdegradasi untuk ikut bertanggung jawab.

Perlu diketahui bahwa mikroplastik telah menjadi ancaman baru yang dihadapi oleh manusia. Beberapa riset penelitian telah mengungkapkan ancaman bahaya mikroplastik bagi manusia dan temuan-temuan partikel mikroplastik di dalam tubuh manusia mulai dari paru-paru, lambung, hati, usus, ginjal, hingga plasenta.

KLIK INI:  Instalasi Kran Plastik dan Akuarium Bayi, Cara Unik Ecoton Meriahkan World Clean Up Day