13 Anak Penggerak Perubahan Terpilih Menjadi Ashoka Young Changemaker 2023

Klikhijau.com โ€“ Setelah melalui tiga kali wawancara dan satu kali wawancara panel, 13 anak muda usia 10-19 tahun dari 9 provinsi di Indonesia terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker 2023. Proses...

13 Anak Penggerak Perubahan Terpilih Menjadi Ashoka Young Changemaker 2023
Bacakan Artikel

Ayah Atha yang bekerja di sektor energi kerap berdiskusi dengan Atha tentang tantangan-tantangan pengembangan energi terbarukan. Atha juga menonton film-film dokumenter yang menyoroti kelangkaan sumber daya alam, seperti air dan listrik di pedesaan Afrika. Ini membuat Atha menyadari bahwa Indonesia merupakan salah satu dari konsumen terbesar penggunaan energi di dunia yang mungkin menghadapi tantangan yang sama di masa depan. Ia mengamati kurangnya kesadaran di masyarakat Indoensia tentang pentingnya menghemat energi โ€“ terutama karena sektor ini terlihat tidak menarik, serta rendahnya prioritas dalam konservasi energi dalam masyarakat. Menyikapi isu tersebut, Atha dan teman sekelasnya membentuk โ€œSa-Funโ€ untuk mendorong teman- temannya menjadi โ€œDuta Hemat Energiโ€. Mereka mengedukasi teman sebaya untuk menghemat energi dengan cara asyik dan kreatif, seperti menggunakan board games, video, stiker, serta diskusi. Saat ini, Sa-Fun telah memiliki 20 anggota dan menjangkau 450 siswa di sekolah-sekolah di Serpong.


  1. Kynan Tegar (18) Dayak Documentary Foundation / Putussibau, Kalimantan Barat


Membuat film dokumenter sebagai media untuk berbagi ilmu kearifan lokal dalam upaya melestarikan hutan.

Kynan dibesarkan dalam lingkungan dengan budaya yang berbeda, yakni perkotaan dan pedesaan dari latar belakang orang tuanya. Keragamanan ini membentuk perspektif yang berbeda tentang komunitas adat yang hidup berdampingan dengan alam dan kota yang mengandalkan teknologi. Ketika tumbuh, Kynan berperan menjadi alih bahasa untuk wisatawan asing yang datang ke desanya, Sungai Utik. Kynan tertarik dengan minat mereka dalam mempelajari kearifan lokal dan upaya melestarikan hutan. Kesadaran ini memicu semangat Kynan untuk membagikan pengetahuan komunitas adat lewat video dokumenter. Pada umur 13 tahun, Kynan mengawali jejak awalnya menjadi seorang pembuat film dengan membuat film pertamanya โ€œMali Umaiโ€ yang kemudian diputar di Bali International Indigenous Film Festival. Dokumenter ini juga menjadi dokumen pendukung bagi komunitas Dayak Iban untuk mendapatkan hak penuh atas hutan berdasarkan Surat Keputusan tentang Hutan Adat di tahun 2019. Saat ini, Kynan dan timnya sedang terlibat dalam produksi film bertajuk โ€œSounds of The Forestโ€ yang akan diproduksi oleh Netflix.


  1. Kezia Tulalessy (18) Lebebae Community / Ambon, Maluku


Melestarikan lingkungan melalui kegiatan yang menyenangkan dan mendidik bagi generasi muda.

Kezia tumbuh di Amahusu, sebuah desa di Ambon, Maluku. Ia menyadari bahwa pantai di lingkungannya sangat tercemar. Pencemaran ini membuat penduduk tidak bisa lagi menikmati pantai. Di umur 14 tahun, Kezia dan teman-temannya membentuk komunitas Lebebae, dalam bahasa lokal โ€œlebih baikโ€. Mereka memprakasai kegiatan bersih pantai secara rutin, pengelolaan sampah, donasi barang untuk panti asuhan, menanam terumbu karang, kemah kepemimpinan bahkan melakukan program untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di sekolah sekitar. Orang tua para anggota komunitas Lebebae sangat mendukung, menyediakan makanan serta transportasi untuk aktifitas mereka. Hingga hari ini, komunitas Lebebae memiliki 70 anggota dan bermitra dengan Bank Republik Indonesia yang telah menyediakan tempat sampah untuk mencegah aksi buang sampah sembarangan di desa-desa. Selain itu, mereka telahย menanam kurang lebih 1.000 pohon di lingkungan sekitar. Komunitas Lebebae aktif memantau pertumbuhan pohon-pohon tersebut tiap 2-4 bulan sekali.

[irp]

Pilih Halaman: