13 Anak Penggerak Perubahan Terpilih Menjadi Ashoka Young Changemaker 2023

Klikhijau.com โ€“ Setelah melalui tiga kali wawancara dan satu kali wawancara panel, 13 anak muda usia 10-19 tahun dari 9 provinsi di Indonesia terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker 2023. Proses...

13 Anak Penggerak Perubahan Terpilih Menjadi Ashoka Young Changemaker 2023
Bacakan Artikel

Alya tumbuh dalam lingkungan yang menormalisasi pernikahan anak. Tetapi, ia sangat percaya bahwa setiap orang harus memiliki akses yang sama terhadap pendidikan, kesejahteraan, dan keterlibatan dalam masyarakat. Oleh karena itu, Alya memulai advokasinya tentang peraturan pemerintah yang mengatur soal pernikahan anak ketika ia berusia 14 tahun. Tahun 2020, pernikahan anak dilarang di Sukabumi. Ia juga mendampingi anak-anak perempuan untuk menghindari nikah anak. Terinspirasi dari pengalaman pribadinya, Alya membentuk State of Youth Sukabumi untuk memperdayakan anak muda lain sehingga dapat memperjuangkan hak mereka. Bersama 50 anggotanya, ia mengorganisir webinar, talk show, podcast, kampanye, pawai hingga terlibat dalam diskusi tingkat lokal untuk meningkatkan kesadaran tentang isu anak muda seperti kekerasan berbasis gender, perubahan iklim, dan kesehatan mental. Berkat kegigihannya, mereka telah mengumpulkan dana sebesar lebih dari empat belas juta rupiah sejak tahun 2021 serta terlibat aktif dalam dialog-dialog dengan pemerintah daerah tentang perencanaan daerah atau Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan).


  1. AM Shidqie (16) AyoMaen / Bandung, Jawa Barat


Mendorong anak-anak untuk bermain di luar ruangan dan diet gawai demi perkembangan sosial, kognitif, dan fisik mereka.

Seperti anak pada umumnya, Shidqie memiliki kegemaran bermain gim dan gawai, tetapi ia juga menyadari bahwa lingkungan sekitarnya sepi karena anak-anak jarang bermain di luar. Ia menemukan fakta bahwa rata-rata anak Indonesia menghabiskan 5,5 jam untuk bermain gawai, lebih lama dibanding standar yang disarankan yakni 2 jam sehari. Shidqie pun mencari solusi. Ia membuat jadwal mingguan yang disebut โ€˜AyoMaenโ€™ di tahun 2017 untuk tetangga sekitarnya dengan dukungan orang tua dan guru. Setelah berhasil mengelola inisasinya selama dua tahun, Shidqie dan 10 temannya melebarkan konsep ide ke ekowisata dimana anak-anak dapat bermain dan belajar di alam. Mereka mengorganisir aktivitas di lingkungan sekitar dan pesantren, bahkan membuat paket tur untuk sekolah lain. Selain itu, mereka meluncurkan โ€˜Diet Gadgetโ€™ sebuah modul untuk membantu orang tua dan guru untuk mendorong kegiatan-kegiatan di luar rumah. Sebagai hasilnya, AyoMaen sudah memberikan dampak positif untuk ribuan anak di berbagai provinsi di Indonesia.


  1. Ade DCP (17) Gerakan Tunanetra Mengaji / Surabaya, Jawa Timur


Meningkatkan literasi dan kepercayaan diri penyandang disabilitas netra melalui kelas mengaji Quran Braille.

Ade kehilangan penglihatannya di usia 10 tahun, tetapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk membaca buku dan Al-Quran yang ditulis dalam huruf Braille. Ketika tumbuh dewasa, ia melihat bahwa hanya sedikit teman-teman tuna netra yang dapat membaca Al-Quran dalam huruf Braille. Faktanya, 95% tuna netra Muslim tidak bisa membaca dan menulis huruf Hijaiyah Braille karena berbagai sebab seperti; keterlambatan kebutaan dan minimnya edukasi. Ade dan teman-temannya yang khawatir bahwa tuna netra lain tidak bisa mengakses Al-Quran. Ia membentuk Kawan Netra (komunitas relawan tunanetra) untuk mengorganisir kelas Al-Quran Braille secara rutin. Dengan dukungan organisasi donor seperti Dompet Dhuafa dan Nurul Hayar, mereka dapat menjangkau kelompok dengan berbagai umur di berbagai wilayah. Sekarang, program ini yang kemudian dikenal dengan GTM (Gerakan Tunanetra Mengaji) telah merangkul 261 peserta. GTM tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi tetapi juga mendorong komunitas tuna netra agar lebih percaya diri serta mandiri.

[irp]


  1. Adinda PK (18) Green Innovation with MOCARO / Pasuruan, Jawa Timur


Mengolah biji mangrove menjadi kopi non-kafein untuk kesehatan, ekonomi, dan lingkungan yang lebih baik.

Di tengah pandemi Covid-19, Adinda menyadari bahwa sektor ekonomi dan pendidikan di lingkungannya menghadapi tantangan finansial. Saat berwisata ke pantai di kampung halamannya, ia melihat bahwa mangrove lokal, yang umumnya untuk mencegah abrasi ternyata juga memiliki nilai jual. Adinda mengumpulkan data-data bahwa buah dari mangrove Rhizophora mucronata dapat diolah menjadi kopi non kafein, dan batangnya dapat ditanam lagi sebagai bibit mangrove. Dengan dukungan lima temannya, Adinda mendirikan projek MOCARO. Mereka mengembangkan produk kopi non kafein, memasarkan dan melakukan penyuluhan tentang mangrove di sekolah-sekolah bahkan di komunitas lokal. MOCARO telah mendapat dukungan dari para pemangku kebijakan, organisasi seperti PLAN Indonesia dan Save the Children. MOCARO juga berhasil diadopsi oleh masyarakat pesisir lain di Nusa Tenggara Timur.


  1. Diah FA (17) Janglangso / Jambi, Jambi


Mengajak generasi muda untuk melestarikan sumber daya alam dan tempat wisata di Jambi.

Diah menyadari adanya potensi ancaman dari perubahan iklim terhadap sumber daya alam dan potensi wisata di kampung halamannya. Ia juga percaya bahwa generasi muda memiliki peran penting untuk membentuk masa depan. Diah berinisiatif untuk mengumpulkan teman-temannya dan mengorganisir kegiatan anak muda serta pelestarian lingkungan seperti World Clean Up Day serta mengolah sampah. Produk-produk yang dihasilkan antara lain sabun, gantungan kunci, baju karnaval dan ecoenzymes yang dipromosikan pada pelaku usaha lokal maupun menengah untuk dijual, mereka juga melakukan pemberdayaan ekonomi. Selain itu, mereka terlibat dalam kegiatan masyarakat seperti relawan bencana alam, mengajar anak suku asli, dan membersihkan masjid. Lewat proyeknya, โ€œJanglangsoโ€, Diah menyediakan ruang untuk teman-temannya mengaktualisasi diri sekaligus mendorong pelestarian alam dan budaya. Saat ini, โ€œJanglangsoโ€ sudah melibatnya 250 anak muda dan orang dewasa di Jambi.


  1. Serafine Christabela Beatricia (17) Karsa Cita / Semarang, Central Java


Membuka ruang dialog bagi anak muda untuk meningkatkan kesehatan mental dan menemukan tujuan hidup mereka.

Selama pandemi Covid 19, Serafine bergulat tentang identitasnya dan makna hidupnya. Selama menghabiskan waktu di sosial media, Serafine โ€˜berjumpaโ€™ dengan influencer muda dan idolanya, BTS, yang memotivasi anak muda lain untuk menjadi lebih baik. Hal ini memacunya untuk membuat Karsa Citra, tempat bagi anak muda untuk mengekspresikan diri, menjaga kesehatan mental dan menemukan tujuan hidup. Bersama dengan 94 anggotanya yang berusia 15-25 tahun, Serafine mengadakan ruang berbagi secara rutin dan sesi mentoring dalam hal kepemimpinan dan pengembangan diri. Ia juga bekerja sama dengan ahli dan aktivis di bidang perdamaian untuk mengadakan sesi berbagi dengan lebih dari 100 partisipan. Mereka juga membuat seminar untuk anak-anak SMA yang tinggal di panti asuhan di Semarang tentang kesehatan mental. Sosial media Karsa Citra telah menjangkau 41,298 pengguna termasuk anak muda dan orang dewasa dengan 299,316 impresi. Serafine bertekad untuk memperluas sayap Karsa Citra di tingkat nasional bahkan internasional.


  1. Muhammad Fahry Azizurahman (17) Generasi Anti Kekerasan / Bengkulu, Bengkulu


Menciptakan komunitas pemuda yang melakukan kegiatan edukasi dan advokasi terkait kekerasan berbasis gender.

Sejak usia 5 tahun, Fahry telah terlibat dalam organisasi tantenya, Yayasan PUPA, yang berfokus pada pendidikan dan pemberdayaan perempuan dan anak. Lewat pengalamannya menjadi relawan serta berpartisipasi dalam forum anak muda, Fahry mengembangkan rasa empati yang mendalam terhadap anak-anak yang menjadi korban perceraian dan kekerasan berbasis gender. Salah satu kegiatan Save The Children membuatnya terpantik untuk mendiskusikannya dengan tantenya, yang mendorongnya untuk mengembangkan Generasi Anti Kekerasan, sebuah komunitas muda yang mengedukasi publik tentang kekerasan berbasis gender, terutama yang terjadi di ruang maya ketika pandemi Covid 19. Mereka melangsungkan pelatihan, kampanye, dan festival untuk mengadvokasi cara mengakhiri kekerasan berbasis gender. Dengan dukungan jaringan PUPA, komunitas ini berhasil berkolaborasi dengan media untuk meningkatkan kesadaran isu serta melakukan audiensi dengan pemangku kepentingan untuk mendorong aksi untuk mencegah kekerasan/ pelecehan seksual terhadap anak.


  1. Muhammad Atha KY (17) Sa-Fun (Save Energy is Fun) / Tangerang Selatan, Banten


Meningkatkan kesadaran penghematan energi melalui kampanye edukasi kreatif di sekolah.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: