13 Anak Penggerak Perubahan Terpilih Menjadi Ashoka Young Changemaker 2023

Klikhijau.com โ€“ Setelah melalui tiga kali wawancara dan satu kali wawancara panel, 13 anak muda usia 10-19 tahun dari 9 provinsi di Indonesia terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker 2023. Proses...

13 Anak Penggerak Perubahan Terpilih Menjadi Ashoka Young Changemaker 2023
Bacakan Artikel

Di Indonesia, selain mengadakan pemilihan Ashoka Young Changemaker, Ashoka juga bekerja sama berbagai ekosistem di bidang tumbuh kembang anak muda, seperti sekolah-sekolah menengah di jaringan Muhammadiyah, NU, dan sekolah Katholik serta gerakan keluarga untuk memastikan agar anak- anak muda mendapat dukungan untuk mengembangkan wawasan dan keterampilan mereka untuk menggerakkan perubahan, seperti para Ashoka Young Changemaker.

โ€œDalam era yang penuh perubahan dan disrupsi ini, keterampilan menggerakkan perubahan adalah kunci menghadapi masa depan yang telah datang,โ€ tegas Nani Zulminarni, Direktur Ashoka Asia Tenggara.

Bill Drayton, pendiri Ashoka yang merupakan pencetus kata โ€˜changemakerโ€™ menambahkan, โ€œSebuah negara yang memiliki anak-anak muda yang mampu menggerakkan perubahan adalah negara yang tidak perlu khawatir akan laju perubahan dunia.โ€

[irp]

Ini Profilnya


  1. Hugo (17) Math for Humanity / Jakarta, DKI Jakarta


Mengorganisasi siswa berprestasi untuk mengajar Matematika dan Bahasa Inggris bagi anak-anak panti asuhan.

Sejak kecil, Hugo selalu merayakan ulang tahunnya di panti asuhan bersama orang tuanya. Ketika ia semakin besar, Hugo belajar bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit bagi teman-teman di panti asuhan yang membuat mereka menjauhi pelajaran tersebut. Didorong oleh semangatnya untuk mengubah stigma pelajaran Matematika, Hugo secara rutin berkunjung ke panti asuhan untuk membantu mereka belajar sejak tahun 2018. Selain itu, Hugo juga mengadakan les online dengan biaya yang terjangkau dimana seluruh biaya tersebut ia donasikan ke panti asuhan. Pada bulan Mei tahun 2020, Hugo memutuskan untung mengembangkan idenya ke dalam sebuah inisiatif โ€˜Math for Humanityโ€™ serta mengajak teman-temannya yang percaya pada misi yang sama untuk bergabung menjadi guru pengajar Matematika dan mengorganisir kegiatan amal. Hingga saat ini, Math for Humanity telah membantu 50 siswa dan menggalang dana lebih dari seratus juta rupiah, yang didonasikan untuk panti asuhan, panti jompo, hingga lembaga pendidikan bagi orang-orang dengan disabilitas. Hugo percaya bahwa prestasi siswa tidak hanya diukur melalui dari nilai atau jumlah medali Olimpiade, tetapi juga kontribusi yang bisa mereka berikan kepada masyarakat.


  1. Devy JS (19) Happy Place Indonesia / Bengkulu, Bengkulu


Mengadakan kelas minat bakat dan konseling bagi anak jalanan untuk membantu mewujudkan impian mereka.

Sejak di sekolah dasar, Devy menyadari bahwa ada anak-anak yang tinggal di sekitarnya yang tidak bisa bersekolah. Mereka harus mencari nafkah dengan berjualan koran, mengamen atau mengemis. Deby kerap membagikan catatan sekolah dan salinan bukunya sehingga anak-anak tersebut dapat belajar. Ketika masuk ke SMA, Devy semakin sadar dengan kesenjangan antara anak jalanan, anak yang tinggal di panti asuhan dan anak dengan disabilitas, yang tidak memiliki kesempatan yang sama dengan dirinya. Ia memutuskan untuk mencari solusi dengan cara membentuk Happy Place Indonesia bersama 21 temannya sebagai kelompok dukungan untuk anak-anak yang terpinggirkan untuk mengembangkan bakat dan minat mereka. Lewat Happy Place Indonesia, mereka mengadakan talkshow, kelas seni, peningkatan kapasitas, konseling kesehatan mental hingga membuat podcast bersama. Sekarang, ada lebih dari 1.000 anak-anak di Bengkulu dan 300 anak muda di seluruh Indonesia yang terdampak oleh komunitas Devy. Happy Place Indonesia berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti; Dinas Pariwisata, Forum Anak Propinsi Bengkulu dan Plan International Indonesia.


  1. Bhre BPK (10) Otis Community / Surabaya, Jawa Timur


Menciptakan masyarakat bebas sampah dengan mendaur ulang puntung rokok menjadi kerajinan tangan.

Bhre menyukai kesehariannya bermain sepak bola bersama di lapangan, tetapi ia resah dengan puntung rokok yang banyak berceceran. Setelah mengadakan riset bersama ayahnya, Bhre menjadi sadar bahwa puntung rokok adalah salah satu sumber limbah plastik terbesar yang berisiko tinggi untuk kesehatan serta lingkungan. Terpantik oleh hal ini, ia mengajak teman-temannya untuk membersihkan lapangan bola dengan mengumpulkan puntung rokok di akhir pekan. Bhre mengembangkan insiasi ini menjadi komunitas Otis, yang berarti โ€˜puntung rokokโ€™ dalam bahasa slang Surabaya. Mereka melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah tentang bahaya membuang sampah sembarangan, tak terkecuali desa- desa terdekat terutama pemilik cafe dan ibu-ibu rumah tangga untuk mengedukasi bagaimana cara membuang puntung rokok yang benar. Hingga saat ini, mereka sudah bekerjasama dengan 15 cafe lokal dan mengumpulkan 30,000 puntung rokok yang sudah disulap menjadi lebih dari 100 kerajinan tangan serta lukisan.


  1. Alya ZS (18) State of Youth Sukabumi / Sukabumi, Jawa Barat


Mendorong partisipasi anak muda yang berarti dalam advokasi SDG dan proses pengambilan keputusan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: