Topan Higibis dan Pengalaman Istimewa Melihat Jepang Hadapi Bencana

Klikhijau.com - Beberapa waktu yang lalu Jepang dilanda badai topan Higibis. Badai topan yang disebut-sebut sebagai badai terkuat sejak tahun 1958. Dan memang seperti itulah kenyataannya. Saat bada...

Topan Higibis dan Pengalaman Istimewa Melihat Jepang Hadapi Bencana
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Beberapa waktu yang lalu Jepang dilanda badai topan Higibis. Badai topan yang disebut-sebut sebagai badai terkuat sejak tahun 1958.

Dan memang seperti itulah kenyataannya. Saat badai itu terjadi kebetulan saya sedang berada di Jepang, tepatnya di dalam sebuah kampus di Kota Kanazawa, Ishikawa. Saya kebetulan mendapat kesempatan untuk merasakan atmosfer pendidikan dan riset di Jepang.

Meski bukan berada pada titik bencana yaitu negara Tokyo, namun dampak Topan Higibis pun dapat dirasakan di kota ini. Kanazawa mungkin agak sedikit beruntung dibandingkan Tokyo sebab tidak sampai mengalami tanah longsor dan banjir.

Topan Higibis yang begitu kencang hingga atap apartemen pun berguncang dengan hebat, kaca-kaca jendela berbunyi dengan kencang, sampai pula berdampak pada transportasi yang menjadi lumpuh.

Tapi inilah Jepang dengan kesigapan pemerintahnya dalam menghadapi bencana. Mulai dari menyediakan akses wifi gratis ketika listrik padam, hingga membuka swalayan lebih lama dari biasanya agar dapat memastikan bahwa seluruh penduduknya telah menyiapkan kebutuhan yang cukup saat badai tersebut datang.

Satu hal yang tak bisa terlupakan adalah saat anak-anak dari Topan higibis datang menyapa Kanazawa. Saat itu karena alasan pekerjaan di Laboratorium mengharuskan diri untuk tetap ke kampus.

Ya, memaksakan diri keluar rumah tanpa kendaraan pribadi dan saat berpapasan dengan anak-anak dari Topan Higibis membuat hati ini menjadi getar getir.

Mulai dari berpikir akan dibawa terbang bersama anak-anak Topan Higibis, hingga terpaksa harus berjalan kaki dari kampus yang letaknya cukup jauh dari apartemen.

Tentu saja karena informasi yang beredar bahwa kemungkinan tidak ada transportasi umum yang beroperasi hari itu. Dengan berbagai macam pemikiran aneh yang memenuhi di kepala ini, tetap saja tak menyurutkan langkah kaki untuk tetap berjalan keluar apartemen.

Keteladanan dari Jepang

Hari itu langit begitu pucat dan menampakkan kesedihannya. Seperti menyiratkan pesan bahwa anak-anak Topan Higibis akan datang menyapa. Beberapa kali, kaki ini rasanya ingin berjalan mundur, namun kembali teringat akan pepatah khas suku Bugis “sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”.

Maka tak terasa tampaklah halte dari kejauhan. 15 menit menunggu, tak satu pun bus yang nampak, namun anak-anak Topan Higibis sepertinya mulai memberikan salam dengan teratur satu persatu.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2